Deforestasi dan degradasi hutan merupakan penyumbang utama emisi gas rumah kaca di dunia. Hutan menyerap karbon dioksida (CO) melalui proses fotosintesis, sekaligus menyimpan karbon dalam biomassa dan tanah. Ketika hutan dipotong, dibakar, atau terdegradasi, karbon yang tersimpan dilepaskan kembali ke atmosfer, meningkatkan konsentrasi CO dan mempercepat perubahan iklim. Mengurangi emisi dari sektor ini menjadi kunci dalam mencapai target iklim global.
Deforestasi adalah penghilangan hutan secara permanen, biasanya untuk pertanian, pemukiman, atau penambangan. Degradasi hutan terjadi ketika hutan tetap ada tetapi kualitasnya menurun akibat penebangan selektif, kebakaran, atau penjarangan yang berlebihan.
Penguatan regulasi anti-deforestasi, penggunaan satelit untuk pemantauan realtime, dan pemberian sanksi yang tegas pada pelanggar dapat menurunkan laju kehilangan hutan.
Menanam kembali pohon pada area yang telah rusak (reforestasi) atau mengembalikan fungsi ekosistem pada lahan terdegradasi (restorasi) dapat menyerap kembali karbon yang telah hilang. Proyek restorasi yang melibatkan masyarakat lokal cenderung lebih berkelanjutan.
Penerapan sistem pertanian yang mengintegrasikan pohon dengan tanaman pangan atau peternakan meningkatkan penyerapan karbon sekaligus memberi nilai ekonomi tambahan bagi petani.
Skema sertifikasi seperti Forest Stewardship Council (FSC) atau REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) memberikan insentif finansial bagi pemilik hutan yang menjaga atau memulihkan tutupan hutan.
Kebakaran liar menyumbang sekitar 10% emisi global. Membangun sistem deteksi dini, pembersihan lahan gambut, dan pendidikan komunitas dapat menurunkan frekuensi kebakaran.
Pemerintah memiliki peran strategis dalam menciptakan kebijakan yang mendukung konservasi hutan. Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi:
Perusahaan dapat mengurangi jejak karbon mereka dengan:
Setiap individu dapat berkontribusi melalui pilihan konsumsi dan partisipasi aktif:
Penggunaan satelit DETER dan program PRODES memungkinkan pemantauan deforestasi secara realtime, menurunkan laju kehilangan hutan hingga 30% antara 20042012.
Kerjasama antara pemerintah, LSM, dan perusahaan kelapa sawit berhasil menurunkan emisi dari deforestasi sebesar 2,8 juta ton COe pada periode 20152020.
Penerapan pohon akasia dalam kebun kacang tanah meningkatkan produktivitas lahan sebesar 35% dan menyerap tambahan 1,2 ton CO per hektar per tahun.
Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau korporasi; semua pemangku kepentinganmulai dari komunitas lokal hingga konsumen globalperlu berperan aktif. Dengan memperkuat regulasi, memanfaatkan teknologi pemantauan, mendukung pasar karbon, dan mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan, kita dapat memulihkan fungsi penyerap karbon hutan, melindungi keanekaragaman hayati, dan pada akhirnya memperlambat laju perubahan iklim.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi UN Climate Change atau Forest STEWs.
