Admin 23 May 2026 11:05

 

ASKEP Rabies

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Rabies Tinjauan Umum

Pendahuluan

Rabies adalah penyakit zoonosis akut yang menyerang sistem saraf pusat, disebabkan oleh virus rabies (Lyssavirus). Penyakit ini hampir selalu fatal setelah gejala klinis muncul, namun dapat dicegah secara efektif melalui vaksinasi dan penanganan luka gigitan yang tepat. Sebagai perawat, pemahaman tentang ASKEP (Asuhan Keperawatan) Rabies sangat penting untuk memberikan intervensi yang cepat, tepat, dan komprehensif, baik dalam konteks pencegahan maupun perawatan paliatif pada kasus yang sudah lanjut.

Poin Kunci: Rabies termasuk salah satu penyakit dengan angka kematian tertinggi di dunia, tetapi kematian dapat dicegah jika penanganan pasca pajanan (PEP) dilakukan segera. Peran perawat meliputi edukasi, manajemen luka, pemberian vaksin dan imunoglobulin, serta dukungan psikososial.

Definisi Rabies

Rabies adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies, anggota famili Rhabdoviridae, genus Lyssavirus. Virus ini ditularkan melalui saliva hewan yang terinfeksi, paling sering melalui gigitan, cakaran, atau paparan langsung pada mukosa atau luka terbuka. Masa inkubasi bervariasi antara 2 minggu hingga beberapa bulan, tergantung pada lokasi gigitan, jumlah virus yang masuk, dan daya tahan tubuh individu.

Pada manusia, rabies dikenal dalam dua bentuk klinis utama: rabies furious (bentuk ganas) dan rabies paralitik (bentuk diam). Keduanya berakhir dengan kematian bila tidak ditangani secara optimal sebelum gejala muncul.

Etiologi dan Penularan

Penyebab rabies adalah virus rabies yang termasuk dalam famili Rhabdoviridae. Virus ini berbentuk seperti peluru, mengandung RNA untai tunggal. Reservoar utama meliputi anjing (dominan di Asia dan Afrika), kelelawar, kucing, rakun, rubah, dan mamalia lainnya. Penularan terjadi melalui:

  • Gigitan hewan terinfeksi (penyebab utama >99% kasus manusia).
  • Cakaran atau luka terbuka yang terkontaminasi saliva atau jaringan saraf hewan rabies.
  • Paparan mukosa (mulut, hidung, mata) terhadap saliva hewan terinfeksi.
  • Sangat jarang: inhalasi aerosol di gua kelelawar atau transplantasi kornea dari donor yang terinfeksi.

Setelah masuk ke tubuh, virus bereplikasi di otot lokal, kemudian menjalar ke saraf perifer dan akhirnya menuju sistem saraf pusat. Proses ini menyebabkan ensefalomielitis yang berat dan biasanya ireversibel.

Patofisiologi

Virus rabies memasuki tubuh melalui luka atau mukosa. Virus kemudian bereplikasi secara lokal di sel otot dan jaringan ikat. Tahap replikasi awal ini berlangsung tanpa gejala (masa inkubasi). Selanjutnya, virus masuk ke ujung saraf motorik atau sensorik dan bergerak secara sentripetal melalui aksoplasma menuju sumsum tulang belakang dan otak. Kecepatan perjalanan virus diperkirakan sekitar 1224 mm per jam.

Setelah mencapai sistem saraf pusat, virus menyebar dengan cepat dan menyebabkan inflamasi, nekrosis, serta disfungsi neuron. Manifestasi klinis muncul sebagai akibat dari infeksi di batang otak, sistem limbik, dan korteks serebri. Dari otak, virus menyebar secara sentrifugal ke berbagai organ, termasuk kelenjar ludah, sehingga saliva menjadi infektif. Kematian biasanya disebabkan oleh gagal napas akibat kelumpuhan otot pernapasan atau disfungsi batang otak yang progresif.

