BBLR (Bayi Belum Lahir Hidup) merupakan indikator penting dalam kesehatan reproduksi. Kematian bayi yang terjadi sebelum atau saat kelahiran masih menjadi tantangan utama di banyak negara, termasuk Indonesia. Artikel ini menguraikan penyebab utama BBLR, data terkini, serta langkahlangkah prioritas untuk menurunkannya. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2021, angka kematian bayi (per 1.000 kelahiran hidup) berada pada kisaran 1921. Dari total tersebut, sekitar 1012% dikaitkan dengan BBLR. Penelitian di beberapa provinsi menunjukkan variasi besar, dengan provinsi di wilayah timur Indonesia mencatat angka kematian bayi hingga 30 per 1.000 kelahiran hidup. Berita kemiskinan, pendidikan rendah, serta kebiasaan tradisional yang menolak intervensi medis memperparah risiko BBLR. Di daerah pedesaan, penggunaan tanaman herbal tanpa pengawasan medis masih umum, dan sering menimbulkan toksisitas pada ibu. Setiap program harus diikuti dengan indikator kunci, antara lain: Data harus dilaporkan secara berkala ke Dinas Kesehatan Provinsi dan dievaluasi oleh tim multisektor. Kematian bayi karena BBLR merupakan masalah multidimensi yang dipengaruhi oleh faktor medis, gizi, lingkungan, dan sosialekonomi. Intervensi prioritas harus berfokus pada peningkatan kualitas layanan antenatal, pemerataan akses kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan teknologi. Dengan sinergi antara pemerintah, tenaga medis, dan komunitas, angka BBLR dapat ditekan secara signifikan, mendukung tercapainya target Sustainable Development Goal (SDG) 3.2: menurunkan angka kematian anak di bawah usia lima tahun. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Kementerian Kesehatan RI atau hubungi Pusat Kesehatan Masyarakat terdekat.Prioritas Penyebab Masalah Kematian Bayi Karena BBLR
1. Data Kematian Bayi di Indonesia
2. Penyebab Utama BBLR
2.1. Komplikasi Kehamilan
2.2. Faktor Nutrisi Ibu
2.3. Kebiasaan Merokok & Konsumsi Alkohol
2.4. Penyakit Menular
2.5. Akses Kesehatan yang Terbatas
3. Faktor SosialEkonomi & Lingkungan
4. Prioritas Intervensi
4.1. Peningkatan Kualitas ANC
4.2. Penguatan Sistem Rujukan
4.3. Program Gizi Ibu
4.4. Pencegahan Penyakit Menular
4.5. Edukasi & Pemberdayaan Komunitas
4.6. Penggunaan Teknologi Digital
5. Monitoring & Evaluasi
6. Kesimpulan
