Jawa Tengah, khususnya Kota Jepara yang terkenal sebagai Kota Ukir, memiliki kekayaan busana tradisional yang sarat makna. Busana daerah bukan sekadar penutup tubuh, melainkan cerminan identitas, status sosial, dan filosofi hidup yang diwariskan turun-temurun. Dalam artikel ini, kita akan mengupas secara umum busana adat pria dan wanita dari Jepara, mulai dari kegunaan sehari-hari hingga busana upacara adat.
Keunikan busana daerah Jepara tidak lepas dari sejarah Kesultanan Demak, pengaruh Kerajaan Mataram, serta akulturasi dengan pedagang Tionghoa dan Eropa. Jepara sebagai pusat perdagangan kayu jati dan ukiran sejak abad ke-16 membuat busananya memiliki sentuhan artistik yang khas. Motif batik Jepara, misalnya, sering mengambil inspirasi dari ukiran flora, fauna, dan geometris khas ukir Jepara. Busana ini juga mencerminkan nilai wani lan santun berani namun tetap sopan yang menjadi ciri masyarakat pesisir utara Jawa.
Secara umum, busana tradisional Jepara dibedakan menjadi busana sehari-hari, busana semi-formal, dan busana upacara adat seperti pernikahan, tedhak siten, atau syukuran. Meski zaman terus berubah, masyarakat Jepara masih mempertahankan penggunaan busana adat dalam acara-acara penting, terutama di desa-desa seperti Desa Kriyan, Robayan, dan sekitar Alun-Alun Jepara.
Untuk pria, pakaian adat sehari-hari di Jepara tidak jauh berbeda dengan busana Jawa Tengah pada umumnya, yaitu surjan atau beskap longgar berbahan katun atau lurik. Surjan khas Jepara biasanya memiliki motif lurik garis-garis halus dengan warna gelap seperti hitam, cokelat, atau biru tua. Pria di Jepara juga kerap mengenakan jarik (kain panjang) yang dililitkan di pinggang, dengan cara nyamping atau sinjang. Penutup kepala berupa blangkon model Jepara memiliki bentuk yang agak bulat dengan bagian belakang yang sedikit rata, berbeda dengan blangkon Solo atau Yogyakarta. Blangkon ini sering diberi hiasan motif batik ceplok atau parang rusak.
Dalam acara resmi seperti pernikahan atau khitanan, pria Jepara mengenakan busana beskap dengan kain jarik yang lebih mewah, biasanya bermotif batik semen, sido asih, atau parang. Lilitan jarik di pinggang disebut lurub dan menggunakan sabuk timang (ikat pinggang dari logam atau kain) yang dihias. Selain blangkon, mereka juga memakai keris yang diselipkan di pinggang belakang, sebagai lambang kehormatan dan keteguhan. Kini, keris sering diganti dengan stagen (kain pinggang) bagi yang tidak ingin membawa keris asli. Alas kaki menggunakan sandal gepyok atau selop tradisional.
Wanita Jepara dalam kesehariannya memakai kebaya berbahan katun, brokat, atau beludru. Model kebaya tradisional Jepara adalah kebaya encim dengan potongan longgar dan bordir atau aplikasi renda di bagian tepi. Kebaya ini dipadukan dengan kain jarik yang dililitkan membentuk kemben atau sinjang. Banyak wanita juga mengenakan stagen untuk membentuk siluet tubuh. Penutup kepala berupa kemben atau udheng (sanggul yang dibalut kain) bagi yang sudah menikah, sementara remaja sering hanya menyanggul rambut tanpa penutup.
Untuk pesta pernikahan atau upacara adat, wanita Jepara mengenakan kebaya brokat berwarna cerah seperti merah, emas, atau hijau, yang dipadukan dengan kain batik motif sidomukti atau semen roma. Kain jarik dililitkan dengan rapi, dan untuk pengantin menggunakan kain dodot yang lebih panjang dan lebar. Aksesoris kepala berupa mahkota kecil yang disebut kuluk atau garuda mungkur, terbuat dari logam emas atau perak yang dipenuhi hiasan ukir. Kalung, gelang, dan anting berlapis emas melengkapi penampilan. Rambut disanggul dengan hiasan cunduk mentul (bunga cempaka) dan tusuk konde.