Manifestasi Klinis

Gejala rabies dapat dibagi dalam beberapa stadium, meskipun tidak selalu berurutan:

1. Stadium Prodromal (14 hari)

  • Demam, malaise, sakit kepala, anoreksia, nausea.
  • Parestesia atau nyeri di sekitar lokasi gigitan.
  • Rasa cemas, gelisah, insomnia, dan iritabilitas.

2. Stadium Eksitasi / Neurologis (27 hari)

  • Hidrofobia (takut air) spasme faring dan laring saat mencoba menelan.
  • Aerofobia (takut angin) kontraksi otot faring akibat hembusan udara.
  • Hipersalivasi, lakrimasi, dan berkeringat.
  • Hiperaktivitas, agitasi, halusinasi, dan kejang.
  • Pada bentuk furious: perilaku agresif, disorientasi, dan mania.

3. Stadium Paralitik / Terminal (24 hari hingga kematian)

  • Kelumpuhan otot-otot wajah, faring, dan ekstremitas.
  • Koma, hipotensi, dan henti napas.
  • Kematian biasanya terjadi akibat gagal napas sentral atau komplikasi sekunder.

Pada rabies paralitik, gejala eksitasi minimal atau tidak ada; yang menonjol adalah kelemahan otot progresif, paralisis asenden, dan akhirnya koma. Bentuk ini sering salah didiagnosis sebagai sindrom Guillain-Barr.

Diagnosis

Diagnosis rabies ditegakkan berdasarkan anamnesis (riwayat gigitan hewan, pajanan), gejala klinis khas (hidrofobia, aerofobia), dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium. Pada pasien hidup, diagnosis dapat dilakukan melalui:

  • Deteksi antigen virus pada biopsi kulit (leher, nukkus) atau apusan kornea menggunakan imunofluoresensi langsung (FAT).
  • Deteksi RNA virus dengan reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) pada saliva, air liur, cairan serebrospinal, atau biopsi otak.
  • Serologi: deteksi antibodi rabies pada serum atau CSF (berguna pada pasien yang sudah divaksinasi).

Pada hewan atau post-mortem, pemeriksaan otak (terutama hipokampus, serebelum, dan batang otak) dengan FAT atau histopatologi (negri bodies) adalah standar emas.

Penatalaksanaan Medis

Setelah pajanan, langkah kritis adalah profilaksis pasca pajanan (PEP) yang terdiri dari:

  1. Perawatan luka segera: Cuci luka gigitan dengan sabun atau deterjen di bawah air mengalir selama 15 menit. Bilas dan bersihkan luka dengan povidone iodine atau antiseptik lain. Tidak dianjurkan menjahit luka kecuali sangat diperlukan, dan jika dijahit harus longgar.
  2. Pemberian vaksin rabies: Vaksin rabies sel vero (PVCV) atau vaksin saraf tikus (DEV) diberikan pada hari ke-0, 3, 7, 14, dan 28 (regimen Essen) atau pada hari ke-0, 3, 7, 21 (regimen Zagreb).
  3. Pemberian imunoglobulin rabies (RIG): Diberikan pada luka gigitan kategori III (luka tembus, mukosa, atau luka berat) dan pada pasien imunokompromais. RIG diberikan 20 IU/kg (imunoglobulin heterolog) atau 2040 IU/kg (imunoglobulin homolog), diinfiltrasi di sekitar luka dan sebagian intramuskular.

Setelah gejala klinis muncul, pengobatan hanya bersifat paliatif dan suportif karena rabies hampir selalu fatal. Beberapa protokol eksperimental seperti Milwaukee Protocol pernah dicoba, tetapi tingkat keberhasilannya sangat rendah dan kontroversial.

Asuhan Keperawatan (ASKEP) Rabies

Asuhan keperawatan pada pasien rabies mencakup aspek pencegahan (PEP) dan perawatan paliatif pada kasus simptomatik. Peran perawat sangat vital dalam setiap tahap.

