Limfadenitis tuberkulosis adalah salah satu bentuk tuberkulosis di luar paru yang paling umum terjadi. Kondisi ini terjadi ketika bakteri Mycobacterium tuberculosis menginfeksi kelenjar getah bening, menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada kelenjar tersebut.
Tuberkulosis (TB) sering kali dikenal sebagai penyakit yang menyerang paru-paru. Namun, bakteri penyebab TB dapat menyebar melalui aliran darah atau sistem limfatik ke bagian tubuh lainnya, termasuk kelenjar getah bening. Ketika hal ini terjadi, sistem kekebalan tubuh bereaksi dengan membentuk benjolan yang sering ditemukan di area leher, ketiak, atau selangkangan.
Gejala yang paling umum muncul adalah pembengkakan pada kelenjar getah bening yang biasanya tidak disertai rasa nyeri pada tahap awal. Beberapa tanda dan gejala lainnya meliputi:
Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Seseorang dapat terpapar bakteri ini melalui droplet (percikan dahak) dari penderita TB paru yang aktif. Setelah masuk ke dalam tubuh, bakteri dapat menetap di kelenjar getah bening dan berkembang biak, memicu respons peradangan kronis.
Dokter biasanya melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan diagnosis, di antaranya:
Pengobatan utama untuk limfadenitis TB adalah terapi obat anti-tuberkulosis (OAT). Program pengobatan ini biasanya berlangsung selama minimal 6 hingga 9 bulan, tergantung pada respons tubuh pasien terhadap obat.
Sangat penting bagi pasien untuk mematuhi jadwal minum obat yang diberikan dokter. Menghentikan pengobatan sebelum waktunya dapat menyebabkan resistensi bakteri, yang membuat penyakit menjadi jauh lebih sulit diobati di kemudian hari.
Pencegahan terbaik adalah dengan menjaga sistem kekebalan tubuh tetap kuat dan menghindari paparan langsung dengan penderita TB paru yang belum menjalani pengobatan. Selain itu, pemberian vaksin BCG sejak bayi sangat dianjurkan untuk mencegah bentuk TB yang lebih parah pada anak-anak.
Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal menemukan benjolan yang menetap di area leher atau ketiak, segera konsultasikan dengan tenaga medis profesional untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan sedini mungkin.
