Stenosis mitral adalah penyempitan lubang katup mitral yang menghubungkan atrium kiri dengan ventrikel kiri jantung. Kondisi ini menghambat aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri, sehingga meningkatkan tekanan di atrium kiri dan menyebabkan berbagai gangguan hemodinamik. Penyakit ini paling sering disebabkan oleh demam reumatik, meskipun penyebab lain seperti kalsifikasi degeneratif atau kelainan bawaan juga dapat ditemukan.
Katup mitral terdiri dari dua daun katup (anterior dan posterior) yang dihubungkan oleh korda tendinea dan otot papilaris. Fungsi normalnya adalah membuka saat diastol untuk mengalirkan darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri, dan menutup saat sistol untuk mencegah regurgitasi. Pada stenosis mitral, area lubang katup yang normal sekitar 46 cm menyempit menjadi kurang dari 2 cm, sehingga menimbulkan hambatan aliran yang signifikan.
Penyebab tersering stenosis mitral adalah demam reumatik, yang merupakan komplikasi dari infeksi tenggorokan akibat bakteri Streptococcus pyogenes. Respons autoimun terhadap bakteri ini menyebabkan peradangan kronis pada katup jantung, terutama katup mitral. Proses peradangan berulang mengakibatkan penebalan, fusi komisura, dan kalsifikasi daun katup, sehingga lubang katup menyempit. Stenosis mitral akibat reumatik biasanya baru terlihat 1020 tahun setelah episode demam reumatik akut.
Faktor risiko utama adalah riwayat demam reumatik, infeksi streptokokus berulang, status sosial ekonomi rendah, dan akses terbatas ke pengobatan antibiotik yang adekuat.
Penyempitan lubang katup mitral menciptakan gradien tekanan antara atrium kiri dan ventrikel kiri selama diastol. Untuk mempertahankan aliran darah yang cukup, tekanan atrium kiri meningkat. Peningkatan tekanan ini diteruskan ke vena pulmonalis dan kapiler paru, menyebabkan kongesti paru. Jika berlangsung kronis, dapat timbul hipertensi pulmonal, yang selanjutnya membebani ventrikel kanan. Ventrikel kanan mengalami hipertrofi dan akhirnya gagal (kor pulmonale). Pada stadium lanjut, atrium kiri membesar dan sering terjadi fibrilasi atrium karena regangan dan fibrosis dinding atrium.
Gejala stenosis mitral bergantung pada derajat penyempitan dan lamanya penyakit. Pada stenosis ringan (area >1,5 cm) sering tidak bergejala. Gejala biasanya timbul saat area lubang <1,5 cm. Gejala utama meliputi:
Gejala yang khas adalah sesak yang memburuk saat aktivitas, posisi terlentang, atau saat emosi. Pada stenosis mitral berat, dapat timbul sindrom Ortner (suara serak akibat penekanan nervus laringeus rekuren oleh atrium kiri yang membesar).
Dokter dapat menemukan beberapa tanda khas pada auskultasi jantung:
Pada palpasi, dapat teraba impuls ventrikel kanan yang kuat di parasternal kiri bawah. Pada inspeksi, pasien mungkin tampak sianotik (pada stenosis berat) atau memiliki facies mitralis (pipi kemerahan dan sianosis perifer).
Ekokardiografi adalah modalitas utama untuk diagnosis stenosis mitral. Pemeriksaan ini dapat mengukur luas area katup mitral (planimetri atau pressure half-time), gradien tekanan diastolik rata-rata, serta menilai morfologi katup (penebalan, kalsifikasi, mobilitas daun katup). Ekokardiografi transesofageal memberikan gambaran lebih rinci, terutama untuk menyingkirkan trombus di atrium kiri sebelum tindakan intervensi.
EKG dapat menunjukkan hipertrofi atrium kiri (gelombang P lebar dan notched pada lead II) serta fibrilasi atrium pada kasus kronis. Hipertrofi ventrikel kanan juga dapat terlihat pada stenosis berat dengan hipertensi pulmonal.
