Pengaruh Faktor Internal Dan Eksternal Terhadap Perilaku Berusahatani Padi Sawah Dan Produktivitas Padi Sawah Di Desa Salukaia Kecamatan Pamona Barat dan Link Download File Referensi

https://eu2.contabostorage.com/00f3241116844f24b628f46d81abb929:st1/folder2/2881/jmuser_file_1642353554_8d0b522e2939ae662dbb27d594da1714.pptx

2026-05-24 05:05:06 - Admin

<style> * { margin: 0; padding: 0; box-sizing: border-box; } body { font-family: 'Georgia', 'Times New Roman', serif; background-color: #f9f7f2; color: #2c3e2d; line-height: 1.8; padding: 0; } .container { max-width: 880px; margin: 0 auto; padding: 40px 30px 60px; background-color: #ffffff; box-shadow: 0 0 20px rgba(0,0,0,0.05); } h1 { font-size: 26px; text-align: center; margin-bottom: 8px; color: #1a3c1f; line-height: 1.4; font-weight: 700; } .subtitle { text-align: center; font-style: italic; color: #5a7a5e; margin-bottom: 30px; font-size: 15px; border-bottom: 2px solid #dce4d8; padding-bottom: 18px; } h2 { font-size: 20px; margin-top: 30px; margin-bottom: 14px; color: #1f4a26; border-left: 5px solid #4a7c4f; padding-left: 14px; } h3 { font-size: 17px; margin-top: 22px; margin-bottom: 10px; color: #2d5e34; } p { margin-bottom: 16px; text-align: justify; font-size: 16px; } ul, ol { margin-left: 28px; margin-bottom: 18px; } li { margin-bottom: 6px; text-align: justify; font-size: 16px; } .highlight-box { background-color: #f1f6ef; border-left: 4px solid #4a7c4f; padding: 16px 20px; margin: 20px 0; border-radius: 0 6px 6px 0; } .highlight-box p { margin-bottom: 6px; } .table-container { overflow-x: auto; margin: 20px 0; } table { width: 100%; border-collapse: collapse; font-size: 15px; } table th { background-color: #4a7c4f; color: white; padding: 10px 12px; text-align: center; font-weight: 600; } table td { padding: 9px 12px; border: 1px solid #d0dacd; text-align: center; } table tr:nth-child(even) { background-color: #f5f8f3; } .intro { font-size: 17px; font-weight: 500; color: #1a3c1f; background: #f4f8f2; padding: 14px 20px; border-radius: 6px; margin-bottom: 22px; } @media (max-width: 600px) { .container { padding: 20px 16px 40px; } h1 { font-size: 20px; } h2 { font-size: 18px; } p, li { font-size: 15px; } } </style><body> <div class="container"> <h1>Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal terhadap Perilaku Berusahatani Padi Sawah dan Produktivitas Padi Sawah di Desa Salukaia Kecamatan Pamona Barat</h1> <div class="subtitle">Studi Kasus pada Petani Padi Sawah di Kawasan Pertanian Sulawesi Tengah</div> <p class="intro">Desa Salukaia yang terletak di Kecamatan Pamona Barat, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, merupakan salah satu sentra produksi padi sawah yang memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan lokal. Kehidupan sebagian besar masyarakatnya bergantung pada usahatani padi sawah yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, produktivitas padi sawah di wilayah ini menunjukkan fluktuasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari dalam diri petani maupun dari luar diri petani. Artikel ini membahas secara mendalam pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap perilaku berusahatani padi sawah serta dampaknya terhadap produktivitas padi sawah di Desa Salukaia.</p> <h2>Pendahuluan</h2> <p>Pertanian padi sawah di Desa Salukaia telah menjadi tulang punggung perekonomian desa selama beberapa generasi. Lahan sawah yang membentang di sepanjang lembah dan dataran rendah Pamona Barat memiliki potensi besar untuk menghasilkan gabah yang berkualitas. