Pendidikan tidak pernah netral. Ia selalu berada dalam tegangan antara mempertahankan status quo dan membebaskan manusia dari belenggu ketidaktahuan, ketidakadilan, dan dehumanisasi. Dalam wacana pendidikan Islam kontemporer dan pedagogi kritis, dua nama besar menawarkan konsep yang saling melengkapi sekaligus berbeda: Mohammad Athiyah AlAbrasyi dari dunia Islam dan Paulo Freire dari Amerika Latin. Keduanya samasama meletakkan pembebasan sebagai inti pendidikan, namun berangkat dari fondasi filosofis dan sosiologis yang khas. Artikel ini mengupas pola pendekatan pendidikan pembebasan menurut kedua pemikir, membandingkan landasan, tujuan, metode, serta implikasinya terhadap praksis pendidikan dewasa ini.
Mohammad Athiyah AlAbrasyi (18991981) adalah pemikir pendidikan asal Mesir yang karyanya AtTarbiyah alIslamiyah dan Ruh alTarbiyah wa alTalim menjadi rujukan klasik pendidikan Islam. Baginya, pendidikan adalah proses membimbing manusia agar mencapai kesempurnaan akhlak dan kedekatan dengan Tuhan. Pembebasan yang ia maksud bukanlah sekadar lepas dari penjajahan fisik, melainkan pembebasan jiwa dari kebodohan, hawa nafsu, dan keterikatan duniawi yang menghalangi manusia menjadi khalifah yang merdeka.
AlAbrasyi menekankan bahwa tujuan tertinggi pendidikan adalah tadibpembentukan adab dan moral luhur yang berlandaskan AlQuran dan Sunnah. Ia mengkritik sistem pendidikan yang hanya mementingkan aspek kognitif dan keterampilan pragmatis, karena hal itu justru menjadikan manusia terasing dari fitrahnya. Pendidikan pembebasan versi AlAbrasyi bersifat holistikspiritual: membebaskan akal dari taklid buta, membebaskan hati dari penyakit ruhani, dan membebaskan masyarakat dari struktur yang menindas secara moral. Ia percaya bahwa ilmu tanpa etika hanya akan melahirkan penindasan baru.
Dalam metode pengajaran, AlAbrasyi mengusung pendekatan hikmah dan mauidzah hasanahnasihat yang baik disertai keteladanan. Guru bukan sekadar penyampai informasi, melainkan murabbi yang membimbing peserta didik menemukan potensi ilahiahnya. Kurikulumnya mencakup ilmu agama, akhlak, sains, dan seni secara seimbang. Yang menarik, AlAbrasyi juga menekankan pentingnya kebebasan berpikir dalam batasbatas syariat; ia menolak indoktrinasi kaku karena bertentangan dengan semangat ijtihad. Dengan demikian, pendidikan membebaskan manusia dari kungkungan tradisi yang membatu sekaligus dari pengaruh budaya asing yang merusak identitas.
Paulo Freire (19211997) adalah pendidik Brasil yang karya monumentalnya Pedagogy of the Oppressed menjadi manifesto pedagogi kritis. Berbeda dengan AlAbrasyi yang bertolak dari teosentrisme, Freire berpijak pada humanisme Marxis dan teori kritis. Baginya, pendidikan pembebasan adalah proses conscientizaopenyadaran kritis terhadap realitas sosial, politik, dan ekonomi yang menindas. Tujuan pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan transformasi struktur yang tidak adil.
Freire mengkritik keras model pendidikan banking concept (konsep penyimpanan) di mana guru menggurui dan murid pasif menerima. Model ini hanya melanggengkan alienasi dan ketidakberdayaan. Sebagai gantinya, ia mengusulkan pendidikan dialogis di mana guru dan murid menjadi subjek yang bersamasama menelisik dunia. Dialog bukan sekadar percakapan, melainkan tindakan reflektif untuk mengubah realitas. Proses belajar dimulai dari generative themestematema konkret yang muncul dari pengalaman hidup peserta didik. Dengan cara ini, pendidikan membebaskan kesadaran manusia dari fatalisme dan kepasrahan semu.
Bagi Freire, pembebasan adalah praksis: refleksi dan aksi secara simultan. Tidak ada pembebasan sejati tanpa perjuangan melawan dehumanisasi. Pendidik harus berpihak pada kaum tertindas dan bersama mereka menciptakan kebudayaan baru yang egaliter. Uniknya, Freire juga mengakui dimensi spiritual dalam pembebasan, namun ia menolak transendensi yang dipaksakan dari atas; spiritualitas baginya lahir dari solidaritas dan cinta pada kemanusiaan. Pendidikan pembebasan Freire bersifat politisdialektis, menuntut keberanian untuk mengungkap mitosmitos yang menopang ketidakadilan.
Meskipun berasal dari dunia yang berjauhansatu dari tradisi Islam klasik, satu dari pemikiran kritis BaratAlAbrasyi dan Freire memiliki kesamaan fundamental: kritik terhadap pendidikan yang membelenggu. AlAbrasyi menolak pendidikan yang hanya menekankan hafalan tanpa adab; Freire menolak pendidikan bank yang membekukan kreativitas. Keduanya menghendaki peserta didik menjadi subjek aktif, bukan objek pasif. AlAbrasyi menyebutnya insan kamil; Freire menyebutnya menjadi manusia seutuhnya.