1. Pengkajian (Assessment)

Data yang perlu dikaji meliputi:

  • Identitas pasien: usia, jenis kelamin, alamat, pekerjaan.
  • Riwayat pajanan: jenis hewan, lokasi gigitan/cakaran, kedalaman luka, ada tidaknya kontak mukosa, waktu kejadian.
  • Riwayat vaksinasi rabies sebelumnya.
  • Gejala klinis: demam, nyeri, parestesia, hidrofobia, aerofobia, agitasi, kelemahan otot, gangguan menelan, kesadaran.
  • Status luka: ukuran, kedalaman, ada jaringan nekrotik, infeksi sekunder.
  • Psikososial: kecemasan, kepanikan, pengetahuan pasien dan keluarga tentang rabies.

2. Diagnosa Keperawatan (Nursing Diagnosis)

Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan rabies (tergantung fase):

No. Diagnosa Keperawatan (SDKI) Fase / Kondisi
1 Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan spasme faring/laring, hipersalivasi Stadium eksitasi / terminal
2 Gangguan menelan berhubungan dengan disfagia, hidrofobia Stadium eksitasi
3 Risiko cedera berhubungan dengan agitasi, kejang, halusinasi Stadium eksitasi
4 Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan otot, paralisis Stadium paralitik / terminal
5 Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian, kurang pengetahuan Semua fase (terutama prodromal / reaksi psikologis)
6 Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi pada SSP Stadium prodromal / eksitasi
7 Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan kelumpuhan otot pernapasan Stadium terminal
8 Kurang pengetahuan (keluarga) tentang pencegahan dan penularan rabies Semua fase (pencegahan)

3. Intervensi Keperawatan (Nursing Intervention)

Intervensi keperawatan disesuaikan dengan diagnosa dan fase penyakit. Berikut adalah intervensi umum:

a. Manajemen Jalan Napas dan Pernapasan

  • Posisikan pasien semi-Fowler atau lateral untuk mengurangi risiko aspirasi.
  • Lakukan suction jika perlu, terutama pada pasien dengan hipersalivasi berat.
  • Observasi tanda-tanda obstruksi jalan napas (stridor, retraksi, sianosis).
  • Siapkan alat resusitasi dan oksigenasi; kolaborasi untuk intubasi atau trakeostomi jika diperlukan.

b. Manajemen Disfagia dan Hidrofobia

  • Hindari stimulasi yang memicu spasme faring (air, suara air, hembusan angin).
  • Berikan makanan lunak atau cairan melalui jalur alternatif (NGT/OGT) jika disfagia berat.
  • Jaga kebersihan mulut; gunakan obat antikolinergik (misal, atropin) sesuai advis dokter untuk mengurangi salivasi.

c. Manajemen Keamanan dan Kejang

  • Pasang side rail dan bantalan pelindung di tempat tidur.
  • Kurangi stimulus lingkungan: redupkan lampu, kurangi kebisingan, batasi pengunjung.
  • Kolaborasi pemberian sedatif (benzodiazepin) dan antikonvulsan sesuai program.
  • Awasi tanda-tanda kejang dan lakukan penanganan kejang standar.

d. Manajemen Hipertermia

  • Monitor suhu tubuh setiap 24 jam.
  • Berikan kompres hangat, gunakan kipas (hindari langsung ke wajah karena aerofobia).
  • Kolaborasi pemberian antipiretik (parasetamol) sesuai indikasi.

e. Dukungan Psikososial dan Edukasi

  • Berikan penjelasan dengan tenang dan jujur tentang kondisi pasien dan rencana tindakan.
  • Libatkan keluarga dalam perawatan; bantu mereka mengelola kecemasan dan duka.
  • Edukasi tentang pencegahan rabies: vaksinasi hewan peliharaan, menghindari kontak dengan hewan liar, penanganan luka gigitan yang benar.
  • Pada kasus terminal, berikan dukungan spiritual dan fasilitasi kebutuhan pasien dan keluarga.

4. Implementasi dan Evaluasi

Implementasi dilakukan sesuai intervensi yang telah direncanakan. Evaluasi keperawatan dilakukan secara berkesinambungan meliputi:

  • Status jalan napas dan pernapasan (frekuensi, irama, saturasi oksigen, ada tidaknya obstruksi).
  • Kemampuan menelan dan asupan nutrisi/cairan.
  • Tingkat agitasi, frekuensi kejang, dan kesadaran (GCS).
  • Suhu tubuh dan tanda-tanda infeksi.
  • Respons psikologis pasien dan keluarga; tingkat kecemasan dan pemahaman.
  • Integritas luka gigitan dan tanda-tanda infeksi lokal.

