Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan pintu masuk utama bagi pasien dengan kondisi kritis. Di Indonesia, standar triase yang paling banyak diadopsi adalah American College of Surgeons Committee on Trauma (ATLS) yang telah dimodifikasi menjadi Triase Satu Pintu (TSP) sesuai dengan kebijakan Kementerian Kesehatan. Di RSUP Sanglah Denpasar, peran perawat dalam proses triase sangat penting karena mereka menjadi tenaga pertama yang menilai, mengklasifikasikan, dan mengarahkan pasien ke jalur penanganan yang tepat.
Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum mengenai tingkat pengetahuan perawat tentang triase di IGD RSUP Sanglah, mengidentifikasi faktorfaktor yang memengaruhi pengetahuan tersebut, serta menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan.
Data yang disajikan merupakan hasil survei kuesioner yang dibagikan kepada 120 perawat IGD pada tahun 2024. Kuesioner mencakup 30 butir pertanyaan tentang definisi triase, kategori tingkat keparahan (E, I, R, T), prinsip-prinsip penilaian cepat (ABCDE), serta protokol lokal RSUP Sanglah. Skor pengetahuan dihitung dengan skala 0100, dengan nilai di atas 70 dianggap baik.
Mayoritas perawat (85%) memahami konsep dasar ABCDE dan dapat mengidentifikasi tanda vital kritis. Mereka juga cukup familiar dengan kategori triase Emergent (E) dan Immediate (I).
Berdasarkan analisis regresi linier sederhana, faktor-faktor berikut terbukti signifikan (p<0,05):
Hasil survei menegaskan kebutuhan program edukasi berkelanjutan yang terstruktur, meliputi:
Berikut beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan manajemen RSUP Sanglah:
Pengetahuan perawat di IGD RSUP Sanglah tentang triase berada pada level menengah dengan potensi peningkatan yang signifikan. Faktor pengalaman kerja dan pelatihan formal merupakan penentu utama kompetensi. Dengan mengimplementasikan program edukasi berkelanjutan, serta kebijakan pendukung dari manajemen rumah sakit, diharapkan tingkat pengetahuan dapat melampaui ambang batas baik (70%). Hal ini akan berdampak langsung pada kecepatan penanganan, akurasi klasifikasi pasien, dan pada akhirnya menurunkan angka mortalitas serta morbiditas di unit gawat darurat.
Sumber: Survei Pengetahuan Triase IGD RSUP Sanglah 2024; Pedoman Triase Nasional Kemenkes 2022.
