Kawasan lahan gambut di Kalimantan Tengah memiliki peran krusial dalam ekosistem global, baik sebagai penyimpan karbon (carbon sink) yang sangat besar maupun sebagai pengatur tata air di tingkat lanskap. Mengingat sejarah pengelolaan lahan di masa lalu yang sempat mengalami degradasi akibat proyek pengembangan lahan gambut (PLG) skala besar, upaya percepatan rehabilitasi dan revitalisasi saat ini menjadi prioritas nasional untuk menjaga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Lahan gambut di Kalimantan Tengah merupakan ekosistem yang unik. Secara ekologis, gambut berfungsi menahan air dalam jumlah besar, sehingga mencegah banjir pada musim hujan dan menjaga ketersediaan air pada musim kemarau. Ketika gambut mengalami kekeringan akibat drainase yang buruk, ia menjadi sangat rentan terhadap kebakaran. Oleh karena itu, restorasi gambut bukan hanya soal menanam kembali pohon, melainkan memperbaiki hidrologi lahan agar tetap basah.
Upaya rehabilitasi dilakukan melalui pendekatan 3R, yaitu Rewetting (pembasahan kembali), Revegetation (penanaman kembali), dan Revitalization (peningkatan ekonomi).
Proses rehabilitasi di Kalimantan Tengah menghadapi tantangan yang kompleks. Luasnya wilayah yang harus dipulihkan memerlukan koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat. Selain itu, dinamika kepemilikan lahan dan tekanan kebutuhan ekonomi masyarakat lokal menuntut solusi yang tidak hanya bersifat teknis lingkungan, tetapi juga humanis dan berkelanjutan.
Kalimantan Tengah memegang peranan penting dalam komitmen Indonesia menurunkan emisi gas rumah kaca. Lahan gambut yang terdegradasi melepaskan karbon dalam jumlah masif ke atmosfer. Melalui program rehabilitasi yang sistematis dan terukur, Indonesia berupaya membalikkan kondisi tersebut, mengubah lahan yang dulunya sumber emisi menjadi lahan produktif yang mampu menyerap karbon kembali.
Program percepatan rehabilitasi dan revitalisasi kawasan lahan gambut di Kalimantan Tengah diharapkan dapat menjadi model nasional dalam pengelolaan lahan gambut berkelanjutan. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat lokal yang menjadi penjaga utama ekosistem tersebut. Dengan sinergi yang baik antara pemulihan ekosistem dan kesejahteraan ekonomi, masa depan lahan gambut Kalimantan Tengah akan tetap terjaga sebagai warisan bagi generasi mendatang.
