Enterohemorrhagic Escherichia coli atau yang biasa disingkat EHEC merupakan bakteri gramnegatif yang termasuk dalam kelompok Escherichia coli patogenik. Bakteri ini dapat menghasilkan toksin berbahaya yang disebut shiga toxin (Stx). Karena kemampuan menimbulkan diare berdarah, sindrom hemolitik uremik (HUS), serta komplikasi ginjal, EHEC menjadi salah satu penyebab infeksi makanan paling penting di dunia.
Setelah tertelan, bakteri menempel pada epitel usus halus melalui intimin, lalu menginvasi sel epitel dan menghasilkan shiga toxin. Toksin berikatan dengan reseptor Gb3 pada sel endotelium, khususnya di ginjal. Akibatnya terjadi kerusakan vaskular, koagulasi intravaskular, dan kegagalan fungsi ginjal yang manifestasinya adalah HUS.
Sumber utama EHEC meliputi:
Penularan terjadi melalui konsumsi makanan/air yang terkontaminasi atau melalui tangan yang tidak bersih setelah menyentuh hewan atau feces.
Incubasi biasanya 34 hari, tetapi dapat bervariasi 110 hari. Gejala meliputi:
Diagnosis didasarkan pada kombinasi klinik dan laboratorium:
Tidak ada terapi antibakteri yang secara konsisten terbukti efektif dan beberapa antibiotik bahkan dapat memperparah produksi toxin. Penanganan utama meliputi:
Penggunaan antibiotik (seperti fluoroquinolon) hanya dipertimbangkan dalam kondisi khusus dan selalu di bawah pengawasan dokter.
Pencegahan EHEC berfokus pada kebersihan makanan dan lingkungan:
EHEC pertama kali diidentifikasi pada 1982 di Amerika Serikat sebagai penyebab wabah hemolitik uremik. Sejak itu, EHEC O157:H7 dan nonO157 (seperti O26, O111) telah dilaporkan di lebih dari 30 negara, termasuk Indonesia. Di Tanah Air, kasus biasanya terkait dengan konsumsi daging sapi tidak matang atau sayuran mentah yang terkontaminasi.
Beberapa tantangan utama meliputi: deteksi varian nonO157 yang kurang sensitif pada media konvensional, kebutuhan standar keamanan makanan yang lebih ketat, serta edukasi publik tentang bahaya makanan mentah. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan regulasi tentang inspeksi higienis pada rantai produksi daging dan susu, tetapi implementasinya masih memerlukan penguatan.
Enterohemorrhagic Escherichia coli merupakan patogen makanan penting yang dapat menyebabkan diare berdarah dan komplikasi berat seperti HUS. Karena tidak ada terapi spesifik, pencegahan melalui kebersihan makanan, masak yang tepat, dan pendidikan masyarakat menjadi kunci utama. Deteksi laboratorium yang cepat serta pemantauan klinis yang cermat sangat penting untuk mengurangi beban penyakit ini.
Referensi: WHO. (2022). Foodborne disease surveillance. CDC. (2021). Shiga toxinproducing E. coli.
