Pernapasan merupakan proses vital yang memungkinkan organisme hidup untuk mendapatkan energi melalui oksidasi nutrisi. Dalam tubuh manusia, sistem pernapasan bekerja secara sinkron dengan sistem peredaran darah untuk memastikan bahwa setiap sel mendapatkan pasokan oksigen (O2) yang cukup dan membuang sisa metabolisme berupa karbondioksida (CO2).
Pertukaran gas adalah proses difusi gas-gas antara udara di lingkungan luar dan darah yang mengalir di kapiler paru-paru, serta antara darah dan jaringan tubuh. Proses ini terjadi berdasarkan perbedaan tekanan parsial gas di mana molekul gas bergerak dari area dengan tekanan tinggi ke area dengan tekanan rendah.
Respirasi eksternal terjadi di dalam alveolus, yaitu kantung-kantung udara kecil di paru-paru. Saat kita menarik napas, udara yang kaya oksigen masuk ke alveolus. Dinding alveolus sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan kapiler darah yang padat.
Pada saat ini, tekanan parsial oksigen di dalam alveolus lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan parsial oksigen di dalam darah kapiler. Akibatnya, oksigen berdifusi melewati membran tipis alveolus masuk ke dalam darah dan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah menjadi oksihemoglobin. Sebaliknya, karbondioksida yang dibawa oleh darah dari seluruh tubuh memiliki tekanan parsial yang lebih tinggi di kapiler dibandingkan di alveolus, sehingga CO2 berdifusi keluar dari darah ke alveolus untuk kemudian dihembuskan keluar tubuh.
Setelah oksigen masuk ke dalam darah, ia diangkut oleh jantung ke seluruh bagian tubuh melalui pembuluh arteri. Hemoglobin memegang peranan krusial sebagai pembawa oksigen yang efisien. Sementara itu, karbondioksida diangkut dari jaringan kembali ke paru-paru melalui tiga cara: sebagian kecil larut dalam plasma, sebagian terikat pada hemoglobin, dan sebagian besar diangkut dalam bentuk ion bikarbonat (HCO3-).
Respirasi internal adalah pertukaran gas yang terjadi antara darah kapiler sistemik dengan sel-sel tubuh. Ketika darah mencapai jaringan yang aktif bermetabolisme, kadar oksigen di dalam sel-sel tersebut rendah karena telah digunakan untuk menghasilkan energi (ATP), sedangkan kadar karbondioksida tinggi sebagai sisa metabolisme.
Oksigen kemudian lepas dari hemoglobin dan berdifusi masuk ke dalam sel. Di saat yang sama, karbondioksida berdifusi keluar dari sel masuk ke dalam kapiler darah. Darah yang kini telah kaya akan karbondioksida dan miskin oksigen akan kembali melalui vena menuju jantung, kemudian dipompa ke paru-paru untuk memulai siklus pertukaran gas yang baru.
Gangguan pada mekanisme pertukaran gas ini dapat berdampak fatal bagi kesehatan. Faktor-faktor seperti kesehatan paru-paru, kadar hemoglobin yang rendah (anemia), hingga kualitas udara di lingkungan sekitar sangat mempengaruhi efisiensi pertukaran oksigen dan karbondioksida. Tubuh manusia memiliki mekanisme kontrol melalui sistem saraf dan kimiawi untuk mengatur kecepatan pernapasan guna menjaga keseimbangan kadar gas-gas tersebut sesuai dengan kebutuhan aktivitas fisik seseorang.
