Ayam petelur ras (layer) merupakan pilihan utama peternak untuk menghasilkan telur berkualitas tinggi. Pada fase grower (biasanya umur 818 minggu), ayam belum mulai bertelur tetapi sudah memerlukan nutrisi khusus untuk menyiapkan organ reproduksi, memperkuat sistem imun, dan meningkatkan pertumbuhan otot. Ransum yang tepat pada fase ini sangat menentukan produktivitas dan kualitas telur pada fase produksi.
Berikut contoh formulasi ransum grower untuk ayam petelur ras dengan umur 818 minggu:
| Bahan | Kadar (% bahan kering) | Fungsi |
|---|---|---|
| Jagung (gandum kuning) | 5560 | Sumber energi utama |
| Sorgum / Sorghum | 57 | Energi tambahan, mengurangi risiko mycotoxin dari jagung |
| Pelet kedelai (protein 44%) | 1012 | Sumber protein dan lisin |
| Protein ikan atau tepung ikan | 23 | Metionin, vitamin D, fosfor |
| Dedak padi | 56 | Serat, vitamin B, mineral |
| Minyak nabati (misalnya, minyak kelapa sawit) | 12 | Lemak, meningkatkan densitas energi |
| Premez (vitamin & mineral premiks) | 0,51 | Memenuhi kebutuhan mikronutrien |
| Tambahan asam amino (lysine, methionine) | 0,20,4 | Menyeimbangkan profil asam amino |
Komposisi dapat disesuaikan dengan kualitas bahan lokal dan biaya produksi. Penting untuk menjaga rasio Ca : P tetap pada kisaran 1,52 : 1, meskipun kebutuhan kalsium belum setinggi pada fase pemeliharaan telur.
Seringkali disebabkan oleh stress panas, pencemaran air, atau perubahan tibatiba pada formulasi pakan. Pastikan suhu kandang berada pada 2428C dan lakukan pergantian pakan secara bertahap (maksimum 10% per hari).
Gejala: pertumbuhan tulang tidak optimal, munculnya lekukan pada kaki. Tambahkan kapur gipsum atau batu kapur yang telah digiling halus (0,20,4% pakan).
Berpotensi meningkatkan beban ginjal dan menurunkan konversi pakan. Jika FCR > 1,7, evaluasi kembali level protein dan periksa kualitas bahan protein.
Berikan anticoccidial dalam pakan (contoh: ionopori) pada dosis yang direkomendasikan produsen serta suplementasi vitamin A untuk memperkuat imun.
Ransum grower untuk ayam petelur ras harus seimbang antara protein, energi, vitamin, dan mineral. Memperhatikan kualitas bahan, ukuran partikel, serta frekuensi pemberian akan meningkatkan pertumbuhan, menurunkan mortalitas, dan menyiapkan organ reproduksi yang siap menghasilkan telur berkualitas pada fase produksi. Dengan pemantauan rutin dan penyesuaian formula berdasarkan kondisi lapangan, peternak dapat memaksimalkan profitabilitas usaha petelur mereka.