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, produktivitas padi sawah di desa ini belum mencapai potensi optimalnya. Berbagai permasalahan muncul, mulai dari keterbatasan modal, fluktuasi harga input pertanian, perubahan cuaca, hingga pola budidaya yang masih tradisional. Untuk memahami akar permasalahan ini, perlu dikaji secara sistematis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku petani dalam berusahatani, yang pada akhirnya akan berdampak pada produktivitas yang dicapai.</p> <p>Perilaku berusahatani mencakup keputusan petani dalam memilih varietas benih, menentukan dosis pupuk, mengendalikan organisme pengganggu tanaman, mengatur irigasi, serta menerapkan teknologi panen dan pascapanen. Keputusan-keputusan ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh faktor internal yang melekat pada diri petani dan faktor eksternal yang berasal dari lingkungan di sekitarnya. Pendekatan ini relevan untuk diterapkan di Desa Salukaia, mengingat karakteristik sosial ekonomi petani yang beragam serta dinamika lingkungan pertanian yang terus berubah.</p> <h2>Faktor Internal yang Memengaruhi Perilaku Berusahatani</h2> <p>Faktor internal merupakan karakteristik yang melekat pada diri petani dan menjadi landasan dalam pengambilan keputusan usahatani. Di Desa Salukaia, faktor internal yang dominan meliputi usia petani, tingkat pendidikan formal dan nonformal, pengalaman berusahatani, jumlah anggota keluarga, luas lahan garapan, serta ketersediaan modal sendiri.</p> <h3>Usia Petani</h3> <p>Usia petani di Desa Salukaia bervariasi, dengan sebagian besar berada pada rentang 4060 tahun. Petani yang lebih muda cenderung lebih terbuka terhadap inovasi dan teknologi baru, seperti penggunaan benih unggul bersertifikat dan pupuk berimbang. Sebaliknya, petani lanjut usia lebih mempertahankan cara-cara tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun. Petani muda di Salukaia, meskipun jumlahnya lebih sedikit, menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi dalam mengadopsi teknik budidaya modern, termasuk penggunaan alat pertanian mekanis dan sistem tanam jajar legowo.</p> <h3>Tingkat Pendidikan</h3> <p>Tingkat pendidikan petani di Desa Salukaia umumnya masih didominasi oleh lulusan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Hanya sebagian kecil yang melanjutkan ke jenjang sekolah menengah atas atau perguruan tinggi. Pendidikan memengaruhi kemampuan petani dalam menyerap informasi, memahami rekomendasi teknis dari penyuluh pertanian, serta menghitung efisiensi usahatani. Petani dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih rasional dalam mengelola input produksi dan lebih responsif terhadap program-program pemerintah.</p> <h3>Pengalaman Berusahatani</h3> <p>Pengalaman berusahatani yang panjang, umumnya lebih dari 15 tahun, menjadi modal berharga bagi petani di Desa Salukaia. Petani berpengalaman memiliki pengetahuan lokal yang mendalam tentang karakteristik lahan, pola musim, dan teknik budidaya yang sesuai. Namun, pengalaman yang panjang juga kadang menjadi hambatan untuk berubah, terutama jika petani merasa bahwa cara-cara lama sudah cukup berhasil. Di sinilah peran penyuluhan untuk menjembatani kearifan lokal dengan inovasi teknologi.</p> <h3>Jumlah Anggota Keluarga</h3> <p>Jumlah anggota keluarga memengaruhi ketersediaan tenaga kerja dalam usahatani. Petani dengan jumlah anggota keluarga yang lebih besar cenderung dapat mengelola lahan yang lebih luas atau melakukan pemeliharaan tanaman yang lebih intensif. Namun, di sisi lain, jumlah anggota keluarga yang besar juga meningkatkan kebutuhan konsumsi rumah tangga, sehingga petani perlu menghasilkan produksi yang lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Di Desa Salukaia, keluarga petani rata-rata terdiri dari 45 orang, dengan sebagian besar anggota keluarga ikut serta dalam kegiatan usahatani pada musim tanam dan panen.