Salah satu pembeda busana Jepara dengan daerah lain adalah motif batiknya. Motif batik Jepara tidak hanya menggambar ukiran, tetapi juga terinspirasi dari alam sekitar:
Dalam upacara pernikahan adat Jepara, kedua mempelai mengenakan busana yang sangat megah. Mempelai pria memakai beskap hitam dengan jarik motif parang, blangkon, dan keris. Mempelai wanita menggunakan kebaya brokat merah atau putih, kain dodot, serta mahkota garuda mungkur yang merupakan ciri khas Jepara. Busana ini disebut Busana Pengantin Jepara yang sebenarnya merupakan adaptasi dari gaya Mataram namun dengan aksesoris ukiran khas.
Pada upacara tedhak siten (tradisi bayi mulai belajar berjalan), anak-anak dan orang tua juga mengenakan busana semi-adat. Bayi laki-laki memakai setelan kecil beskap dan blangkon mini, sementara bayi perempuan memakai kebaya kecil dengan kain batik. Upacara bersih desa dan sedekah bumi di Jepara juga menjadi momen di mana warga berbondong-bondong mengenakan lurik dan jarik, menunjukkan kebanggaan akan identitas daerah.
Saat ini, busana daerah Jepara tidak hanya digunakan dalam upacara resmi. Banyak perancang busana lokal yang memodifikasi kebaya encim dan surjan menjadi busana keseharian yang modis. Bahan yang digunakan pun lebih bervariasi, seperti brokat, sifon, dan organdi. Namun, motif batik Jepara yang khas tetap dipertahankan. Acara Festival Batik Jepara dan Karnaval Budaya setiap tahun turut melestarikan dan mempopulerkan busana daerah ini di kalangan generasi muda.
Selain itu, para pengrajin ukir Jepara juga membuat aksesoris kayu jati untuk pelengkap busana, seperti bros, gesper, dan hiasan sanggul. Hal ini menjadi nilai tambah ekonomi dan identitas. Pemerintah daerah pun mendorong penggunaan batik Jepara setiap hari Jumat di kantor-kantor instansi, sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya lokal.
Busana tradisional, terutama yang terbuat dari batik tulis atau songket, memerlukan perawatan khusus. Berikut beberapa tips yang sering dipraktikkan masyarakat Jepara:
Dengan perawatan yang benar, busana daerah Jepara dapat bertahan hingga puluhan tahun dan diwariskan kepada anak cucu. Banyak keluarga di Jepara yang masih menyimpan kebaya atau beskap peninggalan nenek moyang mereka sebagai pusaka keluarga.
Busana daerah Jepara bukan sekadar pakaian. Setiap bagian memiliki makna. Misalnya, blangkon melambangkan pengendalian diri dan pikiran yang tenang. Keris melambangkan kekuatan batin dan perlindungan. Kebaya yang dipadukan dengan stagen mengajarkan wanita untuk bersikap luwes namun tetap kokoh. Kain jarik yang dililitkan mencerminkan keteraturan hidup dan hubungan harmonis dengan alam.
Pada upacara pernikahan, busana pengantin Jepara menjadi simbol menyatunya dua keluarga. Bahkan dalam pemilihan warna, ada aturan tidak tertulis: warna merah melambangkan keberanian, emas melambangkan kemakmuran, dan putih melambangkan kesucian. Masyarakat Jepara sangat menghormati aturan-aturan ini, sehingga seorang penjahit adat biasanya memiliki pengetahuan khusus tentang filosofi busana.
Busana daerah Jawa Tengah, khususnya Kota Jepara, adalah warisan leluhur yang tak ternilai. Baik pria maupun wanita, memiliki ragam busana yang memadukan seni ukir, batik, dan nilai-nilai luhur. Dengan terus mengenakan dan melestarikannya, kita turut menjaga identitas budaya bangsa untuk generasi mendatang.
