Campak (morbili, measles) merupakan salah satu penyakit infeksi virus yang sangat menular dan menjadi penyebab utama kematian anak-anak di berbagai negara berkembang sebelum era vaksinasi massal. Meskipun vaksin telah tersedia secara luas, campak masih menjadi ancaman kesehatan global karena cakupan imunisasi yang tidak merata dan munculnya kembali wabah di beberapa wilayah. Di Indonesia, campak termasuk dalam penyakit yang diawasi secara ketat melalui program imunisasi nasional. Artikel ini akan membahas secara komprehensif mengenai campak, mulai dari definisi, penyebab, gejala, cara penularan, diagnosis, pengobatan, hingga pencegahan.
Campak adalah penyakit eksantema akut yang disebabkan oleh Measles morbillivirus, anggota famili Paramyxoviridae. Virus ini memiliki amplop (enveloped virus) dan materi genetik RNA untai tunggal. Campak juga dikenal dengan istilah rubeola, berbeda dengan rubella (campak Jerman) yang disebabkan oleh virus yang berbeda. Virus campak sangat menular, dengan angka reproduksi dasar (R0) sekitar 1218, artinya satu orang yang terinfeksi dapat menularkan ke 12 hingga 18 orang lain dalam populasi yang rentan. Virus ini dapat bertahan di udara atau permukaan hingga dua jam.
Sebelum diperkenalkannya vaksin campak pada tahun 1963, hampir semua anak di bawah usia 15 tahun pernah terinfeksi campak. Diperkirakan 2,6 juta kematian per tahun akibat campak di seluruh dunia. Berkat program vaksinasi global, angka kematian menurun drastis hingga lebih dari 80% dibandingkan era pra-vaksinasi. Namun, pada tahun 2019, kasus campak global meningkat menjadi 869.770, dengan 207.500 kematian, terutama disebabkan oleh kesenjangan cakupan vaksinasi. Di Indonesia, campak menjadi salah satu penyebab KLB (Kejadian Luar Biasa) pada anak-anak yang tidak diimunisasi. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kasus campak masih ditemukan setiap tahun, dengan tren meningkat pada populasi rentan.
Kelompok usia yang paling rentan adalah anak-anak di bawah 5 tahun, terutama balita yang belum divaksinasi atau yang memiliki status gizi buruk. Namun, remaja dan dewasa muda yang tidak memiliki imunitas juga dapat tertular. Ibu hamil yang terinfeksi campak berisiko tinggi mengalami keguguran, persalinan prematur, dan bayi berat lahir rendah.
Virus campak menyebar melalui droplet nafas (percikan liur saat batuk, bersin, atau berbicara) dari orang yang terinfeksi. Virus juga dapat menular melalui kontak langsung dengan sekret hidung atau tenggorokan penderita. Karena virus mampu bertahan di udara selama beberapa jam, penularan juga dapat terjadi di ruangan tertutup tanpa kontak langsung. Penderita campak sudah bisa menularkan sejak 4 hari sebelum ruam muncul (fase prodromal) hingga 4 hari setelah ruam timbul. Ini artinya seseorang dapat menyebarkan virus tanpa mengetahui dirinya sakit.
Tingkat penularan campak sangat tinggi: sekitar 90% orang yang rentan (belum pernah terinfeksi atau divaksinasi) yang melakukan kontak dengan penderita akan tertular. Oleh karena itu, herd immunity memerlukan cakupan vaksinasi minimal 95% populasi untuk memutus rantai penularan.
Masa inkubasi campak rata-rata 1012 hari (rentang 721 hari) sejak paparan virus hingga munculnya gejala pertama. Secara klasik, perjalanan penyakit campak dibagi dalam tiga fase:
Fase ini berlangsung 24 hari. Gejalanya menyerupai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Penderita akan mengalami demam tinggi (bisa mencapai 40C), batuk kering, pilek (coryza), dan konjungtivitis (mata merah, berair, sensitif terhadap cahaya). Ciri khas pada fase ini adalah munculnya bintik Koplik di mukosa pipi bagian dalam (berhadapan dengan geraham bawah). Bintik Koplik berupa bercak putih keabu-abuan sebesar butiran pasir dengan dasar merah. Bintik ini biasanya muncul 12 hari sebelum ruam dan menjadi tanda patognomonik campak.
Ruam maculopapular (bintik merah rata dan menonjol) muncul pertama kali di belakang telinga, garis rambut, kemudian menyebar ke wajah, leher, badan, lengan, dan kaki dalam waktu 34 hari. Ruam cenderung konfluens (bergabung) di daerah wajah dan badan. Demam biasanya meningkat saat ruam mulai muncul, dan kondisi penderita terlihat sangat lemas. Ruam akan bertahan selama 57 hari, lalu berangsur memudar meninggalkan bekas kehitaman (hiperpigmentasi) yang menghilang dalam 12 minggu.
