Deforestasi dan degradasi hutan merupakan sumber utama emisi karbon dioksida (CO) yang berkontribusi pada perubahan iklim. Menurut data Global Forest Resources Assessment 2022, hutan kehilangan sekitar 10juta hektar tiap tahun, yang setara dengan 5% peningkatan emisi global. Mengurangi emisi dari aktivitas ini tidak hanya penting untuk menahan pemanasan global, tetapi juga mendukung keanekaragaman hayati, ketahanan air, dan kesejahteraan masyarakat adat.
Faktorfaktor utama meliputi:
Program zerodeforestation menuntut perusahaan dan pemerintah menghentikan konversi hutan menjadi lahan pertanian. Salah satu contoh keberhasilan adalah kebijakan Zero Deforestation Initiative di Brazil yang menurunkan laju deforestasi sebesar 30% dalam lima tahun pertama.
Menanam kembali pohon pada lahan yang telah dibabat dapat menyerap CO kembali ke atmosfer. Proyek Forest Landscape Restoration di Indonesia menargetkan 2juta hektar hingga 2030, dengan harapan mengurangi emisi sebesar 120MtCOe per tahun.
Pengelolaan hutan dengan sertifikasi seperti FSC (Forest Stewardship Council) memastikan penebangan tidak melebihi tingkat regenerasi alami. Sertifikasi ini juga membuka pasar premium bagi produk kayu yang ramah lingkungan.
Ketika masyarakat adat memiliki kepemilikan atau hak atas tanah, mereka cenderung melindungi hutan lebih baik. Studi di Amazon menunjukkan bahwa wilayah yang dikelola oleh komunitas adat mengalami deforestasi 80% lebih rendah dibandingkan wilayah publik.
Kebakaran, baik yang disengaja maupun alami, melepaskan karbon dalam jumlah besar. Mengimplementasikan sistem deteksi dini satelit, patroli komunitas, dan penyuluhan tentang bahaya pembakaran terbuka dapat menurunkan kejadian kebakaran hingga 40%.
Metode penghitungan emisi menggunakan tutupan hutan (forest cover) dan karbon stok (carbon stock). Menurut IPCC, hutan tropis menyimpan sekitar 350GtC (gigaton karbon). Setiap 1% penurunan tutupan hutan dapat meningkatkan emisi sekitar 0,7GtCO dalam satu dekade.
Menjaga hutan bukan hanya soal melestarikan pohon, melainkan melindungi layanan ekosistem yang menopang peradaban manusia. Dr. Siti Rahayu, pakar ekologi
Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan memerlukan kolaborasi lintas sektor: pemerintah, swasta, masyarakat adat, dan individu. Kebijakan yang tegas, investasi dalam restorasi, serta peningkatan kesadaran publik dapat menurunkan emisi nasional hingga 20% dalam 10tahun ke depan. Dengan tindakan yang terkoordinasi, hutan dapat kembali menjadi penyerap karbon yang kuat, sekaligus melindungi keanekaragaman hayati dan sumber daya bagi generasi selanjutnya.
