Dialog Kebudayaan dan Meet With Lecturer merupakan dua program unggulan yang secara konsisten diselenggarakan oleh sivitas akademika UMPASA (Universitas Parna Raya). Keduanya menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa, dosen, budayawan, serta masyarakat luas dalam membincangkan identitas, kearifan lokal, dan masa depan pendidikan yang berakar pada budaya Nusantara. Meskipun memiliki bentuk yang berbeda satu bersifat dialog kebudayaan terbuka, satu lagi forum temu dosen keduanya saling melengkapi dalam membangun iklim intelektual yang hangat, kritis, dan kontekstual.
Artikel ini mengupas secara umum tentang esensi, tujuan, dan dinamika Dialog Kebudayaan serta Meet With Lecturer di UMPASA. Pembahasan dimulai dari latar belakang lahirnya kedua agenda, kemudian menyelami nilai-nilai yang diusung, hingga dampaknya terhadap pengembangan karakter mahasiswa dan pelestarian kebudayaan.
Dialog Kebudayaan UMPASA lahir dari kegelisahan akan semakin terputusnya generasi muda dari akar tradisi. Di tengah derasnya arus globalisasi dan budaya digital, forum ini hadir sebagai ruang reflektif untuk menggali, mempertanyakan, dan merayakan kebudayaan. Bukan sekadar diskusi, melainkan sebuah perjumpaan antara berbagai perspektif mahasiswa, dosen, seniman, tetua adat, dan komunitas.
Setiap edisi Dialog Kebudayaan mengangkat tema yang relevan dengan kondisi sosial dan budaya kekinian. Misalnya, Reinterpretasi Tradisi Lisan di Era Digital, Pangan Lokal dan Identitas, atau Peran Perempuan dalam Ritual Adat Sumatera. Peserta tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi aktif berdialog, bertanya, dan berbagi pengalaman. Suasana dikemas semi-informal, seringkali dengan iringan musik tradisional atau pertunjukan seni singkat. Perpustakaan kampus, aula terbuka, atau bahkan serambi museum daerah menjadi latar yang memperkuat atmosfer kultural.
Dialog bukanlah ajang untuk menang-menangan, tetapi untuk saling memahami dan menemukan titik temu antara tradisi dan modernitas. kutipan dari sambutan Rektor UMPASA pada Dialog Kebudayaan edisi perdana (2021).
Tidak jarang, sesi dialog memantik diskusi hangat di luar forum di koridor, warung kopi, atau media sosial mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa gagasan yang digulirkan benar-benar menyentuh kesadaran dan pengalaman sehari-hari.
Meet With Lecturer (MWL) adalah program yang dirancang untuk memperkuat relasi horizontal antara mahasiswa dan dosen di luar perkuliahan formal. Jika Dialog Kebudayaan lebih bersifat tematik dan kultural, MWL berfokus pada pengembangan akademik, riset, dan pembimbingan karier. Namun, keduanya berbagi semangat yang sama: membangun dialog yang setara dan manusiawi.
Dalam setiap sesi MWL, seorang dosen atau sekelompok dosen duduk bersama mahasiswa dalam lingkaran kecil. Tidak ada podium, tidak ada jarak. Acara biasanya dibuka dengan pemaparan singkat mengenai pengalaman dosen mulai dari perjalanan studi, tantangan riset, hingga kegagalan yang pernah dihadapi. Setelah itu, mahasiswa bebas bertanya, berdiskusi, atau bahkan meminta saran tentang topik yang selama ini mengganjal.
Beberapa tema MWL yang pernah diadakan antara lain: Menulis Proposal Skripsi yang Kuat, Etika Penelitian di Komunitas Adat, Peluang Beasiswa dan Jejaring Internasional, serta Menemukan Panggilan Hidup di Tengah Tekanan Akademik. Dosen pun kerap membagikan buku favorit, film, atau kebiasaan yang membentuk cara berpikir mereka.
Meet With Lecturer secara langsung mengikis sekat hierarki yang kerap menghambat komunikasi. Mahasiswa menjadi lebih berani menyampaikan gagasan dan kesulitan mereka. Dosen pun mendapatkan pemahaman yang lebih utuh tentang karakter dan kebutuhan mahasiswa. Beberapa kolaborasi riset dan proyek komunitas lahir justru dari perbincangan santai di MWL.
Sekilas, Dialog Kebudayaan dan Meet With Lecturer tampak berjalan pada rel yang berbeda. Akan tetapi, di UMPASA keduanya dirancang sebagai ekosistem yang saling memperkuat. Dialog Kebudayaan membangkitkan kesadaran akan identitas dan akar, sedangkan MWL membekali mahasiswa dengan keterampilan serta relasi untuk mengembangkan potensi diri di dalam kerangka kebudayaan tersebut.
