ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. S G P UK 39/40 MGG II 10001 DENGAN INPARTU KALA I FASE AKTIF dan Link Download File Referensi
2026-05-23 02:45:07 - Admin
<style> * { margin: 0; padding: 0; box-sizing: border-box; } body { font-family: 'Segoe UI', Tahoma, Geneva, Verdana, sans-serif; background-color: #f7fafc; color: #2d3748; line-height: 1.8; padding: 0; } .container { max-width: 960px; margin: 0 auto; padding: 40px 24px 60px; } .header-title { text-align: center; margin-bottom: 40px; padding-bottom: 24px; border-bottom: 3px solid #3182ce; } .header-title h1 { font-size: 28px; font-weight: 700; color: #1a202c; letter-spacing: 0.5px; line-height: 1.4; } .header-title p { font-size: 15px; color: #4a5568; margin-top: 10px; font-style: italic; } .card { background-color: #ffffff; border-radius: 12px; box-shadow: 0 4px 20px rgba(0, 0, 0, 0.06); padding: 32px 36px; margin-bottom: 32px; border: 1px solid #e2e8f0; } .card h2 { font-size: 22px; font-weight: 600; color: #1a202c; margin-bottom: 16px; padding-bottom: 8px; border-bottom: 2px solid #bee3f8; } .card h3 { font-size: 18px; font-weight: 600; color: #2b6cb0; margin-top: 24px; margin-bottom: 10px; } .card h4 { font-size: 16px; font-weight: 600; color: #2d3748; margin-top: 18px; margin-bottom: 6px; } .card p { font-size: 16px; margin-bottom: 14px; text-align: justify; } .card ul, .card ol { margin: 10px 0 16px 28px; } .card li { font-size: 16px; margin-bottom: 6px; text-align: justify; } .highlight-box { background-color: #ebf8ff; border-left: 5px solid #3182ce; padding: 16px 20px; border-radius: 6px; margin: 18px 0; } .highlight-box p { margin-bottom: 0; } .table-wrap { overflow-x: auto; margin: 16px 0; } table { width: 100%; border-collapse: collapse; font-size: 15px; } table th { background-color: #3182ce; color: #ffffff; padding: 10px 14px; text-align: left; font-weight: 600; } table td { padding: 10px 14px; border-bottom: 1px solid #e2e8f0; vertical-align: top; } table tr:nth-child(even) { background-color: #f7fafc; } .separator { height: 1px; background: linear-gradient(to right, transparent, #cbd5e0, transparent); margin: 20px 0; } .small-note { font-size: 14px; color: #4a5568; background-color: #edf2f7; padding: 8px 14px; border-radius: 6px; margin-top: 8px; } @media (max-width: 640px) { .container { padding: 20px 14px 40px; } .card { padding: 20px 16px; } .header-title h1 { font-size: 20px; } .card h2 { font-size: 18px; } .card p, .card li { font-size: 15px; } table th, table td { padding: 8px 10px; font-size: 14px; } } </style><body> <div class="container"> <!-- HEADER --> <div class="header-title"> <h1>Asuhan Kebidanan pada Ny. S G P UK 39/40 MGG II 10001<br>dengan Inpartu Kala I Fase Aktif</h1> <p>Pembahasan komprehensif berbasis evidence-based practice dalam pelayanan kebidanan intranatal</p> </div> <!-- PENDAHULUAN --> <div class="card"> <h2>1. Pendahuluan</h2> <p>Persalinan merupakan proses fisiologis yang dialami oleh setiap wanita hamil pada akhir masa kehamilannya. Proses persalinan dimulai dengan adanya kontraksi uterus yang teratur dan progresif, disertai dengan pembukaan serviks dan penurunan bagian terbawah janin. Inpartu adalah keadaan dimana seorang ibu hamil berada dalam proses persalinan yang ditandai dengan adanya kontraksi yang mengakibatkan perubahan pada serviks.