Definisi Angka Kematian Bayi
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi yang terjadi sebelum mencapai usia satu tahun per seribu kelahiran hidup dalam satu tahun kalender. AKB menjadi indikator penting untuk menilai kualitas layanan kesehatan pada masa nifas, ketersediaan dan aksesibilitas pelayanan persalinan, serta kondisi gizi dan sanitasi di suatu wilayah.
Menurut World Health Organization (WHO), AKB termasuk dalam indikator Sustainable Development Goals (SDG) 3.2 yang menargetkan penurunan kematian bayi menjadi tidak lebih dari 12 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2030.
Sejarah Perkembangan AKB di Indonesia
Pengukuran AKB di Indonesia dimulai secara sistematis pada era Reformasi dengan peluncuran Survei Demografi dan Kesehatan (SDK) pertama pada tahun 1990. Sejak saat itu, data AKB dipantau setiap lima tahun melalui SDK, Riskesdas, serta laporan Tahunan Kementerian Kesehatan.
Berikut rangkuman data AKB Indonesia dalam tiga dekade terakhir:
| Tahun | AKB (per 1.000 kelahiran hidup) |
|---|---|
| 1990 | 44,5 |
| 1995 | 38,2 |
| 2000 | 32,5 |
| 2005 | 27,1 |
| 2010 | 22,4 |
| 2015 | 19,5 |
| 2020 | 16,8 |
Penurunan yang konsisten menunjukkan perbaikan dalam layanan kebidanan, peningkatan imunisasi, dan program gizi ibu hamil.
Data AKB Nasional Tahun 2023
Menurut Statistik Kesehatan Indonesia 2023, nilai AKB nasional tercatat 15,6 per 1.000 kelahiran hidup. Namun, terdapat disparitas signifikan antar wilayah:
- Provinsi dengan AKB terendah: DKI Jakarta (9,2) dan Yogyakarta (9,8).
- Provinsi dengan AKB tertinggi: Nusa Tenggara Barat (28,4) dan Papua (27,9).
Faktor geografis, tingkat kemiskinan, serta ketersediaan fasilitas kesehatan menjadi penyumbang utama perbedaan ini.
Penyebab Utama Kematian Bayi
Berbagai studi menyoroti lima penyebab utama yang menyumbang lebih dari 70% total kematian bayi di Indonesia:
- Prematuritas dan komplikasi kelahiran prematur terutama pada ibu yang tidak menerima perawatan antenatal yang memadai.
- Infeksi neonatus sepsis, pneumonia, dan meningitis.
- Masalah napas asfiksia perinatal dan sindrom napas tidak beraturan.
- Kelainan kongenital cacat lahir utama yang tidak terdeteksi dini.
- Gizi buruk terutama pada bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.
Selain faktor medis, faktor sosialekonomi seperti kemiskinan, pendidikan ibu yang rendah, dan keterbatasan akses transportasi ke fasilitas kesehatan memperparah risiko.
Strategi Pengurangan AKB
Pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan sejumlah program strategis, antara lain:
- Program Bina Keluarga Sehat (BKS) menekankan kunjungan rumah, pemantauan kehamilan, dan edukasi gizi.
- Penguatan Sistem Kesehatan Primer peningkatan fasilitas Puskesmas, penyediaan bidan terlatih, dan penempatan tenaga medis di daerah tertinggal.
- Pelayanan Persalinan Aman penetapan Standar Operasional Prosedur (SOP) bagi tenaga persalinan, termasuk penggunaan partograph dan penanganan komplikasi darurat.
- Kampanye ASI Eksklusif program Indonesia Breastfeeding Friendly yang mendorong dukungan lingkungan kerja dan rumah.
- Imunisasi lengkap memastikan semua bayi mendapatkan vaksin BCG, Hepatitis B, DPTHibPolio, dan Hib.
Evaluasi internal Kemenkes 2022 menunjukkan penurunan AKB sebesar 1,2 per 1.000 kelahiran hidup setelah peluncuran program Bayi Selamat pada tahun 2019.
Peran Masyarakat Dalam Menurunkan AKB
Keberhasilan menurunkan AKB tidak dapat dicapai hanya dengan kebijakan pemerintah. Keterlibatan aktif masyarakat sangat penting. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
- Menjaga Kesehatan Ibu memeriksakan kehamilan secara rutin, mengonsumsi suplemen zat besi, dan menghindari faktor risiko seperti merokok.
- Memberikan ASI Eksklusif memberikan ASI murni selama 6 bulan pertama tanpa tambahan cairan lain.
- Mengikuti Jadwal Imunisasi memastikan bayi mendapatkan semua jenis vaksin tepat waktu.
- Menggunakan Layanan Kesehatan mengakses layanan persalinan di fasilitas yang memiliki tenaga bersertifikat.
- Edukasi dan Penyuluhan berbagi pengetahuan tentang tanda bahaya pada bayi, seperti demam tinggi atau napas cepat.
