Retensio plasenta atau penahanan plasenta merupakan komplikasi obstetri yang terjadi ketika plasenta tidak dapat dikeluarkan secara lengkap setelah bayi lahir. Kondisi ini dapat menimbulkan perdarahan berat, infeksi, dan kegagalan fungsi organ bila tidak diatasi dengan cepat. Kebidanan berperan penting dalam identifikasi, penanganan, serta pemberian asuhan yang komprehensif kepada ibu bersalin dengan retensio plasenta.
Retensio plasenta didefinisikan sebagai kegagalan pengeluaran seluruh bagian plasenta dalam waktu 30 menit setelah lahirnya bayi (retensio parsial) atau tidak adanya pengeluaran plasenta sama sekali (retensio total). Faktorfaktor risiko meliputi:
Setelah persalinan, bidan harus memerhatikan beberapa tanda yang menunjukkan retensio plasenta:
Penilaian harus dilakukan secara sistematis:
Intervensi utama dalam retensio plasnta adalah mengeluarkan plasenta yang tertahan dan menghentikan perdarahan. Berikut langkahlangkahnya:
Memijat uterus dari fundus ke arah serviks dapat meningkatkan kontraksi dan membantu menekan plasenta ke luar. Lakukan dengan lembut namun tegas.
Jika uterus masih relaks, berikan oksitosin (10IU intravena atau intramuskular) atau methergine (0,2mg IM). Hindari penggunaan obat yang dapat menurunkan tonus uterus.
Setelah uterus terasa kencang, lakukan pemeriksaan manual dengan kedua tangan: satu tangan menahan fundus, tangan lainnya meraba fundus secara perlahan untuk menemukan bagian plasenta yang menempel. Jika ditemukan, tangkap dengan hatihati dan tarik secara perlahan.
Jika upaya manual tidak berhasil dalam 1015menit atau terjadi perdarahan berat (> 500ml), segera persiapkan tindakan operasi (curettage atau histerektomi) dengan tim medis.
Berikan profilaksis antibiotik spektrum luas (misalnya cefazolin 1g IV) setelah plasenta berhasil dikeluarkan.
Setelah berhasil mengatasi retensio plasenta, asuhan kebidanan tetap penting untuk mencegah komplikasi lanjutan:
Pengetahuan keluarga sangat mempengaruhi kepatuhan ibu terhadap perawatan pasca persalinan. Halhal yang perlu disampaikan:
Jika selama penanganan muncul keadaan darurat, bidan harus:
Retensio plasenta merupakan komplikasi yang menuntut penanganan cepat dan terkoordinasi antara bidan, dokter, serta tim kesehatan lainnya. Asuhan kebidanan yang tepatmulai dari identifikasi dini, manuver uterine massage, penggunaan uterotonik, hingga penanganan perdarahandapat menyelamatkan nyawa ibu dan mengurangi morbiditas. Edukasi berkelanjutan kepada ibu dan keluarga serta pemantauan pasca persalinan yang cermat menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.
Ingat, setiap menit keterlambatan dapat meningkatkan risiko perdarahan berat dan komplikasi serius. Oleh karena itu, kecepatan, ketepatan, dan kerja tim sangat penting dalam mengelola retensio plasenta.
