Leukemia mielogenus akut (LMA) adalah kelainan pada sel darah putih yang bersifat ganas dan berkembang cepat. Pada LMA, sumsum tulang memproduksi selsel prekursor mieloid (granulosit, monosit) yang tidak matang dan tidak berfungsi dengan baik. Selsel ini menumpuk, mengganggu produksi sel darah normal, sehingga menimbulkan gejala anemia, infeksi, dan perdarahan.
Penyebab pasti LMA belum diketahui secara lengkap, namun beberapa faktor risiko telah diidentifikasi:
Gejala LMA biasanya muncul secara mendadak dan dapat meliputi:
Diagnosa LMA melibatkan serangkaian pemeriksaan:
LMA dibagi menjadi beberapa subtipe berdasarkan klasifikasi WHO yang memperhitungkan morfologi, imunofenotip, dan perubahan genetik. Setiap subtipe memiliki profil risiko yang berbeda, misalnya:
Pendekatan pengobatan LMA bersifat multimodal:
Tujuannya adalah mencapai remisi lengkap (RC). Regimen paling umum meliputi kombinasi cytarabine (araC) dan anthracycline (misalnya daunorubicin).
Setelah RC, pasien biasanya menerima siklus kemoterapi tambahan atau transplantasi sel punca (HSCT) untuk menurunkan risiko relapse.
Jika terdapat mutasi khusus, obatobatan seperti midostaurin (FLT3 inhibitor) atau enasidenib (IDH2 inhibitor) dapat ditambahkan.
HSCT dari donor yang cocok menjadi pilihan utama pada pasien dengan risiko tinggi atau yang mengalami relapse setelah kemoterapi.
Kelangsungan hidup tergantung pada usia, status kesehatan umum, subtipe genetik, dan respons terhadap terapi induksi. Pada pasien muda (<60tahun) dengan kelainan genetik yang menguntungkan, angka kelangsungan hidup 5tahun dapat mencapai 4060%. Pada pasien lebih tua atau dengan faktor risiko buruk, angka tersebut jauh lebih rendah.
Setelah remisi, pasien harus menjalani pemeriksaan rutin:
Karena banyak faktor risiko tidak dapat dihindari, fokus utama adalah deteksi dini dan edukasi:
Leukemia mielogenus akut merupakan penyakit hematologi agresif dengan variasi subtipe genetik yang memengaruhi prognosis. Diagnosis cepat melalui pemeriksaan darah dan sumsum tulang, diikuti oleh terapi intensif (kemoterapi, transplantasi, dan terapi target) memberikan peluang remisi pada banyak pasien. Pendidikan masyarakat, pemantauan rutin, dan dukungan medis yang komprehensif sangat penting untuk meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup penderita LMA.
Sumber: Pedoman klinis AML (WHO 2022), artikel jurnal hematologi, dan situs resmi lembaga kesehatan.
