Saliva atau air liur memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan pH mulut, melumasi jaringan, serta melindungi gigi dari kerusakan. pH saliva biasanya berada di kisaran 6,27,6, yang dianggap netralberkecambah. Fluktuasi pH yang terlalu asam (pH < 5,5) dapat melukainya enamel gigi dan meningkatkan risiko karies. Yoghurt, produk olahan susu yang difermentasi dengan bakteri Lactobacillus&Streptococcus, kaya akan probiotik, kalsium, fosfat, dan protein. Karena kandungan tersebut, yoghurt sering dipertimbangkan sebagai makanan yang dapat memengaruhi pH oral serta kesehatan gigi.
Setelah mengonsumsi yoghurt, beberapa mekanisme terjadi di mulut:
Studi laboratorium menunjukkan bahwa pH saliva menurun pada menit pertama setelah mengonsumsi yoghurt, tetapi kembali naik ke nilai baseline dalam 2045menit, tergantung pada jenis yoghurt (plain vs. berperisa) dan jumlah yang dikonsumsi.
Berikut beberapa manfaat yang telah terbukti secara ilmiah:
Kalsium dan fosfat yang tinggi membantu proses remineralisasi, memperbaiki mikrokavitasi pada enamel yang terjadi karena asam.
Probiotik dapat menurunkan jumlah Streptococcus mutans, bakteri utama penyebab karies, serta mengurangi keasaman yang dihasilkan.
Beberapa strain probiotik menghasilkan senyawa antibakteri yang menghambat pembentukan biofilm.
Kandungan probiotik membantu menyeimbangkan mikroflora mulut, mengurangi peradangan gusi.
Pengaruh yoghurt tidak bersifat universal; beberapa faktor dapat memodulasi hasilnya:
Yoghurt memiliki potensi yang baik untuk meningkatkan kesehatan mulut bila dipilih dan dikonsumsi dengan tepat. Kandungan kalsium, fosfat, dan probiotik dapat menetralkan asam, mempercepat remineralisasi enamel, serta menurunkan populasi bakteri karies. Namun, yoghurt berperisa tinggi gula dapat berbalik menjadi faktor risiko. Pilihan terbaik adalah yoghurt plain atau rendah gula, dikonsumsi secara teratur (12 porsi per hari) dan diikuti dengan kebiasaan oral hygiene yang baik.