Landasan: Teosentris (AlQuran, Sunnah).
Tujuan: Pembebasan jiwa menuju akhlak mulia dan kedekatan dengan Allah.
Metode: Hikmah, mauidzah, keteladanan; dialog dalam bingkai syariat.
Peran pendidik: Murabbi (pembimbing ruhani dan intelektual).
Konteks sasaran: Individu dan komunitas Muslim; penekanan pada internalisasi nilai.
Landasan: Humanisme kritis, Marxis, eksistensialisme.
Tujuan: Pembebasan sosialpolitis melalui kesadaran kritis dan transformasi struktur.
Metode: Dialog problemposing, generative themes, praksis reflektifaksi.
Peran pendidik: Fasilitator yang turut belajar bersama (colearner).
Konteks sasaran: Kaum tertindas, masyarakat marginal; penekanan pada perubahan sosial.
Perbedaan mencolok terletak pada dimensi transendensi. AlAbrasyi menempatkan Tuhan sebagai pusat pembebasan; manusia merdeka karena tunduk pada petunjuk Ilahi. Freire menempatkan manusia sebagai pusat sejarah; pembebasan adalah hasil perjuangan dialektis tanpa jaminan transenden. Namun keduanya tidak sepenuhnya berseberangan. Freire mengakui bahwa pembebasan sejati mengandung cinta dan harapan, yang dalam bahasa AlAbrasyi adalah rahmah dan tawakkal. Perbedaan lainnya terletak pada metode: AlAbrasyi lebih menekankan internalisasi nilai melalui pembiasaan dan keteladanan, sementara Freire lebih menekankan analisis struktural dan aksi kolektif. Jika AlAbrasyi cenderung reformatifspiritual, Freire bersifat revolusionerpolitis.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, kedua konsep ini menawarkan sintesis yang kaya. Pendidikan pembebasan ala AlAbrasyi memberikan landasan moralspiritual yang kokoh, sangat relevan untuk menjawab krisis karakter dan degradasi etika di lembaga pendidikan. Sedangkan pendekatan Freire mengasah kepekaan kritis terhadap ketimpangan sosial, kesenjangan ekonomi, dan diskriminasi. Tidak sedikit praktik pendidikan di Indonesia masih menerapkan model bank dan otoritarianisme guru. Padahal, semangat Merdeka Belajar menghendaki peserta didik yang kritis, kreatif, dan berkarakter.
Dari AlAbrasyi kita belajar bahwa pembebasan tanpa etika bisa menjadi liar; dari Freire kita belajar bahwa etika tanpa kesadaran struktural bisa menjadi naif. Integrasi keduanya melahirkan pola pendidikan yang membebaskan secara holistik: membersihkan hati, mencerdaskan akal, dan memberdayakan masyarakat. Misalnya, dalam pembelajaran agama, guru tidak hanya mengajarkan ritual, tetapi juga mendorong peserta didik untuk membaca realitas sosial dengan kacamata keadilan. Sebaliknya, dalam pembelajaran sosiologi atau kewarganegaraan, nilainilai spiritual dapat menjadi fondasi untuk melawan korupsi dan ketidakadilan.
Kritik patut diajukan pada masingmasing pemikir. Pemikiran AlAbrasyi kadang dinilai terlalu idealis dan kurang memberikan metode konkret untuk perubahan sistemik. Sementara Freire kerap dikritik karena reduksionisme kelas dan kurangnya perhatian pada dimensi transenden yang mengarah pada relativisme. Meskipun demikian, konvergensi keduanya justru memperkaya cakrawala pendidikan. Guru masa kini perlu menjadi murabbi sekaligus fasilitator kritis; peserta didik perlu menjadi insan kamil sekaligus agen perubahan.
Mohammad Athiyah AlAbrasyi dan Paulo Freire, meskipun terpisah oleh tradisi, waktu, dan geografi, samasama menolak pendidikan yang mengebiri kemanusiaan. AlAbrasyi membebaskan manusia dari kebodohan dan hawa nafsu menuju akhlak ilahiah; Freire membebaskan manusia dari struktur penindasan menuju kesadaran kritis dan solidaritas. Keduanya menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah tindakan pembebasanbukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan transformasi diri dan dunia.
Dialog antara dua pemikiran ini membuka jalan bagi pendekatan pendidikan yang utuh: merdeka secara spiritual, kritis secara sosial, dan berakar pada nilainilai kemanusiaan. Di tengah hantaman pragmatisme dan komodifikasi pendidikan, pemikiran AlAbrasyi dan Freire mengingatkan bahwa tujuan utama pendidikan adalah memanusiakan manusiadalam arti seluasluasnya. Semoga kajian komparatif ini menginspirasi para pendidik, pemerhati, dan pembuat kebijakan untuk merancang pola pendidikan yang sungguhsungguh membebaskan, baik di pesantren, sekolah umum, maupun ruangruang belajar alternatif di Indonesia.
Kajian perbandingan dua tradisi pembebasan