Misalnya, seorang mahasiswa yang tertarik pada topik Seni Pertunjukan Tradisional setelah mengikuti Dialog Kebudayaan dapat mendiskusikan lebih lanjut metodologi risetnya dengan dosen di sesi MWL. Atau sebaliknya, dosen yang mendapati antusiasme mahasiswa terhadap literasi digital di MWL dapat menggagas tema Dialog Kebudayaan tentang Tradisi Lisan di Platform Digital.
Keduanya sama-sama mengedepankan prinsip dialogis dan partisipatif. Tidak ada otoritas tunggal yang menggurui; semua pihak adalah pembelajar. Hal ini sejalan dengan falsafah pendidikan UMPASA yang menjunjung Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan napas kebudayaan.
Pada tahun 2023, rangkaian Dialog Kebudayaan bertema Merawat Bahasa Daerah di Tengah Gempuran Konten Digital dilanjutkan dengan sesi MWL khusus yang menghadirkan ahli linguistik dan pegiat komunitas bahasa. para mahasiswa tidak hanya mendapatkan wawasan teoretis, tetapi juga diajak menyusun rencana aksi: membuat kanal YouTube berisi cerita rakyat dalam bahasa daerah. Inisiatif tersebut kini menjadi program kerja tetap Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Sastra dan Budaya.
Sinergi Dialog & MWL: Lebih dari separuh responden survei internal UMPASA (2024) menyatakan bahwa kombinasi kedua forum ini membantu mereka lebih percaya diri dalam menyampaikan gagasan di ruang publik dan lebih termotivasi untuk menekuni riset berbasis budaya lokal.
Baik Dialog Kebudayaan maupun Meet With Lecturer membawa dampak nyata yang melampaui ruang kelas. Berikut adalah beberapa manfaat umum yang dirasakan oleh mahasiswa, dosen, dan alumni UMPASA:
Dosen pun merasakan manfaatnya: mereka mendapatkan umpan balik langsung mengenai metode pengajaran, menemukan bibit-bibit peneliti muda, dan merasa lebih terhubung dengan semangat mahasiswa. Suasana akademik menjadi lebih hidup, saling menginspirasi, dan jauh dari kesan kering.
Dialog Kebudayaan dan Meet With Lecturer UMPASA tidak eksklusif untuk internal kampus. Akademisi dari perguruan tinggi lain, pegiat seni, jurnalis, dan masyarakat umum kerap diundang sebagai pembicara maupun peserta. Hal ini memperkaya sudut pandang dan memperkuat peran universitas sebagai agen perubahan sosial. Kampus tidak boleh menjadi menara gading, adalah prinsip yang sering digaungkan dalam setiap penyelenggaraan.
Forum-forum ini juga dicatat dan didokumentasikan dalam bentuk ringkasan, video, atau artikel blog resmi UMPASA. Tidak sedikit tulisan yang lahir dari dialog kemudian terbit di jurnal ilmiah atau media massa. Dengan begitu, dampaknya meluas ke khalayak yang lebih besar.
Dialog Kebudayaan biasanya digelar sebulan sekali, sementara Meet With Lecturer dijadwalkan dua mingguan dengan sistem rotasi dosen. Meski demikian, fleksibilitas tetap dijaga jika ada isu hangat atau tamu spesial, sesi dadakan bisa diadakan. Informasi disebar melalui media sosial kampus, grup WhatsApp, dan poster digital.
Dialog Kebudayaan dan Meet With Lecturer UMPASA bukanlah sekadar acara seremonial. Keduanya merupakan bentuk komitmen untuk memanusiakan hubungan dalam pendidikan tinggi, serta menjadikan kebudayaan sebagai panglima. Di saat banyak kampus fokus pada orientasi industri dan kompetisi, UMPASA memilih jalan yang lebih sunyi namun bermakna: memperkuat dialog dan keakraban.
Mahasiswa tidak hanya dilatih menjadi pekerja yang kompeten, tetapi juga manusia yang berakar, peka terhadap lingkungan, dan mampu berdialog dengan perbedaan. Sementara dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai mitra belajar dan penjaga nilai-nilai budaya.
Ke depannya, UMPASA berencana untuk memperluas format dialog kebudayaan ke desa-desa dan menyelenggarakan MWL tematik yang melibatkan alumni yang sukses di bidang kebudayaan dan riset. Semua ini adalah langkah kecil namun konsisten untuk memastikan bahwa kebudayaan tidak hanya dibicarakan, tetapi dihidupi dalam keseharian akademik.
Pendidikan tanpa kebudayaan adalah pohon tanpa akar. Dialog dan perjumpaan dengan dosen adalah air dan cahaya yang membuat akar itu tumbuh dalam. catatan akhir Diskusi Kebudayaan UMPASA, 2024.
Ulasan ini merupakan gambaran umum tentang Dialog Kebudayaan dan Meet With Lecturer di lingkungan UMPASA. Kedua forum terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar, berbagi, dan merawat kebudayaan dalam bingkai akademik yang humanis.