Pada foto toraks, gambaran khas adalah pembesaran atrium kiri yang mendorong esofagus ke kanan, bayangan double density di tepi kanan jantung, elevasi bronkus kiri, dan tanda-tanda kongesti paru (redistribusi vaskular, garis Kerley B, edema paru interstisial). Pada hipertensi pulmonal, terlihat prominen arteri pulmonalis dan pembesaran ventrikel kanan.
Kateterisasi dilakukan bila terdapat ketidaksesuaian antara gejala dan hasil ekokardiografi, atau untuk menilai hipertensi pulmonal dan penyakit arteri koroner bersamaan. Pengukuran langsung gradien tekanan melintasi katup mitral dan perhitungan area katup dengan rumus Gorlin dapat dikonfirmasi.
Derajat stenosis mitral dibagi berdasarkan area katup, gradien tekanan rata-rata, dan tekanan arteri pulmonalis:
| Derajat | Area Katup | Gradien Tekanan Rata-rata | Tekanan Arteri Pulmonalis |
|---|---|---|---|
| Ringan | >1,5 cm | <5 mmHg | Normal |
| Sedang | 1,01,5 cm | 510 mmHg | Meningkat ringan |
| Berat | <1,0 cm | >10 mmHg | Meningkat signifikan |
Pasien tanpa gejala atau stenosis ringan dapat diobservasi dan diberikan profilaksis antibodi (antibiotik) untuk mencegah demam reumatik berulang. Obat-obatan yang digunakan meliputi:
Untuk stenosis sedang hingga berat yang simptomatis, diperlukan tindakan mekanis untuk membuka katup:
Stenosis mitral pada kehamilan memerlukan perhatian khusus karena peningkatan volume darah dan denyut jantung dapat memperburuk gejala. Tatalaksana meliputi pembatasan aktivitas, diuretik jika perlu, beta-blocker, dan jika berat, PBMV dapat dilakukan dengan perlindungan radiasi minimal.
Perjalanan alamiah stenosis mitral bervariasi. Pasien asimtomatik memiliki prognosis baik, dengan kelangsungan hidup 10 tahun mencapai 80% atau lebih. Namun, setelah timbul gejala berat, prognosis tanpa intervensi buruk, dengan angka kematian 5 tahun sekitar 60%. Intervensi valvuloplasti atau pembedahan secara signifikan memperbaiki kelangsungan hidup dan kualitas hidup. Faktor prognostik buruk meliputi usia lanjut, fibrilasi atrium, hipertensi pulmonal berat, dan fraksi ejeksi ventrikel kiri yang rendah.
Pencegahan primer demam reumatik melalui diagnosis dan pengobatan infeksi tenggorokan streptokokus dengan antibiotik (penisilin) sangat penting. Bagi pasien yang pernah mengalami demam reumatik, profilaksis antibiotik jangka panjang (biasanya penisilin oral atau injeksi setiap 34 minggu) dapat mencegah kekambuhan dan progresivitas penyakit katup. Vaksinasi terhadap influenza dan pneumonia juga dianjurkan untuk mengurangi risiko infeksi pernapasan yang dapat memperburuk kondisi.
Stenosis mitral adalah penyakit katup jantung yang serius namun dapat ditangani dengan baik jika terdiagnosis secara dini. Penyebab utama adalah demam reumatik, yang sebenarnya dapat dicegah. Gejala khas berupa sesak napas progresif dan murmur diastolik. Ekokardiografi adalah andalan diagnosis. Penatalaksanaan mencakup terapi medis, valvuloplasti balon, komisurotomi, atau penggantian katup. Dengan pengobatan yang tepat, mayoritas pasien dapat mencapai perbaikan gejala dan harapan hidup yang baik. Edukasi mengenai profilaksis demam reumatik tetap menjadi langkah pencegahan paling efektif di negara berkembang.
* Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis langsung. Selalu rujuk ke dokter spesialis jantung untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.