</p> <h3>Luas Lahan Garapan</h3> <p>Luas lahan garapan petani di Desa Salukaia bervariasi, mulai dari 0,25 hektar hingga 2 hektar. Sebagian besar petani termasuk dalam kategori petani kecil dengan lahan kurang dari 0,5 hektar. Luas lahan yang sempit membatasi skala usahatani dan efisiensi ekonomi, sehingga petani cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil risiko. Petani dengan lahan yang lebih luas memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam menerapkan teknologi dan diversifikasi usahatani.</p> <h3>Modal Sendiri</h3> <p>Modal merupakan faktor internal yang sangat krusial. Petani di Desa Salukaia yang memiliki modal sendiri yang cukup cenderung lebih leluasa dalam membeli input produksi berkualitas tinggi, seperti benih unggul, pupuk bersubsidi, dan pestisida yang tepat. Sebaliknya, petani yang kekurangan modal seringkali harus bergantung pada tengkulak atau lembaga keuangan informal dengan bunga yang tinggi, yang pada akhirnya mengurangi pendapatan bersih mereka.</p> <div class="highlight-box"> <p><strong>Tabel 1.</strong> Karakteristik Faktor Internal Petani Padi Sawah di Desa Salukaia</p> <div class="table-container"> <table> <thead> <tr> <th>Faktor Internal</th> <th>Kategori</th> <th>Persentase (%)</th> <th>Pengaruh terhadap Perilaku</th> </tr> </thead> <tbody> <tr> <td>Usia</td> <td>2540 tahun</td> <td>28</td> <td>Lebih adaptif terhadap teknologi</td> </tr> <tr> <td>Usia</td> <td>> 40 tahun</td> <td>72</td> <td>Cenderung mempertahankan cara tradisional</td> </tr> <tr> <td>Pendidikan</td> <td>SMP ke bawah</td> <td>65</td> <td>Kurang responsif terhadap inovasi</td> </tr> <tr> <td>Pendidikan</td> <td>SMA ke atas</td> <td>35</td> <td>Lebih terbuka terhadap pembaruan</td> </tr> <tr> <td>Luas Lahan</td> <td>< 0,5 ha</td> <td>58</td> <td>Keterbatasan skala usaha</td> </tr> <tr> <td>Luas Lahan</td> <td> 0,5 ha</td> <td>42</td> <td>Lebih leluasa berinovasi</td> </tr> </tbody> </table> </div> </div> <h2>Faktor Eksternal yang Memengaruhi Perilaku Berusahatani</h2> <p>Faktor eksternal adalah kondisi di luar diri petani yang turut menentukan keputusan usahatani. Di Desa Salukaia, faktor eksternal yang paling berpengaruh meliputi kondisi iklim dan cuaca, ketersediaan air irigasi, harga input dan output pertanian, kebijakan pemerintah, akses terhadap kredit, serta peran kelembagaan petani dan penyuluhan.</p> <h3>Kondisi Iklim dan Cuaca</h3> <p>Iklim dan cuaca merupakan faktor eksternal yang sangat menentukan keberhasilan usahatani padi sawah di Desa Salukaia. Perubahan pola musim yang tidak menentu, seperti kemarau yang berkepanjangan atau hujan yang datang di luar musim, mengganggu jadwal tanam dan pertumbuhan tanaman. Petani di Salukaia mengaku bahwa pergeseran musim membuat mereka kesulitan menentukan waktu tanam yang tepat, yang berakibat pada meningkatnya risiko gagal panen. Fenomena El Nio dan La Nia memberikan dampak yang nyata terhadap produktivitas padi sawah di daerah ini.</p> <h3>Ketersediaan Air Irigasi</h3> <p>Air irigasi merupakan faktor vital bagi pertanian padi sawah. Desa Salukaia memiliki sistem irigasi yang sebagian besar bersumber dari sungai-sungai kecil di sekitar desa. Namun, infrastruktur irigasi yang ada belum sepenuhnya memadai, terutama pada musim kemarau ketika debit air menurun. Petani seringkali harus bergiliran dalam mengairi lahan mereka, yang menyebabkan keterlambatan tanam dan penurunan produktivitas. Kondisi ini memengaruhi perilaku petani dalam memilih varietas padi yang tahan kekeringan dan mengatur pola tanam.