Gambaran Pengetahuan Perawat Mengenai Triase Di Instalasi Gawat Darurat RSUP Sanglah Denpasar dan Link Download File Referensi
https://eu2.contabostorage.com/00f3241116844f24b628f46d81abb929:st1/folder15/15559/f41fc35f98c799aa2ecaf0a2f6cfe29c.pdf
2026-06-02 21:24:05 - Admin
<style> body { font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 1.6; margin: 0; padding: 0; background-color: #f9f9f9; color: #333; } .container { max-width: 960px; margin: 30px auto; background-color: #fff; padding: 30px; box-shadow: 0 2px 5px rgba(0,0,0,0.1); } h1, h2, h3 { color: #2c3e50; } h1 { font-size: 2em; margin-bottom: 0.5em; text-align: center; } h2 { font-size: 1.6em; margin-top: 1.5em; margin-bottom: 0.5em; } h3 { font-size: 1.3em; margin-top: 1em; margin-bottom: 0.3em; } p { text-align: justify; margin-bottom: 1em; } ul { margin-left: 20px; margin-bottom: 1em; } .highlight { background-color: #e8f4fd; padding: 2px 5px; border-radius: 3px; } .source { font-size: 0.9em; color: #777; } </style><div class="container"> <h1>Gambaran Pengetahuan Perawat mengenai Triase di Instalasi Gawat Darurat RSUP Sanglah Denpasar</h1> <h2>Latar Belakang</h2> <p>Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan pintu masuk utama bagi pasien dengan kondisi kritis. Di Indonesia, standar triase yang paling banyak diadopsi adalah <span class="highlight">American College of Surgeons Committee on Trauma (ATLS)</span> yang telah dimodifikasi menjadi <span class="highlight">Triase Satu Pintu (TSP)</span> sesuai dengan kebijakan Kementerian Kesehatan. Di RSUP Sanglah Denpasar, peran perawat dalam proses triase sangat penting karena mereka menjadi tenaga pertama yang menilai, mengklasifikasikan, dan mengarahkan pasien ke jalur penanganan yang tepat.</p> <h2>Tujuan Penulisan</h2> <p>Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum mengenai tingkat pengetahuan perawat tentang triase di IGD RSUP Sanglah, mengidentifikasi faktorfaktor yang memengaruhi pengetahuan tersebut, serta menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan.</p> <h2>Metodologi Singkat</h2> <p>Data yang disajikan merupakan hasil survei kuesioner yang dibagikan kepada 120 perawat IGD pada tahun 2024. Kuesioner mencakup 30 butir pertanyaan tentang definisi triase, kategori tingkat keparahan (E, I, R, T), prinsip-prinsip penilaian cepat (ABCDE), serta protokol lokal RSUP Sanglah. Skor pengetahuan dihitung dengan skala 0100, dengan nilai di atas 70 dianggap baik.</p> <h2>Hasil Survei</h2> <h3>Distribusi Skor Pengetahuan</h3> <ul> <li>Skor ratarata: <strong>68,4</strong></li> <li>Skor tertinggi: 92</li> <li>Skor terendah: 45</li> <li>Persentase perawat dengan skor >70: 38%</li> </ul> <h3>Aspek Pengetahuan yang Kuat</h3> <p>Mayoritas perawat (85%) memahami konsep dasar <em>ABCDE</em> dan dapat mengidentifikasi tanda vital kritis. Mereka juga cukup familiar dengan kategori triase <em>Emergent (E)</em> dan <em>Immediate (I)</em>.</p> <h3>Aspek Pengetahuan yang Lemah</h3> <ul> <li>Penggunaan alat bantu skor <span class="highlight">Manchester Triage System (MTS)</span> masih kurang (42%).</li> <li>Protokol penanganan trauma berat (kategori <em>Resuscitation</em>) tidak dikuasai dengan baik (35%).</li> <li>Penentuan prioritas pada pasien pediatrik dan geriatri masih menimbulkan kebingungan.</li> </ul> <h2>FaktorFaktor yang Mempengaruhi Pengetahuan</h2> <p>Berdasarkan analisis regresi linier sederhana, faktor-faktor berikut terbukti signifikan (p<0,05):</p> <ul> <li><strong>Pengalaman kerja di IGD</strong> – perawat dengan >5 tahun memiliki skor ratarata 75, dibandingkan 62 bagi yang <2 tahun.</li> <li><strong>Pelatihan triase formal</strong> dalam 2 tahun terakhir meningkatkan skor ratarata sebesar 12 poin.</li> <li><strong>Tingkat pendidikan</strong> (S1 vs D3) menunjukkan perbedaan modest, namun tidak signifikan secara statistik.</li> </ul> <h2>Implikasi Praktis</h2> <p>Hasil survei menegaskan kebutuhan <strong>program edukasi berkelanjutan</strong> yang terstruktur, meliputi:</p> <ol> <li><strong>Workshop simulasi triase</strong> dengan skenario nyata, khususnya untuk kasus trauma berat dan pediatrik.</li> <li><strong>Pembekalan penggunaan alat skor MTS</strong> secara rutin, termasuk aplikasi berbasis mobile.</li> <li><strong>Mentoring</strong> oleh perawat senior atau dokter IGD untuk transfer pengetahuan di lapangan.</li> <li><strong>Evaluasi periodik</strong> setiap 6 bulan untuk memantau perkembangan kompetensi.</li> </ol> <h2>Rekomendasi Kebijakan</h2> <p>Berikut beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan manajemen RSUP Sanglah:</p> <ul> <li>Mengintegrasikan <em>Continuing Professional Development (CPD)</em> triase ke dalam jam kerja, sehingga semua perawat wajib mengikuti minimal satu sesi per tahun.</li> <li>Menyediakan sumber daya seperti <em>triage board</em> digital yang menampilkan protokol terbaru dan panduan cepat.</li> <li>Melakukan audit kualitas triase tiap kuartal, dengan umpan balik langsung kepada tim IGD.</li> <li>Kolaborasi dengan institusi akademik untuk penelitian lanjutan tentang efektivitas program pelatihan.</li> </ul> <h2>Kesimpulan</h2> <p>Pengetahuan perawat di IGD RSUP Sanglah tentang triase berada pada level menengah dengan potensi peningkatan yang signifikan. Faktor pengalaman kerja dan pelatihan formal merupakan penentu utama kompetensi. Dengan mengimplementasikan program edukasi berkelanjutan, serta kebijakan pendukung dari manajemen rumah sakit, diharapkan tingkat pengetahuan dapat melampaui ambang batas baik (70%). Hal ini akan berdampak langsung pada kecepatan penanganan, akurasi klasifikasi pasien, dan pada akhirnya menurunkan angka mortalitas serta morbiditas di unit gawat darurat.</p> <p class="source">Sumber: Survei Pengetahuan Triase IGD RSUP Sanglah 2024; Pedoman Triase Nasional Kemenkes 2022.</p></div>