Ayam ras pedaging atau yang lebih dikenal dengan broiler merupakan jenis unggas yang dibudidayakan untuk menghasilkan daging secara cepat. Pada fase finisher, yaitu masa pertumbuhan akhir (biasanya 35 minggu), pemberian ransum menjadi faktor kunci yang menentukan bobot akhir, konversi pakan, serta kualitas daging.
Komposisi ransum finisher biasanya terdiri dari empat blok utama: protein, energi, vitaminminerala, serta bahan tambahan (additif). Berikut tabel contoh ransum finisher 1kg untuk ayam broiler 2235hari.
| Bahan | Persentase (%) | Keterangan |
|---|---|---|
| Jagung (energi utama) | 5560 | Sumber karbohidrat cepat dicerna. |
| Soybean meal (protein 4448%) | 1518 | Memberikan asam amino esensial. |
| Minyak nabati (mis. minyak kelapa sawit) | 45 | Menambah densitas energi (3.500kcal/kg). |
| Dedak halus | 56 | Serat & mineral. |
| VitaminMineral premix | 11,5 | Memenuhi kebutuhan mikro nutrien. |
| Enzim (fitase, xylanase) | 0,20,4 | Meningkatkan utilisasi fosfat & serat. |
| Probiotik / Prebiotik | 0,10,3 | Menjaga keseimbangan flora usus. |
| Pengikat debu (mis. bentonite) | 0,20,5 | Mencegah penumpukan debu di pernapasan. |
Untuk fase finisher, kebutuhan energi metabolik (ME) biasanya 3.2003.400kcal/kg pakan. Kebutuhan protein kasar (CP) berada pada kisaran 2022%. Penyesuaian dilakukan berdasarkan:
Beberapa additif telah terbukti meningkatkan performa pada fase finisher:
Kualitas daging broiler dipengaruhi oleh rasio lemakotot, pH pascasakri, serta kandungan asam lemak. Pakan yang mengandung:
| Umur (hari) | Ransum (kg/ton) | Keterangan |
|---|---|---|
| 2228 | 55% jagung, 17% SBM, 5% minyak, 6% dedak, 1,2% premix, sisa additif | Fase pertumbuhan cepat. |
| 2935 | 58% jagung, 15% SBM, 6% minyak, 5% dedak, 1,5% premix, sisa additif | Peningkatan energi untuk lemak intramuskular. |
Ransum broiler finisher harus dirancang secara tepat dengan memperhatikan keseimbangan energi, protein, serta additif yang men-support kesehatan usus dan mengoptimalkan konversi pakan. Penyesuaian komposisi berdasarkan umur, suhu, dan kondisi kesehatan akan menghasilkan bobot akhir yang optimal (2,22,8kg) serta daging berkualitas tinggi. Dengan pemantauan rutin dan penggunaan teknologi (mis. feed formulation software), peternak dapat meningkatkan profitabilitas sekaligus menjaga kesejahteraan ternak.
