Kanker bukan sekadar pertumbuhan sel abnormal yang tak terkendali; ia juga merupakan penyakit yang melibatkan interaksi kompleks antara sel tumor dan sistem imun tubuh. Imunologi kanker mempelajari bagaimana selsel imun mengenali, menyerang, atau malah membantu sel kanker bertahan hidup. Pemahaman ini menjadi dasar bagi pengembangan terapi imun yang kini menjadi salah satu terobosan paling signifikan dalam onkologi.
Sistem imun terdiri dari dua lapisan utama: imun bawaan (innate) dan imun adaptif. Pada kanker, kedua lapisan ini dapat berperan sebagai penjaga yang menolak pertumbuhan sel abnormal, namun pada saat yang sama tumor sering kali mengembangkan mekanisme untuk menghindari atau menekannya.
Sel kanker tidak passif; mereka berkembang untuk meloloskan diri dari kontrol imun melalui beberapa cara:
Berbekal pengetahuan tentang interaksi tumorimun, beberapa pendekatan terapeutik telah dikembangkan:
Obat yang memblokir PD1/PDL1 atau CTLA4 memungkinkan sel T bangun kembali dan menyerang sel tumor. Contoh: pembrolizumab, nivolumab, dan ipilimumab. Terapi ini telah menunjukkan respons yang mengesankan pada melanoma, kanker paru nonsel kecil, dan beberapa jenis kanker gastrointestinal.
Sel T pasien dimodifikasi secara genetik untuk mengekspresikan reseptor sintetis yang mengenali antigen spesifik pada sel tumor (misalnya CD19 pada limfoma B). Setelah diberikan kembali, selsel ini dapat menghancurkan sel tumor secara langsung.
Vaksin dapat berupa peptide, protein, atau sel dendritik yang dipresentasikan dengan antigen tumor untuk memicu respons T spesifik. Contoh: vaksin HPV untuk kanker serviks.
Interleukin2 (IL2) dan interferon pernah menjadi standar terapi, namun penggunaan mereka terbatas karena efek samping serius. Penelitian kini meneliti versi rekombinan dengan toksisitas lebih rendah.
Virus yang direkayasa (misalnya talimogenem relatanviroks) menginfeksi sel tumor, menyebabkan lisis, dan pada saat yang sama memicu respons imun terhadap antigen tumor yang terlepas.
Tidak semua pasien merespon terapi imun secara positif. Beberapa biomarker yang sedang dipelajari meliputi:
Walaupun terapi imun telah mengubah paradigma pengobatan kanker, masih ada beberapa kendala:
Penelitian ke depan berfokus pada kombinasi terapi (misalnya checkpoint inhibitor + CART, atau + radioterapi), penggunaan teknologi CRISPR untuk memodifikasi sel imun, serta pengembangan vaksin neoantigen yang dipersonalisasi berdasarkan profil mutasi pasien.
Imunologi kanker merupakan bidang interdisipliner yang menghubungkan biologi sel, genetika, dan klinik. Dengan memahami bagaimana tumor berinteraksi dengan sistem imun, para peneliti dan dokter dapat merancang strategi yang tidak hanya meniadakan sel kanker tetapi juga menstimulasi pertahanan alami tubuh. Terapi imun telah memberikan harapan baru bagi banyak pasien, terutama pada jenis kanker yang sebelumnya sulit diobati. Namun, keberhasilan jangka panjang masih menuntut pemahaman yang lebih dalam tentang mekanisme escape, identifikasi biomarker yang tepat, dan pengembangan kombinasi terapi yang aman dan efektif.
Referensi: Nature Review Cancer 2017, National Cancer Institute, PubMed PMID: 33331748.
