Hepatitis B adalah infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Virus ini menyerang hati dan dapat menyebabkan peradangan, kerusakan sel hati, hingga berpotensi berkembang menjadi sirosis atau kanker hati (karsinoma hepatoseluler). HBV termasuk dalam kelompok virus DNA yang memiliki kemampuan untuk berintegrasi ke dalam genom sel inang, sehingga dapat bertahan lama dalam tubuh.
Penularan HBV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh yang mengandung virus, antara lain:
Sebagian besar orang yang terinfeksi HBV tidak menunjukkan gejala pada fase akut (sekitar 7080%). Bila muncul, gejalanya meliputi:
Infeksi kronis dapat berlangsung bertahuntahun tanpa gejala yang jelas, namun kerusakan hati tetap terjadi secara perlahan.
Diagnosis HBV didasarkan pada serologi dan pemeriksaan molekuler:
Pencegahan paling efektif adalah vaksinasi. Vaksin hepatitis B biasanya diberikan dalam tiga dosis (0, 1, dan 6 bulan) dan memberikan perlindungan lebih dari 90% pada individu yang sehat.
Langkah tambahan meliputi:
Infeksi akut biasanya tidak memerlukan terapi khusus; tubuh dapat membersihkan virus secara alami dalam 612 minggu. Pada infeksi kronis, pengobatan ditujukan untuk menurunkan beban virus, mengurangi peradangan hati, dan mencegah komplikasi. Obat utama meliputi:
Pengobatan harus dipantau secara berkala dengan tes darah untuk menilai fungsi hati dan kadar HBV DNA.
Jika tidak diobati, sekitar 1530% penderita hepatitis B kronis dapat mengembangkan:
Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban hepatitis B tertinggi di dunia. Diperkirakan lebih dari 10% penduduk telah terinfeksi, dengan sekitar 23 juta kasus kronis. Program imunisasi nasional yang mencakup vaksin hepatitis B sejak tahun 1997 telah menurunkan angka kejadian pada anak-anak, namun penyuluhan bagi dewasa masih menjadi tantangan.
Untuk informasi lebih detail, kunjungi situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia atau World Health Organization (WHO):