</p> <p>Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi yang teratur hingga pembukaan serviks mencapai lengkap (10 cm). Kala I dibagi menjadi dua fase, yaitu fase laten dan fase aktif. Fase aktif ditandai dengan pembukaan serviks yang lebih cepat, umumnya dari 4 cm hingga 10 cm, dengan kecepatan pembukaan minimal 1 cm per jam pada primigravida dan lebih dari 1 cm per jam pada multigravida.</p> <p>Ny. S adalah seorang ibu dengan status obstetri G P (gestasi 1, para 0) atau dapat pula diinterpretasikan sesuai kode 10001 yang menunjukkan riwayat obstetri tertentu. Usia kehamilan 3940 minggu menandakan kehamilan aterm. Penanganan yang tepat pada kala I fase aktif sangat menentukan luaran persalinan yang aman bagi ibu dan janin. Asuhan kebidanan yang komprehensif, berbasis bukti, dan berpusat pada ibu menjadi kunci utama dalam memberikan pelayanan yang berkualitas.</p> </div> <!-- TINJAUAN TEORI --> <div class="card"> <h2>2. Tinjauan Teori Inpartu Kala I Fase Aktif</h2> <h3>2.1 Definisi dan Batasan</h3> <p>Inpartu adalah kondisi dimana ibu hamil mengalami kontraksi uterus yang teratur dan adekuat, yang menyebabkan pendataran (effacement) dan pembukaan (dilatasi) serviks, serta penurunan presentasi janin. Persalinan kala I dimulai dari awal kontraksi yang teratur sampai pembukaan serviks lengkap.</p> <p>Fase aktif adalah fase percepatan pembukaan serviks, dimulai dari pembukaan 4 cm hingga 10 cm. Pada fase ini, kontraksi menjadi lebih kuat, lebih sering, dan lebih teratur. Durasi fase aktif pada primigravida rata-rata 48 jam, sedangkan pada multigravida 36 jam. Kecepatan pembukaan serviks pada fase aktif minimal 1 cm per jam.</p> <h3>2.2 Mekanisme Persalinan Kala I</h3> <p>Proses persalinan kala I melibatkan tiga komponen utama, yaitu:</p> <ul> <li><strong>Kekuatan (power):</strong> Kontraksi uterus yang involunter, teratur, dan adekuat. Kontraksi menyebabkan pendataran dan pembukaan serviks, serta mendorong janin turun ke panggul.</li> <li><strong>Jalur lahir (passage):</strong> Panggul ibu, baik panggul tulang maupun jaringan lunak, yang harus cukup luas untuk dilewati janin.</li> <li><strong>Penumpang (passenger):</strong> Janin beserta plasenta dan selaput ketuban. Presentasi, posisi, sikap, dan ukuran janin memengaruhi kemajuan persalinan.</li> </ul> <p>Selain itu, faktor psikologis ibu dan dukungan pendamping persalinan juga berperan penting dalam kelancaran proses persalinan.</p> <h3>2.3 Tanda dan Gejala Inpartu Kala I Fase Aktif</h3> <p>Beberapa tanda klinis yang ditemukan pada ibu inpartu kala I fase aktif antara lain:</p> <ul> <li>Kontraksi uterus yang teratur, frekuensi 35 kali dalam 10 menit, durasi 4060 detik, dengan intensitas sedang hingga kuat.</li> <li>Pembukaan serviks 410 cm dengan pendataran serviks mencapai 100% pada akhir kala I.</li> <li>Penurunan bagian terbawah janin (head station) yang progresif, umumnya pada spina iskiadika atau di bawahnya.</li> <li>Ketuban dapat pecah spontan atau masih utuh.</li> <li>Ibu merasa nyeri atau mules yang semakin kuat dan sering, disertai rasa ingin mengejan pada akhir kala I.</li> </ul> <div class="highlight-box"> <p><strong>Catatan penting:</strong> Pemantauan kemajuan persalinan menggunakan partograf sangat dianjurkan untuk mendeteksi dini adanya penyimpangan dari persalinan normal. Partograf mencatat pembukaan serviks, penurunan kepala janin, kontraksi uterus, denyut jantung janin, dan parameter vital lainnya.</p> </div> </div> <!