Narasi Kisah
Suasana begitu sepi sehingga terdengar percakapan keempat lilin tersebut. Lilin yang pertama mendesah lembut dan mulai berbicara.
Perlahan-lahan, seiring dengan pudarnya keyakinan akan kedamaian di bumi, api dari lilin pertama itu pun bergoyang, mengecil, dan akhirnya padam sepenuhnya.
Lilin kedua kemudian angkat bicara dengan nada suara yang penuh kesedihan.
Begitu ia selesai berbicara, embusan angin skeptisisme meniup apinya yang kian rapuh. Lilin kedua pun padam, meninggalkan kegelapan yang semakin tebal.
Kini giliran lilin ketiga yang berbicara dengan nada yang sangat lirih dan penuh kepedihan.
Tanpa menunggu waktu lama, api lilin ketiga pun menyusut dan padam, meninggalkan ruangan tersebut dalam kegelapan yang hampir sempurna. Hanya tersisa satu lilin yang masih tegak berdiri dengan nyala api kecilnya yang bergoyang-goyang.
Tiba-tiba, seorang anak kecil masuk ke dalam ruangan tersebut. Menyadari tiga dari empat lilin telah padam, matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan akan kegelapan yang kian mencekam.
Mendengar rintihan sang anak, lilin keempat yang masih menyala dengan setia pun berbisik lembut, menenangkan hati anak tersebut.
Dengan mata yang kembali berbinar dan penuh semangat, anak itu mengambil lilin Harapan. Menggunakan apinya yang kecil namun tangguh, ia menyalakan kembali lilin Perdamaian, lilin Iman, dan lilin Cinta. Ruangan itu pun kembali terang benderang, dipenuhi kehangatan dan cahaya kehidupan yang baru.