Catatan: Pada rabies simptomatik, tujuan keperawatan bergeser ke arah paliatif mempertahankan kenyamanan, martabat, dan mengurangi penderitaan hingga akhir hayat.

Pencegahan Rabies

Pencegahan adalah kunci utama dalam pengendalian rabies. Peran perawat dalam edukasi dan promosi kesehatan meliputi:

  • Vaksinasi rutin pada anjing, kucing, dan hewan peliharaan lainnya.
  • Menghindari kontak dengan hewan liar atau hewan yang tidak dikenal.
  • Penanganan luka gigitan yang benar: cuci segera dengan sabun dan air mengalir, antiseptik, dan segera ke fasilitas kesehatan untuk PEP.
  • Edukasi kepada komunitas tentang pentingnya PEP dan tidak menggunakan pengobatan tradisional yang tidak terbukti.
  • Melaporkan kasus gigitan hewan ke puskesmas atau dinas peternakan setempat.

Komplikasi

Pada rabies yang sudah simptomatik, komplikasi meliputi:

  • Gagal napas sentral akibat kerusakan batang otak.
  • Pneumonia aspirasi karena disfagia dan spasme faring.
  • Kejang berulang dan status epileptikus.
  • Infeksi sekunder pada luka gigitan.
  • Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit karena kesulitan minum.
  • Kematian (hampir 100% pada kasus simptomatik).

Prognosis

Setelah gejala klinis rabies muncul, prognosis sangat buruk hampir selalu fatal dalam 714 hari meskipun dengan perawatan intensif. Hanya sedikit kasus yang dilaporkan selamat, sebagian besar dengan defisit neurologis berat. Sebaliknya, prognosis sangat baik jika PEP diberikan segera dan tepat setelah pajanan, sebelum virus mencapai sistem saraf pusat.

Kesimpulan

Rabies adalah penyakit zoonosis yang mematikan namun dapat dicegah. ASKEP rabies mencakup pendekatan komprehensif mulai dari pengkajian, diagnosa, intervensi, hingga evaluasi, dengan penekanan pada pencegahan melalui profilaksis pasca pajanan dan edukasi masyarakat. Pada pasien dengan rabies simptomatik, peran perawat bergeser pada perawatan paliatif yang humanis, menjaga kenyamanan, dan mendukung keluarga. Pengetahuan yang kuat tentang patofisiologi, manifestasi klinis, dan tatalaksana keperawatan rabies sangat penting bagi setiap perawat untuk memberikan asuhan yang aman, efektif, dan penuh kasih.

Pesan utama: Gigitan hewan bukanlah akhir dari segalanya tindakan cepat, tepat, dan ilmiah (PEP) dapat menyelamatkan nyawa. Sebagai perawat, kita adalah garda terdepan dalam edukasi, penanganan luka, dan advokasi kesehatan masyarakat untuk eliminasi rabies.

Referensi

  • Kemenkes RI. (2020). Pedoman Pengendalian Rabies di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
  • WHO. (2018). Rabies: Fact Sheet. World Health Organization.
  • SDKI, SIKI, SLKI. (2019). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia, Standar Intervensi Keperawatan Indonesia, Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
  • Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2017). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth. Jakarta: EGC.
  • Rupprecht, C. E., & Salahuddin, N. (2019). Current status of human rabies therapeutics. International Journal of Infectious Diseases, 88, 104109.
```

File Referensi Untuk ASKEP RABIES
Screenshoot
Nama File
ASKEP RABIES.docx

Ukuran File
0.02 MB

Tipe File
DOCX

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk ASKEP RABIES. Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.

Apa Itu Gambaran dan Link Download File Referensi

Apa Itu Kesehatan dan Link Download File Referensi

Transect_begin_decimal_latitude and Reference File Download Link

Gas Mulia dan Link Download File Referensi

Properti Investasi dan Link Download File Referensi