-- KASUS NY. S --> <div class="card"> <h2>3. Gambaran Kasus Ny. S</h2> <h3>3.1 Status Obstetri</h3> <p>Ny. S dengan status obstetri <strong>G P UK 39/40 MGG II 10001</strong> mengandung arti:</p> <ul> <li><strong>G = Gravida</strong> : Kehamilan ke-1 (primigravida) atau ke-2 tergantung interpretasi, namun pada konteks ini menunjukkan ibu hamil dengan riwayat obstetri tertentu. Angka 10001 menunjukkan riwayat: 1 kehamilan, 0 persalinan aterm, 0 persalinan prematur, 0 abortus, dan 1 anak hidup.</li> <li><strong>P = Para</strong> : Jumlah anak yang pernah dilahirkan dengan usia kehamilan di atas 28 minggu. Pada kode 10001, para = 0 atau 1 tergantung sistem pencatatan.</li> <li><strong>UK 39/40 MGG</strong> : Usia kehamilan 3940 minggu (aterm).</li> <li><strong>II</strong> : Menunjukkan anak kedua atau gravida kedua.</li> <li><strong>10001</strong> : Kode singkat untuk riwayat obstetri (jumlah kehamilan, persalinan aterm, prematur, abortus, anak hidup).</li> </ul> <h3>3.2 Anamnesis dan Data Subjektif</h3> <p>Pada kasus ini, Ny. S datang dengan keluhan utama kenceng-kenceng teratur sejak 6 jam yang lalu. Frekuensi kontraksi 4 kali dalam 10 menit dengan durasi 45 detik. Ibu merasakan nyeri pada perut bagian bawah yang menjalar ke pinggang. Ibu juga melaporkan adanya pengeluaran lendir bercampur darah (show) dan ketuban belum pecah. Ibu merasa cemas dan khawatir menghadapi proses persalinan karena ini adalah pengalaman pertamanya (primigravida) atau dengan riwayat obstetri tertentu.</p> <p>Riwayat kehamilan: ANC teratur 6 kali di puskesmas, imunisasi TT lengkap, tidak ada keluhan berarti selama hamil. Riwayat penyakit sistemik disangkal.</p> <h3>3.3 Data Objektif dan Pemeriksaan Fisik</h3> <ul> <li><strong>Keadaan umum:</strong> Baik, kesadaran compos mentis, skor nyeri 6/10 (skala numerik).</li> <li><strong>Tanda vital:</strong> Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 88 kali/menit, suhu 36,8 C, pernapasan 22 kali/menit.</li> <li><strong>Pemeriksaan abdomen (Leopold):</strong> Leopold I: TFU 36 cm, teraba bokong (punggung kiri). Leopold II: Punggung janin di sisi kiri, bagian kecil di sisi kanan. Leopold III: Presentasi kepala, sudah masuk pintu atas panggul. Leopold IV: Divergen (kepala sudah masuk PAP).</li> <li><strong>Kontraksi:</strong> 4 kali/10 menit, durasi 45 detik, intensitas sedang.</li> <li><strong>Denyut jantung janin:</strong> 142 kali/menit, teratur.</li> <li><strong>Pemeriksaan dalam (VT):</strong> Vulva vagina tidak ada kelainan, portio lunak, pembukaan 5 cm, effacement 75%, ketuban utuh, presentasi kepala, UUK kiri depan, hodge III, tidak ada tali pusat teraba.</li> </ul> </div> <!-- DIAGNOSIS DAN MASALAH --> <div class="card"> <h2>4. Diagnosis dan Masalah Kebidanan</h2> <h3>4.1 Diagnosis Kebidanan</h3> <p>Berdasarkan data subjektif dan objektif, ditegakkan diagnosis sebagai berikut:</p> <div class="highlight-box"> <p><strong>Ny. S, G P0 UK 39/40 minggu, janin tunggal hidup intrauterin, presentasi kepala, inpartu kala I fase aktif.</strong></p> </div> <p>Diagnosis ini didukung oleh adanya kontraksi teratur, pembukaan serviks 5 cm, penurunan kepala janin yang progresif, serta tanda-tanda persalinan aktif lainnya.</p> <h3>4.2 Masalah yang Muncul</h3> <ul> <li><strong>Nyeri persalinan:</strong> Skala nyeri sedang hingga berat, memerlukan manajemen nyeri farmakologis maupun non-farmakologis.</li> <li><strong>Kecemasan:</strong> Ibu merasa khawatir terhadap proses persalinan dan keselamatan bayinya, terutama karena ini adalah pengalaman melahirkan pertama.