Kesultanan Banten merupakan salah satu pusat kekuatan maritim dan perdagangan yang paling berpengaruh di Nusantara pada abad ke-17. Lokasinya yang strategis di ujung barat Pulau Jawa membuat Banten menjadi pesaing utama bagi VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) yang berbasis di Batavia. Persaingan ini bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga menyangkut kedaulatan wilayah dan pengaruh politik di tanah Jawa.
Ketegangan antara Banten dan Belanda memuncak pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (16511682). Sultan Ageng dikenal sebagai sosok pemimpin yang visioner dan sangat anti terhadap campur tangan asing. Beliau bertekad menjadikan Banten sebagai pelabuhan dagang internasional yang bebas dari monopoli VOC. Di bawah kepemimpinannya, Banten berhasil membangun angkatan laut yang kuat dan menjalin hubungan dagang dengan bangsa-bangsa Eropa lain seperti Inggris dan Denmark, yang tentu saja membuat Belanda merasa terancam.
Sultan Ageng Tirtayasa menerapkan strategi perang gerilya dan blokade ekonomi. Beliau memerintahkan pasukannya untuk merusak kebun tebu milik Belanda dan menyerang pos-pos VOC di Batavia. Selain itu, Sultan Ageng memanfaatkan perselisihan internal di antara petinggi Belanda untuk memperlemah posisi mereka. Selama bertahun-tahun, Banten mampu menekan pengaruh Belanda di wilayah sekitar Jawa Barat.
Kelemahan Banten muncul dari konflik internal keluarga kerajaan. Belanda melihat peluang emas dalam perselisihan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya, Sultan Haji. Belanda berhasil mendekati Sultan Haji dan menghasutnya untuk merebut kekuasaan dari ayahnya dengan janji dukungan militer. Kebijakan Sultan Haji yang cenderung melunak terhadap Belanda memicu perpecahan di dalam istana.
Pada tahun 1680, pecahlah perang saudara. Sultan Haji yang dibantu oleh pasukan VOC berhasil mengalahkan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa. Akibat kekalahan tersebut, Sultan Ageng terpaksa mundur ke pedalaman, namun perjuangannya tidak berhenti di situ. Beliau terus memimpin perlawanan dari balik layar hingga akhirnya tertangkap pada tahun 1683 melalui tipu muslihat yang dilakukan oleh Belanda.
Kemenangan Belanda melalui campur tangan politik ini membawa dampak buruk bagi kedaulatan Banten. Sebagai imbalan atas bantuan militer yang diberikan kepada Sultan Haji, Belanda memaksa Banten menandatangani perjanjian yang sangat merugikan. Banten akhirnya jatuh ke bawah kendali Belanda, hak monopoli perdagangan jatuh ke tangan VOC, dan wilayah kekuasaan Banten secara bertahap semakin menyusut.
Perang Banten melawan Belanda adalah catatan sejarah yang menunjukkan betapa kuatnya dampak politik adu domba (devide et impera). Meskipun Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya harus menyerah, semangat perlawanan beliau tetap menjadi simbol keberanian rakyat Banten dalam menjaga martabat bangsa melawan penjajah yang ingin menguasai Nusantara demi keuntungan dagang semata.
