Pertumbuhan populasi udang dalam budidaya atau ekosistem alami biasanya dipengaruhi oleh dua faktor utama: pertumbuhan biomassa dan mortality. Pada kondisi standar, banyak model mengasumsikan mortality konstan. Namun, dalam praktik, mortality sering berubah seiring waktu karena faktorfaktor seperti perubahan suhu, kualitas air, kepadatan populasi, dan serangan patogen. Oleh karena itu, model dinamis dengan mortalitas yang bergantung pada waktu menjadi penting untuk memperkirakan produksi dan mengoptimalkan manajemen budidaya.
Biomassa udang (B) didefinisikan sebagai total berat kering semua individu dalam satu area atau volume tertentu (mis. kgm). Pertumbuhan biomassa biasanya dijelaskan dengan persamaan diferensial:
di mana:
Salah satu formulasi yang paling umum adalah model vonBertalanffy yang dimodifikasi untuk udang:
Dengan:
Mortalitas konstan (M=B) cukup sederhana tetapi tidak mencerminkan realita. Sebagai contoh, pada fase awal pemijahan mortalitas rendah, sementara pada fase pertumbuhan cepat atau saat terjadi stres lingkungan mortalitas dapat naik tajam. Pendekatan yang umum dipakai:
adalah mortalitas awal, mengontrol percepatan atau perlambatan mortalitas.
dan menangkap efek kepadatan (mis. kompetisi, kurangnya oksigen).
Pada budidaya intensif, suhu (T), kadar amonia (NH) dan pH dapat dimasukkan:
Fungsi f_T biasanya bentuk sigmoid yang menggambarkan batas toleransi suhu.
Karena (t) tidak konstan, persamaan diferensial harus diselesaikan secara numerik (mis. metode RungeKutta orde4). Algoritma singkat:
Hasil simulasi biasanya divisualisasikan sebagai grafik B vs. t dan vs. t untuk menilai poin kritis.
Misalkan data percobaan selama 90 hari dengan parameter:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| r | 0.08day |
| K | 40kgm |
| 1.2 | |
| 0.02day | |
| 0.015day | |
| 0.001kgday | |
| 1.5 |
Hasil simulasi menunjukkan pertumbuhan cepat selama 3050hari, diikuti penurunan laju pertumbuhan karena meningkatnya (t) yang mencapai 0.07day pada hari ke80. Biomassa maksimum tercapai sekitar 32kgm pada hari ke55, kemudian menurun akibat mortalitas yang tinggi.
Model di atas masih bersifat deterministik dan mengasumsikan homogenitas ruang. Pada kolam yang sangat besar atau sistem semitertutup, variasi spasial dapat menghasilkan mortalitas lokal yang berbeda. Pendekatan selanjutnya meliputi:
Model dinamis yang memperhitungkan mortalitas berubah waktu memberikan gambaran yang lebih realistis tentang pertumbuhan biomassa udang. Dengan menggabungkan fungsi pertumbuhan logistictype dan mortalitas yang bergantung pada waktu, kepadatan, serta variabel lingkungan, model ini dapat menjadi alat bantu keputusan bagi petani udang, peneliti, dan regulator. Implementasi numerik yang sederhana memungkinkan penggunaan di skala laboratorium maupun komersial, sementara pengembangan lanjutan dapat meningkatkan akurasi dengan menambahkan dimensi spasial dan stochasticity.
Untuk mempelajari lebih lanjut, kunjungi FAO Aquaculture atau ScienceDirect Shrimp Biomass Models.