</li> <li><strong>Kebutuhan dukungan:</strong> Ibu membutuhkan pendamping persalinan (suami/keluarga) dan komunikasi terapeutik yang efektif.</li> <li><strong>Resiko dehidrasi dan kelelahan:</strong> Karena kontraksi terus-menerus, ibu berisiko mengalami dehidrasi dan kelelahan jika asupan cairan dan energi tidak terpenuhi.</li> </ul> <h3>4.3 Kebutuhan Segera</h3> <ul> <li>Pemantauan kemajuan persalinan dengan partograf.</li> <li>Manajemen nyeri non-farmakologis (teknik relaksasi, massase, posisi yang nyaman, kompres hangat).</li> <li>Dukungan emosional dan informasi tentang proses persalinan.</li> <li>Pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi ringan.</li> <li>Persiapan persalinan dan pendampingan.</li> </ul> </div> <!-- RENCANA ASUHAN --> <div class="card"> <h2>5. Rencana Asuhan Kebidanan</h2> <p>Rencana asuhan disusun berdasarkan diagnosis dan masalah yang telah diidentifikasi, dengan prinsip continuity of care, aman, dan berbasis bukti.</p> <h3>5.1 Tujuan Asuhan</h3> <ul> <li><strong>Tujuan umum:</strong> Persalinan kala I fase aktif berlangsung normal, ibu dan janin dalam kondisi sehat, serta ibu siap menghadapi kala II.</li> <li><strong>Tujuan khusus:</strong></li> <ul> <li>Kontraksi uterus adekuat dan kemajuan persalinan sesuai kurva partograf normal.</li> <li>Nyeri persalinan terkendali dengan skala nyeri menurun.</li> <li>Kecemasan ibu berkurang, ibu merasa tenang dan percaya diri.</li> <li>Kebutuhan cairan dan nutrisi terpenuhi.</li> <li>Denyut jantung janin dalam batas normal (120160 kali/menit).</li> </ul> </ul> <h3>5.2 Intervensi Utama</h3> <ol> <li><strong>Pemantauan ketat dengan partograf:</strong> Catat pembukaan serviks setiap 4 jam, penurunan kepala janin, kontraksi, DJJ, dan tanda vital. Evaluasi kemajuan persalinan secara berkala.</li> <li><strong>Manajemen nyeri non-farmakologis:</strong> Anjurkan teknik napas dalam (relaksasi) saat kontraksi, berikan kompres hangat pada punggung bawah, bantu ibu menemukan posisi yang nyaman (berdiri, duduk, atau miring), dan lakukan massase ringan pada area yang tegang.</li> <li><strong>Dukungan emosional dan edukasi:</strong> Berikan penjelasan tentang tahapan persalinan, ajak ibu untuk rileks, libatkan suami atau keluarga sebagai pendamping, dan gunakan komunikasi terapeutik yang menghibur dan meyakinkan.</li> <li><strong>Pemenuhan kebutuhan dasar:</strong> Anjurkan ibu minum air putih secara teratur, berikan makanan ringan (biskuit, roti) jika ibu mau, dan bantu ibu untuk berkemih setiap 2 jam untuk mencegah distensi kandung kemih.</li> <li><strong>Persiapan kala II:</strong> Siapkan ruang bersalin, peralatan, dan obat-obatan esensial. Informasikan ibu tentang tanda-tanda ingin mengejan dan kapan harus mendorong.</li> </ol> <div class="table-wrap"> <table> <thead> <tr> <th>No</th> <th>Masalah</th> <th>Intervensi</th> <th>Kriteria Hasil</th> </tr> </thead> <tbody> <tr> <td>1</td> <td>Nyeri persalinan</td> <td>Relaksasi napas, kompres hangat, posisi nyaman, massase</td> <td>Skala nyeri turun menjadi 34/10</td> </tr> <tr> <td>2</td> <td>Kecemasan</td> <td>Edukasi, dukungan emosional, libatkan pendamping</td> <td>Ibu tampak lebih tenang, kooperatif</td> </tr> <tr> <td>3</td> <td>Resiko dehidrasi</td> <td>Anjurkan minum, monitor tanda vital dan produksi urine</td> <td>Mukosa bibir lembab, urine jernih</td> </tr> <tr> <td>4</td> <td>Kemajuan persalinan</td> <td>Pantau partograf, VT setiap 4 jam</td> <td>Pembukaan ≥1 cm/jam, DJJ normal</td> </tr> </tbody> </table> </div> </div> <!