Quantitative Easing, atau yang lebih dikenal dengan singkatan QE, adalah kebijakan moneter tidak konvensional yang biasa dipakai oleh bank sentral ketika suku bunga sudah mendekati nol tetapi perekonomian masih membutuhkan stimulus. QE melibatkan pembelian aset biasanya obligasi pemerintah dan/atau sekuritas berbasis aset (assetbacked securities) dalam skala besar untuk menambah likuiditas di pasar dan menurunkan biaya pinjaman.
Penerapan QE pertama kali muncul pada awal 2000an di Jepang, ketika Bank of Japan berusaha mengatasi deflasi yang berlarutlarut. Namun, kebijakan ini menjadi sorotan global setelah krisis keuangan 2008, ketika Federal Reserve (Fed) Amerika Serikat meluncurkan tiga putaran QE (QE1, QE2, QE3) untuk menyelamatkan ekonomi yang hampir terpuruk.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa QE berhasil menurunkan suku bunga jangka panjang, meningkatkan harga aset, dan mengurangi risiko kebangkrutan pada sektor perbankan. Di Amerika Serikat, QE berkontribusi pada pemulihan pasar saham setelah 2008 dan membantu menurunkan tingkat pengangguran secara bertahap.
Meskipun memiliki manfaat, QE tidak lepas dari kritik dan potensi bahaya:
Fed meluncurkan tiga gelombang QE antara 20082014, membeli total lebih dari US$4 triliun obligasi pemerintah dan sekuritas berbasis hipotek. QE2 (20102011) menurunkan suku bunga Treasury 10tahun dari 4% ke sekitar 2%.
Bank Sentral Eropa memperkenalkan program Asset Purchase Programme (APP) pada 2015, menargetkan obligasi negara zona euro serta sekuritas korporasi. Hingga 2020, total pembelian mencapai lebih dari 2,6 triliun.
Bank of Japan meluncurkan QE berskala besar sejak 2013, dengan target pembelian tahunan sekitar 80 triliun (sekitar US$750 miliar). Kebijakan ini berperan dalam menstabilkan pasar obligasi Jepang yang sangat likuid.
Berbeda dengan kebijakan suku bunga konvensional yang memanipulasi cost of borrowing secara langsung, QE bekerja melalui pasokan uang dan pasar aset. Sebagai contoh, ketika suku bunga sudah mendekati 0%, menurunkan lebih jauh tidak lagi memungkinkandi sinilah QE menjadi alternatif.
Berikut beberapa indikator yang biasanya dipantau oleh ekonom dan pelaku pasar:
Setelah pandemi COVID19, banyak bank sentral kembali mengaktifkan QE untuk mengatasi tekanan inflasi dan gangguan rantai pasokan. Namun, seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai inflasi berlebih, fokus kini beralih pada tapering pengurangan bertahap pembelian aset dan penyesuaian kebijakan moneter normal.
Quantitative Easing adalah alat kebijakan moneter yang kuat, tetapi tidak tanpa konsekuensi. Keberhasilannya tergantung pada kondisi ekonomi, tata kelola institusional, dan koordinasi dengan kebijakan fiskal. Bagi Indonesia, meski belum menerapkan QE secara eksplisit, pemahaman tentang mekanisme ini penting untuk menilai kebijakan Bank Indonesia serta dampak kebijakan global terhadap nilai tukar, inflasi, dan aliran modal.
Kebijakan moneter adalah seni menyeimbangkan antara memberikan likuiditas yang cukup dan menjaga stabilitas harga jangka panjang. Ekonom Bilateral
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi banksentral dunia atau literatur akademik tentang kebijakan moneter nonkonvensional.