</p> <h3>Harga Input dan Output Pertanian</h3> <p>Fluktuasi harga benih, pupuk, dan pestisida menjadi kendala klasik yang dihadapi petani di Desa Salukaia. Harga pupuk nonsubsidi yang terus meningkat membuat petani cenderung mengurangi dosis pemupukan, yang pada gilirannya menurunkan produktivitas. Di sisi lain, harga gabah di tingkat petani seringkali tidak stabil dan cenderung lebih rendah saat musim panen raya. Kondisi ini memengaruhi motivasi petani untuk menerapkan budidaya yang optimal karena khawatir biaya produksi tidak tertutupi oleh harga jual.</p> <h3>Kebijakan Pemerintah</h3> <p>Kebijakan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku berusahatani. Program subsidi pupuk, bantuan benih unggul, dan asuransi usahatani padi merupakan beberapa kebijakan yang dinikmati petani di Desa Salukaia. Namun, distribusi bantuan yang kadang tidak tepat waktu dan tidak tepat sasaran mengurangi efektivitas program tersebut. Petani juga merasakan bahwa kebijakan harga dasar gabah yang ditetapkan pemerintah belum sepenuhnya melindungi mereka dari fluktuasi pasar.</p> <h3>Akses terhadap Kredit</h3> <p>Akses terhadap sumber permodalan formal, seperti kredit usaha rakyat (KUR) dari perbankan, masih terbatas bagi sebagian besar petani di Desa Salukaia. Persyaratan administrasi yang rumit dan agunan yang tidak dimiliki menjadi hambatan utama. Akibatnya, petani lebih banyak memanfaatkan kredit informal dari tengkulak atau pedagang pengumpul dengan bunga yang relatif tinggi. Kondisi ini memengaruhi perilaku petani dalam pembelian input produksi, di mana mereka cenderung membeli dalam jumlah terbatas atau menggunakan kualitas yang lebih rendah.</p> <h3>Peran Kelembagaan dan Penyuluhan</h3> <p>Kelembagaan petani, seperti kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan), memiliki peran penting dalam mentransfer informasi dan teknologi kepada petani di Desa Salukaia. Kelompok tani menjadi wadah bagi petani untuk berbagi pengalaman, mengakses bantuan pemerintah, dan mengadakan demplot percobaan. Namun, intensitas pertemuan kelompok tani masih bervariasi, dan tidak semua petani aktif berpartisipasi. Penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang bertugas di Kecamatan Pamona Barat telah berupaya memberikan pendampingan teknis, namun jumlah penyuluh yang terbatas menjadi kendala dalam menjangkau seluruh petani secara merata.</p> <div class="highlight-box"> <p><strong>Tabel 2.</strong> Faktor Eksternal dan Dampaknya terhadap Usahatani Padi Sawah di Desa Salukaia</p> <div class="table-container"> <table> <thead> <tr> <th>Faktor Eksternal</th> <th>Kondisi di Desa Salukaia</th> <th>Dampak terhadap Produktivitas</th> </tr> </thead> <tbody> <tr> <td>Iklim dan cuaca</td> <td>Pergeseran musim, kemarau panjang</td> <td>Menurunkan frekuensi tanam</td> </tr> <tr> <td>Irigasi</td> <td>Debit air menurun saat kemarau</td> <td>Menunda waktu tanam</td> </tr> <tr> <td>Harga input</td> <td>Pupuk mahal, langka</td> <td>Mengurangi dosis pemupukan</td> </tr> <tr> <td>Kebijakan pemerintah</td> <td>Subsidi belum tepat waktu</td> <td>Kurang optimalnya bantuan</td> </tr> <tr> <td>Akses kredit</td> <td>Terbatas, bunga tinggi</td> <td>Keterbatasan modal usahatani</td> </tr> <tr> <td>Penyuluhan</td> <td>Intensitas rendah</td> <td>Adopsi inovasi lambat</td> </tr> </tbody> </table> </div> </div> <h2>Perilaku Berusahatani Padi Sawah</h2> <p>Perilaku berusahatani merupakan wujud nyata dari interaksi antara faktor internal dan eksternal yang dialami petani. Di Desa Salukaia, perilaku berusahatani tercermin dalam beberapa aspek utama, yaitu pemilihan varietas benih, penggunaan pupuk dan pestisida, sistem tanam, pengelolaan air, serta penanganan panen dan pascapanen.</p> <h3>Pemilihan Varietas Benih</h3> <p>Sebagian besar petani di Desa Salukaia menggunakan varietas unggul seperti Ciherang, Mekongga, dan Inpari. Varietas-varietas ini dipilih karena memiliki potensi hasil yang tinggi, umur panen yang relatif pendek, dan toleransi terhadap hama tertentu. Namun, masih ada sebagian petani yang menggunakan benih dari panen sebelumnya (benih lokal) karena pertimbangan biaya. Perilaku ini dipengaruhi oleh faktor internal berupa pengalaman dan faktor eksternal berupa ketersediaan benih bersertifikat di pasaran.