-- IMPLEMENTASI --> <div class="card"> <h2>6. Implementasi Asuhan</h2> <p>Pelaksanaan asuhan dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sesuai kondisi ibu. Berikut adalah langkah-langkah implementasi yang dilakukan:</p> <h3>6.1 Tahap Awal (Penerimaan dan Orientasi)</h3> <p>Bidan menyambut ibu dan keluarga dengan ramah, memperkenalkan diri, menjelaskan proses persalinan yang akan dijalani, dan menginformasikan rencana asuhan. Ibu dipersilakan untuk mengatur posisi senyaman mungkin. Suami atau pendamping diizinkan untuk menemaninya.</p> <h3>6.2 Pemantauan dan Dokumentasi</h3> <p>Partograf diisi dan diperbarui setiap jam. Kontraksi dinilai setiap 30 menit, DJJ diperiksa setiap 1530 menit, dan tekanan darah serta nadi dipantau setiap 2 jam. Pembukaan serviks diperiksa setiap 4 jam atau jika ada indikasi. Hasil pemantauan dicatat secara lengkap dan akurat.</p> <h3>6.3 Manajemen Nyeri dan Kenyamanan</h3> <p>Ibu diajarkan teknik napas dalam: tarik napas melalui hidung perlahan, tahan sejenak, lalu hembuskan melalui mulut. Kompres hangat diberikan di punggung bawah saat kontraksi. Ibu dibantu untuk mengubah posisi setiap 3060 menit: posisi miring kiri, duduk tegak, atau berdiri sambil berpegangan pada bahu suami. Massase ringan dilakukan pada bahu dan punggung.</p> <h3>6.4 Dukungan Emosional dan Informasi</h3> <p>Bidan memberikan pujian atas usaha ibu, menjelaskan setiap temuan pemeriksaan dengan bahasa yang mudah dipahami, dan menjawab pertanyaan ibu dan keluarga dengan sabar. Ibu diberitahu tentang perkembangan pembukaan dan penurunan kepala bayi. Kehadiran pendamping sangat membantu mengurangi kecemasan.</p> <h3>6.5 Pemenuhan Cairan dan Nutrisi</h3> <p>Ibu dianjurkan minum air putih setiap 1520 menit sebanyak 23 teguk. Jika ibu lapar, diberikan biskuit atau roti. Ibu juga dibantu untuk berkemih secara teratur. Kandung kemih yang kosong membantu kelancaran penurunan kepala janin dan kontraksi uterus.</p> <h3>6.6 Persiapan Menjelang Kala II</h3> <p>Ketika pembukaan mendekati lengkap, bidan menginformasikan tanda-tanda ingin mengejan (rasa seperti ingin BAB, tekanan pada rektum, dan perineum menonjol). Peralatan persalinan disiapkan, dan ibu dipersilakan untuk mulai mengejan secara spontan saat kontraksi tiba, dengan bimbingan bidan.</p> </div> <!-- EVALUASI --> <div class="card"> <h2>7. Evaluasi dan Outcome</h2> <p>Setelah menjalani asuhan selama 4 jam di ruang bersalin, dilakukan evaluasi untuk menilai efektivitas intervensi.</p> <h3>7.1 Evaluasi Subjektif</h3> <p>Ibu mengatakan nyeri masih terasa namun sudah lebih ringan (skala 4/10). Ibu merasa lebih tenang dan percaya diri. Ibu bersedia untuk terus melanjutkan proses persalinan dengan dukungan bidan dan suami.</p> <h3>7.2 Evaluasi Objektif</h3> <ul> <li>Kontraksi: 5 kali/10 menit, durasi 55 detik, intensitas kuat.</li> <li>Pembukaan serviks: 8 cm, effacement 100%, ketuban masih utuh.</li> <li>Penurunan kepala: Hodge IV (kepala sudah masuk rongga panggul).</li> <li>DJJ: 138 kali/menit, teratur, variabilitas baik.</li> <li>Tanda vital: TD 118/78 mmHg, nadi 86 kali/menit, suhu 36,9 C.</li> <li>Ibu tampak tenang, kooperatif, dan mampu mengatur napas saat kontraksi.