Puyer merupakan bentuk sediaan farmasi yang umum digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar seperti Puskesmas, terutama untuk pasien anak-anak. Salah satu komponen obat yang paling sering diracik dalam sediaan puyer adalah parasetamol, yang dikenal sebagai agen antipiretik dan analgetik yang aman jika digunakan dalam dosis yang tepat. Namun, proses peracikan puyer secara manual di Puskesmas memiliki risiko variasi kadar antar bungkus puyer yang disebabkan oleh teknik pencampuran, homogenitas serbuk, maupun faktor lingkungan. Oleh karena itu, pengawasan mutu melalui penetapan kadar menjadi sangat penting untuk menjamin efikasi dan keamanan obat yang sampai ke tangan masyarakat di Kota Banjarbaru.
Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan di Kota Banjarbaru melayani jumlah pasien yang signifikan setiap harinya. Ketersediaan sediaan puyer yang bermutu tinggi menjadi indikator kualitas layanan kefarmasian. Penetapan kadar parasetamol bertujuan untuk memastikan bahwa setiap dosis yang diberikan sesuai dengan perhitungan dosis yang diresepkan oleh dokter. Jika kadar terlalu rendah, efikasi obat tidak akan tercapai (sub-terapi), sedangkan jika kadar terlalu tinggi, risiko toksisitas atau efek samping yang tidak diinginkan dapat meningkat.
Instrumen Spektrofotometri UV-Vis merupakan metode analisis kuantitatif yang efisien, akurat, dan relatif ekonomis untuk penetapan kadar senyawa kimia dalam sediaan farmasi. Metode ini didasarkan pada penyerapan radiasi elektromagnetik oleh gugus kromofor pada molekul parasetamol pada panjang gelombang tertentu (biasanya sekitar 243-249 nm dalam pelarut asam atau basa).
Proses analisis dimulai dengan penyiapan sampel puyer yang dilarutkan dalam pelarut yang sesuai, kemudian dilakukan proses filtrasi untuk memisahkan zat aktif dari bahan tambahan (eksipien) yang mungkin mengganggu pengukuran. Larutan standar parasetamol dengan berbagai konsentrasi dibuat untuk menghasilkan kurva kalibrasi berdasarkan hukum Lambert-Beer, yang kemudian digunakan untuk menentukan kadar sampel dari Puskesmas-Puskesmas di Kota Banjarbaru.
Penelitian ini mencakup pengambilan sampel puyer secara acak dari seluruh Puskesmas yang tersebar di wilayah Kota Banjarbaru. Setiap sampel dilakukan analisis laboratorium untuk melihat konsistensi kadar dibandingkan dengan klaim dosis yang tertulis pada etiket obat. Keragaman teknik peracikan dan peralatan yang digunakan oleh tenaga teknis kefarmasian di masing-masing unit Puskesmas menjadi variabel yang diperhatikan dalam evaluasi ini.
Secara umum, penetapan kadar dengan spektrofotometri UV memberikan gambaran mengenai apakah distribusi parasetamol dalam puyer telah memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia. Jika ditemukan hasil di luar rentang kadar yang ditetapkan, evaluasi mendalam dilakukan terhadap prosedur operasional standar (SOP) peracikan obat di unit terkait. Hasil analisis ini menjadi masukan penting bagi Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru dalam meningkatkan pelatihan teknis bagi staf kefarmasian agar proses peracikan puyer dilakukan secara seragam dan memenuhi standar cara pembuatan obat yang baik.
Penetapan kadar parasetamol dalam sediaan puyer menggunakan spektrofotometri UV di Puskesmas Kota Banjarbaru merupakan langkah preventif yang krusial untuk menjaga standar kualitas obat. Melalui metode ini, tenaga kesehatan dapat memonitor homogenitas sediaan dan memastikan kepatuhan terhadap dosis yang tepat. Keberhasilan pengawasan mutu ini pada akhirnya akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan di Puskesmas dan menjamin keselamatan pasien dalam penggunaan obat-obatan racikan.