Setelah ruam mencapai puncak, demam turun secara bertahap, nafsu makan kembali, dan energi pulih. Batuk dapat bertahan lebih lama. Hiperpigmentasi sisa ruam akan hilang secara perlahan. Pada anak dengan gizi baik dan tanpa komplikasi, pemulihan berlangsung sekitar 710 hari sejak ruam muncul.
Rangkuman gejala utama campak:
Diagnosis campak umumnya ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang khas, terutama riwayat demam, batuk, pilek, konjungtivitis, dan ruam yang muncul secara bertahap dari wajah menyebar ke seluruh tubuh. Keberadaan bintik Koplik sangat membantu. Untuk konfirmasi, terutama dalam konteks wabah, dilakukan pemeriksaan laboratorium:
Diagnosis banding campak meliputi rubella, roseola infantum (eksantema subitum), infeksi virus dengue, demam skarlatina, dan reaksi obat.
Campak bukanlah penyakit ringan. Komplikasi dapat terjadi pada 3040% penderita, terutama pada anak usia di bawah 5 tahun, dewasa di atas 20 tahun, ibu hamil, dan individu dengan sistem imun lemah. Komplikasi yang sering terjadi antara lain:
Tidak ada pengobatan antivirus spesifik untuk campak. Tatalaksana bersifat suportif dan simptomatik, dengan fokus pada pencegahan komplikasi dan perawatan di rumah atau rumah sakit sesuai tingkat keparahan.
Langkah-langkah penanganan utama:
Istirahat cukup dan isolasi untuk mencegah penularan (hindari kontak dengan orang rentan hingga 4 hari setelah ruam).
Berikan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi, terutama jika ada diare.
Turunkan demam dengan parasetamol atau ibuprofen (hindari aspirin pada anak karena risiko sindrom Reye).
Lingkungan kamar tidak terlalu terang untuk mengurangi fotofobia.
Berikan makanan bergizi dalam porsi kecil tapi sering untuk mendukung pemulihan.
Suplementasi vitamin A: Dua dosis vitamin A (200.000 IU untuk anak usia 12 bulan; 100.000 IU untuk bayi 611 bulan) diberikan dengan selang 24 jam. Vitamin A terbukti menurunkan morbiditas dan mortalitas campak secara signifikan.
Antibiotik hanya diberikan jika ada infeksi bakteri sekunder (pneumonia, otitis media).
Pada kasus berat dengan komplikasi pneumonia, ensefalitis, atau dehidrasi berat, pasien perlu dirawat inap untuk mendapatkan oksigen, cairan intravena, dan perawatan intensif. Kortikosteroid tidak direkomendasikan secara rutin.
Pencegahan campak berfokus pada tiga strategi utama: imunisasi, surveilans, dan pengendalian wabah.
Vaksin campak adalah cara paling efektif dan aman untuk mencegah penyakit. Vaksin yang digunakan adalah vaksin campak hidup yang dilemahkan (live attenuated), biasanya dikombinasikan dengan vaksin rubella (MR) atau gondongan (MMR). Di Indonesia, program imunisasi nasional memberikan vaksin MR pada usia 9 bulan (dosis pertama) dan 18 bulan (dosis kedua). Dosis kedua bertujuan untuk mengeliminasi anak yang belum respons pada dosis pertama dan memperkuat imunitas jangka panjang. Efektivitas vaksin mencapai 93% setelah satu dosis dan 97% setelah dua dosis. Imunitas biasanya bertahan seumur hidup.
Kontraindikasi vaksin campak: riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin, kehamilan, imunodefisiensi berat (misalnya HIV stadium lanjut tanpa pengobatan), atau terapi imunosupresif dosis tinggi.
Pada individu rentan (belum divaksinasi atau belum pernah campak) yang terpapar virus campak, dapat diberikan profilaksis untuk mencegah atau mengurangi keparahan penyakit:
Orang yang terinfeksi campak harus diisolasi selama 4 hari setelah ruam muncul untuk mencegah penularan lebih lanjut. Petugas kesehatan dan anggota keluarga yang kontak harus menggunakan masker N95 dan menerapkan etika batuk. Dalam situasi wabah, otoritas kesehatan setempat akan melakukan imunisasi massal, pelacakan kontak, dan kampanye vaksinasi di daerah terdampak.
Campak adalah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi. Meskipun sering dianggap sebagai penyakit anak yang biasa, campak memiliki potensi komplikasi serius bahkan kematian. Kesadaran akan pentingnya vaksinasi, pemahaman tentang gejala awal, dan akses ke pelayanan kesehatan yang tepat merupakan kunci untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat campak. Masyarakat diharapkan aktif memeriksakan status imunisasi anak dan melaporkan jika menemukan kasus campak di lingkungan sekitar. Upaya bersama pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat sangat diperlukan untuk mencapai eliminasi campak di Indonesia dan dunia.
