Dalam studi logika formal, khususnya logika Aristotelian, oposisi merujuk pada hubungan antara dua proposisi kategoris yang memiliki subjek dan predikat yang sama, namun berbeda dalam kualitas, kuantitas, atau keduanya. Memahami oposisi sangat penting untuk menarik kesimpulan yang valid dari pernyataan-pernyataan yang ada.
Sebelum membahas jenis-jenis oposisi, kita harus mengenal empat bentuk dasar proposisi yang dilambangkan dengan huruf vokal:
Hubungan ini terjadi antara proposisi universal (A dan E). Keduanya tidak bisa benar secara bersamaan, tetapi bisa salah secara bersamaan. Jika "Semua manusia adalah makhluk hidup" (A) benar, maka "Tidak ada manusia yang merupakan makhluk hidup" (E) pasti salah. Namun, keduanya bisa salah jika kita berbicara tentang hal lain, misalnya "Semua hewan adalah burung" (salah) dan "Tidak ada hewan yang merupakan burung" (juga salah).
Hubungan ini terjadi antara proposisi partikular (I dan O). Keduanya tidak bisa salah secara bersamaan, tetapi bisa benar secara bersamaan. Jika "Beberapa manusia adalah dokter" (I) benar, maka mungkin saja "Beberapa manusia bukan dokter" (O) juga benar. Namun, keduanya tidak mungkin salah pada saat yang sama.
Ini adalah jenis oposisi yang paling kuat. Terjadi antara A dengan O, serta E dengan I. Dalam hubungan ini, satu proposisi harus benar dan yang lainnya harus salah. Tidak ada kemungkinan ketiganya benar atau salah. Jika "Semua orang jujur" (A) adalah salah, maka secara logis "Beberapa orang tidak jujur" (O) harus benar.
Ini adalah hubungan antara proposisi universal dengan partikular yang memiliki kualitas sama (A dengan I, serta E dengan O). Jika proposisi universal (A atau E) benar, maka proposisi partikular di bawahnya (I atau O) otomatis benar. Namun, jika proposisi partikular benar, belum tentu universalnya benar.
Dengan menggunakan prinsip-prinsip oposisi ini, seorang pemikir dapat melakukan inferensi langsung. Artinya, kita dapat mengetahui kebenaran atau kesalahan suatu proposisi hanya dengan melihat hubungannya dengan proposisi lain yang sudah diketahui nilainya. Ini merupakan fondasi dasar dalam berpikir kritis dan argumentasi logis agar terhindar dari kesesatan berpikir atau falasi.
Secara ringkas, logika oposisi mengajarkan kita bagaimana memetakan kebenaran antar pernyataan. Dengan memahami bahwa proposisi yang kontradiktoris tidak bisa benar sekaligus, kita dapat mendeteksi inkonsistensi dalam argumen orang lain atau bahkan dalam pemikiran kita sendiri.