</p> <h3>Penggunaan Pupuk dan Pestisida</h3> <p>Penggunaan pupuk di Desa Salukaia masih didominasi oleh pupuk urea dan NPK. Dosis pemupukan yang diterapkan petani bervariasi, umumnya lebih rendah dari rekomendasi teknis karena keterbatasan modal dan kelangkaan pupuk. Penggunaan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang masih terbatas, meskipun potensi bahan organik cukup melimpah. Dalam hal pengendalian hama, petani masih sangat bergantung pada pestisida kimia, dan sebagian kecil sudah mulai menerapkan pengendalian hama terpadu (PHT) dengan memanfaatkan musuh alami.</p> <h3>Sistem Tanam dan Pengelolaan Air</h3> <p>Sistem tanam yang dominan di Desa Salukaia adalah sistem konvensional dengan jarak tanam yang tidak seragam. Sebagian petani mulai mengadopsi sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1 yang direkomendasikan oleh penyuluh. Sistem ini terbukti meningkatkan populasi tanaman dan memudahkan perawatan serta panen. Pengelolaan air irigasi dilakukan secara bergilir berdasarkan kesepakatan antar petani, namun pada musim kemarau sering terjadi perselisihan akibat keterbatasan air.</p> <h3>Penanganan Panen dan Pascapanen</h3> <p>Panen padi di Desa Salukaia masih dilakukan secara manual menggunakan sabit, meskipun beberapa petani sudah menggunakan mesin panen (combine harvester) untuk lahan yang lebih luas. Penanganan pascapanen, seperti perontokan dan pengeringan, juga masih didominasi cara tradisional. Kondisi ini menyebabkan susut hasil yang cukup tinggi, mencapai 510 persen. Perilaku ini dipengaruhi oleh faktor internal berupa kebiasaan dan faktor eksternal berupa ketersediaan alat mesin pertanian.</p> <h2>Produktivitas Padi Sawah di Desa Salukaia</h2> <p>Produktivitas padi sawah di Desa Salukaia pada musim tanam terakhir tercatat rata-rata sekitar 4,25,0 ton gabah kering panen (GKP) per hektar. Angka ini masih di bawah potensi hasil varietas unggul yang dapat mencapai 67 ton per hektar. Kesenjangan produktivitas ini menunjukkan adanya faktor-faktor yang belum optimal dalam proses produksi. Beberapa petani yang menerapkan teknik budidaya yang baik, menggunakan benih bersertifikat, dan memiliki akses irigasi yang memadai mampu mencapai produktivitas hingga 5,8 ton per hektar. Sementara itu, petani yang terkendala modal dan teknis hanya memperoleh 3,54,0 ton per hektar.</p> <p>Produktivitas padi sawah dipengaruhi secara langsung oleh perilaku berusahatani, yang merupakan hasil akumulasi dari faktor internal dan eksternal. Petani yang memiliki usia produktif, pendidikan yang cukup, pengalaman yang baik, dan lahan yang memadai, serta didukung oleh kondisi iklim yang stabil, irigasi yang lancar, harga input yang terjangkau, dan akses penyuluhan yang intensif, cenderung menunjukkan perilaku berusahatani yang lebih optimal dan pada akhirnya memperoleh produktivitas yang lebih tinggi. Sebaliknya, kelemahan pada salah satu faktor internal atau eksternal dapat menyebabkan penurunan produktivitas secara keseluruhan.</p> <div class="highlight-box"> <p><strong>Gambar 1.</strong> Rata-rata Produktivitas Padi Sawah di Desa Salukaia per Musim Tanam (dalam ton GKP/ha)</p> <div class="table-container"> <table> <thead> <tr> <th>Musim Tanam</th> <th>Tahun</th> <th>Rata-rata Produktivitas (ton/ha)</th> <th>Kategori</th> </tr> </thead> <tbody> <tr> <td>Musim Hujan (MH)</td> <td>2023</td> <td>4,8</td> <td>Sedang</td> </tr> <tr> <td>Musim Kemarau (MK)</td> <td>2023</td> <td>4,2</td> <td>Rendah</td> </tr> <tr> <td>Musim Hujan (MH)</td> <td>2024</td> <td>5,0</td> <td>Sedang</td> </tr> <tr> <td>Musim Kemarau (MK)</td> <td>2024</td> <td>4,3</td> <td>Rendah</td> </tr> </tbody> </table> </div> <p style="margin-top:8px; font-size:14px; color:#3d5a3f;">Sumber: Data primer hasil wawancara petani di Desa Salukaia, 2024.