Itik rambon (Anas platyrhynchos domesticus) merupakan jenis unggas air yang banyak dibudidayakan di wilayah pesisir serta daerah yang memiliki lahan rawa-rawa. Kecamatan Panguragan, yang terletak di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, termasuk salah satu sentra peternakan itik rambon di Provinsi Jawa Barat.
Kecamatan Panguragan memiliki iklim tropis dengan curah hujan rata-rata 2.300mm per tahun dan suhu berkisar antara 2233C. Kondisi tersebut mendukung pertumbuhan vegetasi air dan menyediakan lahan basah yang cocok untuk budidaya itik rambon. Selama tiga dekade terakhir, permintaan pasar untuk daging dan telur itik rambon terus meningkat, baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor.
Peternak setempat memanfaatkan lahan sawah bekas, kolam bekas irigasi, serta pekarangan rumah yang digenangi air. Selain itu, program pemerintah daerah yang berfokus pada peningkatan pendapatan petani melalui diversifikasi usaha ternak juga mendorong pertumbuhan populasi itik rambut.
Pada akhir 1990-an, beberapa keluarga petani di desa-desa seperti Cibinuang, Mekarsari, dan Ciparengan mulai memperkenalkan itik rambon sebagai alternatif pendapatan tambahan. Pada awalnya, pembudidayaan berskala kecil dengan 2030 ekor per peternakan, namun dalam waktu lima tahun populasi itik meningkat menjadi lebih dari 2.000 ekor secara kolektif.
Masuknya bantuan teknis dari Dinas Peternakan Kabupaten Cirebon pada tahun 2005 mempercepat modernisasi cara pemeliharaan, termasuk penggunaan pakan komersial, vaksinasi penyakit utama (seperti flu burung dan botulisme), serta penerapan sistem pemeliharaan biosekuriti.
Data di bawah ini diambil dari Survei Peternakan Tahunan Dinas Peternakan Kabupaten Cirebon.
| Desa | Jumlah Peternakan | RataRata Populasi per Peternakan | Total Populasi (Ekor) |
|---|---|---|---|
| Cibinuang | 12 | 180 | 2160 |
| Mekarsari | 9 | 210 | 1890 |
| Ciparengan | 7 | 150 | 1050 |
| Kampung Baru | 5 | 220 | 1100 |
| Gegerkalong | 4 | 190 | 760 |
| Total Keseluruhan | 7060 | ||
Dengan total lebih dari 7.000 ekor itik rambon, Kecamatan Panguragan menempati peringkat ketiga di Kabupaten Cirebon setelah kecamatan Grogol dan Karangsembung.
Walaupun populasi terus meningkat, peternak di Panguragan masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain:
Berikut beberapa upaya yang sedang atau dapat dilakukan untuk meningkatkan keberlanjutan peternakan itik rambon di Panguragan:
Implementasi protokol karantina, sanitasi peralatan, serta penggunaan vaksinasi yang terjadwal.
Penggunaan pakan komersial bersertifikat serta pemanfaatan limbah pertanian (kulit padi, dedak) untuk mengurangi biaya.
Penggunaan composting untuk menghasilkan pupuk organik yang dapat dipasarkan kembali ke petani sawah.
Pengembangan koperasi peternak yang menyalurkan produk ke pasar kota melalui kontrak dengan supermarket dan restoran.
Kerjasama antara Dinas Peternakan, universitas pertanian, dan LSM untuk mengadakan workshop tentang manajemen kandang, kesehatan unggas, dan pemasaran digital.
Jika strategi di atas diimplementasikan secara konsisten, dapat diproyeksikan peningkatan populasi 1015% setiap tahun dengan peningkatan produktivitas telur sebesar 20% dan tingkat konversi pakan yang lebih efisien. Hal ini akan memberi kontribusi signifikan terhadap pendapatan petani dan memperkuat posisi Panguragan sebagai pusat produksi itik rambon di wilayah Cirebon.
Selain manfaat ekonomi, pengembangan peternakan itik secara ramah lingkungan juga mendukung program penanggulangan perubahan iklim melalui penyerapan karbon pada lahan basah serta penyediaan protein berkualitas tinggi bagi masyarakat.