</li> </ul> <h3>7.3 Analisis Outcome</h3> <p>Kemajuan persalinan berada dalam kurva partograf normal (pembukaan ≥1 cm/jam). Manajemen nyeri dan dukungan emosional berhasil menurunkan kecemasan dan meningkatkan kenyamanan ibu. Ibu dalam kondisi siap untuk memasuki kala II persalinan. Prognosis ibu dan janin baik. Rencana selanjutnya adalah melanjutkan pemantauan ketat, mempersiapkan persalinan kala II, dan melakukan asuhan sayang ibu.</p> </div> <!-- DOKUMENTASI --> <div class="card"> <h2>8. Dokumentasi Asuhan</h2> <p>Dokumentasi asuhan kebidanan dilakukan secara SOAP (Subjektif, Objektif, Analisis, Penatalaksanaan) yang dicatat dalam rekam medis ibu bersalin. Setiap temuan, intervensi, dan respons ibu dicatat dengan lengkap, akurat, dan tepat waktu. Dokumentasi menjadi bukti tanggung jawab dan tanggung gugat bidan, serta sebagai sumber informasi bagi tenaga kesehatan lain yang terlibat.</p> <p>Bagian penting yang didokumentasikan meliputi:</p> <ul> <li>Data identitas ibu, suami, dan penanggung jawab.</li> <li>Anamnesis dan riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas.</li> <li>Hasil pemeriksaan fisik dan obstetri.</li> <li>Partograf yang diisi lengkap.</li> <li>Catatan perkembangan setiap jam.</li> <li>Informed consent dan persetujuan tindakan.</li> <li>Nama dan tanda tangan bidan yang bertugas.</li> </ul> <div class="highlight-box"> <p><strong>Prinsip dokumentasi:</strong> Jika tidak didokumentasikan, maka dianggap tidak dilakukan. Dokumentasi yang baik melindungi pasien dan tenaga kesehatan.</p> </div> </div> <!-- PENUTUP --> <div class="card"> <h2>9. Penutup</h2> <p>Asuhan kebidanan pada Ny. S dengan inpartu kala I fase aktif merupakan contoh penerapan pelayanan kebidanan yang komprehensif, berpusat pada ibu, dan berbasis bukti. Melalui pengkajian yang sistematis, diagnosis yang tepat, perencanaan yang matang, implementasi yang humanis, serta evaluasi yang berkesinambungan, diharapkan proses persalinan dapat berjalan normal dan aman.</p> <p>Peran bidan sebagai pendamping, pendidik, dan pemberi asuhan sangat penting dalam menciptakan pengalaman persalinan yang positif. Dukungan emosional, manajemen nyeri non-farmakologis, dan pemantauan ketat menggunakan partograf menjadi pilar utama dalam penanganan kala I fase aktif. Setiap ibu bersalin berhak mendapatkan pelayanan yang bermartabat, aman, dan nyaman.</p> <p>Dengan asuhan yang optimal, diharapkan Ny. S dapat melewati proses persalinan dengan lancar, melahirkan bayi sehat, dan menjalani masa nifas dengan baik. Semoga pembahasan ini memberikan wawasan yang bermanfaat bagi para bidan dan tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan kebidanan yang terbaik.</p> </div> </div>```### Asuhan Kebidanan Inpartu Kala I Fase AktifHalaman ini menyajikan bahasan komprehensif tentang asuhan kebidanan pada kasus inpartu kala I fase aktif, lengkap dengan struktur klinis yang sistematis.- **Tinjauan Teori** Mencakup definisi, mekanisme persalinan, serta tanda dan gejala kala I fase aktif, membantu Anda memahami landasan fisiologisnya.- **Studi Kasus Ny. S** Menampilkan data subjektif dan objektif lengkap, termasuk status obstetri (G P UK 39/40 MGG II 10001), hasil pemeriksaan fisik, dan temuan VT.- **Diagnosis dan Perencanaan** Diagnosis kebidanan ditegakkan secara jelas, dilengkapi identifikasi masalah (nyeri, kecemasan, resiko dehidrasi) dan intervensi prioritas.- **Implementasi dan Evaluasi** Langkah-langkah asuhan dari penerimaan hingga persiapan kala II, disertai evaluasi subjektif dan objektif yang terukur.- **Dokumentasi SOAP** Menekankan pentingnya pencatatan sistematis sebagai bentuk tanggung jawab profesional.