</p> </div> <h2>Hubungan antara Faktor Internal, Faktor Eksternal, Perilaku, dan Produktivitas</h2> <p>Analisis di atas menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang saling terkait antara faktor internal, faktor eksternal, perilaku berusahatani, dan produktivitas padi sawah di Desa Salukaia. Faktor internal membentuk kapasitas dasar petani dalam mengambil keputusan, sedangkan faktor eksternal menyediakan peluang dan kendala yang membatasi atau mendorong keputusan tersebut. Interaksi keduanya menghasilkan perilaku berusahatani yang spesifik, yang pada akhirnya menentukan tingkat produktivitas.</p> <p>Sebagai contoh, seorang petani muda dengan pendidikan menengah atas dan lahan seluas 1 hektar (faktor internal yang mendukung) akan lebih mudah mengadopsi sistem tanam jajar legowo jika ia memiliki akses terhadap penyuluhan dan kredit (faktor eksternal yang mendukung). Perilaku berusahatani yang baik ini akan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan petani yang hanya mengandalkan faktor internal tanpa dukungan eksternal yang memadai. Sebaliknya, petani berpengalaman sekalipun akan kesulitan mencapai produktivitas optimal jika dihadapkan pada kondisi iklim yang ekstrem dan harga pupuk yang melambung tinggi.</p> <p>Oleh karena itu, upaya peningkatan produktivitas padi sawah di Desa Salukaia tidak dapat dilakukan secara parsial. Intervensi yang bersifat komprehensif diperlukan, yaitu dengan memperkuat faktor internal melalui pendidikan dan pelatihan, serta menciptakan lingkungan eksternal yang kondusif melalui perbaikan infrastruktur irigasi, stabilisasi harga input, perluasan akses kredit, dan penguatan kelembagaan petani. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pertanian berkelanjutan yang menyeimbangkan aspek teknis, ekonomi, dan sosial.</p> <h2>Kesimpulan</h2> <p>Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor internal dan eksternal memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku berusahatani padi sawah serta produktivitas padi sawah di Desa Salukaia, Kecamatan Pamona Barat. Faktor internal yang meliputi usia, pendidikan, pengalaman, jumlah anggota keluarga, luas lahan, dan modal sendiri membentuk kapasitas dan kecenderungan petani dalam mengambil keputusan teknis usahatani. Sementara itu, faktor eksternal seperti iklim, irigasi, harga inputoutput, kebijakan pemerintah, akses kredit, dan kelembagaan penyuluhan menyediakan kerangka peluang dan kendala yang memengaruhi implementasi keputusan tersebut.</p> <p>Perilaku berusahatani yang tercermin dalam pemilihan varietas, pemupukan, pengendalian hama, sistem tanam, dan penanganan pascapanen merupakan cerminan langsung dari interaksi kedua faktor tersebut. Produktivitas padi sawah di Desa Salukaia yang masih berada di bawah potensi optimal mengindikasikan perlunya perbaikan pada berbagai aspek, baik dari sisi internal petani maupun dukungan eksternal. Strategi peningkatan produktivitas harus dilakukan secara terpadu, dengan melibatkan petani, pemerintah, penyuluh, dan lembaga keuangan secara sinergis. Dengan pendekatan yang holistik dan partisipatif, diharapkan produksi padi sawah di Desa Salukaia dapat terus ditingkatkan untuk mewujudkan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan di Kecamatan Pamona Barat.</p> <p style="margin-top:24px; text-align:center; color:#5a7a5e; font-style:italic; border-top:1px solid #dce4d8; padding-top:18px;"> Terima kasih </p> </div>

Lebih banyak