IndonesiaAustralia Forest Carbon Partnership (IFCP) merupakan inisiatif kolaboratif yang diluncurkan pada tahun 2021 antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia. Tujuan utama kerjasama ini adalah mengurangi emisi gas rumah kaca melalui perlindungan, restorasi, dan pengelolaan hutan lestari di Indonesia, sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis karbon bagi masyarakat setempat.
Indonesia memiliki hutan tropis terbesar ketiga di dunia, menyumbang sekitar 10% emisi karbon global. Pada saat yang sama, Australia merupakan negara dengan ekonomi kuat yang berkomitmen pada target netzero emissions pada 2050. Kedua negara menyadari bahwa tindakan bersama dapat mengatasi tantangan iklim serta meningkatkan kesejahteraan komunitas hutan.
Australia menyediakan dana awal melalui Australian Governments Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) serta sektor swasta. Total dana yang dialokasikan pada fase pertama diperkirakan US$250juta untuk mendukung 20 proyek percontohan di provinsi Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Tim gabungan ilmuwan, satelit, dan pakar kebijakan mengembangkan platform digital untuk memantau tutupan hutan secara realtime. Data ini terintegrasi dengan sistem REDD+ nasional, memastikan transparansi dan akurasi laporan emisi.
Program Hutan untuk Hidup melibatkan suku Dayak, Toraja, dan masyarakat nelayan dalam perencanaan dan implementasi. Pendapatan dari penjualan kredit karbon dibagi secara adil, dengan sebagian besar dialokasikan untuk pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur desa.
Proyek penanaman kembali mencakup lebih dari 150.000 hektar lahan terdegradasi, menggunakan varietas pohon asli yang tahan iklim. Selain menyerap CO, restorasi ini meningkatkan keanekaragaman hayati dan mengurangi risiko banjir.
Menurut evaluasi interim 2023, IFCP telah berhasil menurunkan laju deforestasi sebesar 25% di area target dan mengurangi emisi sekitar 1,2 juta ton CO ekuivalen per tahun. Restorasi hutan meningkatkan habitat bagi spesies terancam seperti orangutan, badak Sumatera, dan burung cendrawasih.
Warga desa yang terlibat dalam proyek menerima pendapatan ratarata US$350 per rumah tangga per tahun, yang setara dengan peningkatan 30% dari pendapatan tradisional. Selain itu, program pelatihan mengajarkan teknik agroforestry, pengelolaan kebun kopi shadegrown, dan pemanfaatan produk nonkayu (misalnya, madu hutan).
Beberapa kendala yang muncul antara lain:
Pada fase kedua (20242028), IFCP menargetkan:
IndonesiaAustralia Forest Carbon Partnership menunjukkan bagaimana kerjasama bilateral dapat menghasilkan dampak iklim yang signifikan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Dengan investasi berkelanjutan, teknologi modern, dan pendekatan inklusif, IFCP menjadi model bagi negaranegara lain yang ingin menggabungkan tujuan lingkungan dan ekonomi dalam memerangi perubahan iklim.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi IFCP atau DFAT Australia.
