Ayam buras atau ayam kampung memiliki peran strategis dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat di pedesaan maupun perkotaan. Salah satu kunci keberhasilan dalam pemeliharaan ayam buras adalah efisiensi pakan, mengingat biaya pakan merupakan komponen pengeluaran terbesar, mencapai 60-80% dari total biaya produksi. Oleh karena itu, penyusunan ransum yang tepat secara nutrisi dan ekonomis sangat krusial.
Penyusunan ransum adalah proses mencampurkan dua atau lebih bahan pakan untuk menghasilkan campuran yang memenuhi kebutuhan zat gizi ayam sesuai dengan fase pertumbuhannya. Dalam menyusun ransum untuk ayam buras, terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan:
Untuk menyusun ransum yang lengkap, peternak perlu memahami peran dari setiap kelompok bahan pakan:
Langkah awal yang harus dilakukan adalah menentukan target kebutuhan gizi berdasarkan umur ayam. Kebutuhan nutrisi ayam buras fase starter (awal) tentu berbeda dengan fase grower (pembesaran) dan layer (petelur). Ayam muda membutuhkan protein yang lebih tinggi untuk pertumbuhan tubuh, sementara ayam petelur membutuhkan kalsium yang lebih tinggi untuk pembentukan kerabang telur.
Setelah target ditentukan, peternak dapat menggunakan metode sederhana seperti metode bujur sangkar Pearson untuk menghitung proporsi bahan pakan. Kuncinya adalah mencampurkan bahan sumber energi dan sumber protein hingga mencapai persentase protein kasar yang diinginkan dalam campuran tersebut.
Salah satu keunggulan memelihara ayam buras adalah kemampuannya dalam memanfaatkan pakan alternatif. Peternak disarankan untuk melakukan eksplorasi terhadap bahan pakan yang tersedia di wilayahnya. Misalnya, penggunaan limbah sayuran atau sisa rumah tangga (yang sudah dimasak dan disterilkan) dapat dicampurkan dengan bahan konsentrat pabrikan untuk mengurangi biaya.
Namun, perlu diingat bahwa penggunaan pakan alternatif harus dilakukan secara bertahap. Perubahan ransum yang terlalu drastis dapat menyebabkan ayam mengalami stres dan penurunan produktivitas. Selain itu, pastikan pakan selalu dalam kondisi segar dan tidak terkontaminasi jamur, terutama saat musim penghujan.
Selain komposisi, cara pemberian pakan juga sangat berpengaruh. Ayam buras sebaiknya diberikan pakan dengan frekuensi yang teratur. Pemberian pakan secara ad libitum (tersedia sepanjang waktu) biasanya dilakukan untuk fase starter, sedangkan untuk fase dewasa bisa diatur dengan jadwal pagi dan sore hari guna meminimalisir pakan yang tercecer.
Kesimpulannya, penyusunan ransum ayam buras tidak harus selalu bergantung pada pakan pabrikan yang mahal. Dengan pemahaman mengenai kebutuhan nutrisi ayam dan kreativitas dalam mengolah bahan pakan lokal, peternak dapat menciptakan ransum yang efisien, murah, dan tetap mampu menghasilkan performa ayam yang optimal.
