Stevens-Johnson Syndrome (SJS) dan Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) merupakan kondisi kegawatdaruratan dermatologis yang mengancam nyawa, yang ditandai dengan nekrosis luas pada epidermis dan membran mukosa. Kedua kondisi ini sering dipicu oleh reaksi obat yang parah. Dalam dekade terakhir, perdebatan mengenai peran kortikosteroid sistemik sebagai terapi utama tetap menjadi salah satu topik paling kontroversial dalam literatur medis.
SJS dan TEN berada pada spektrum penyakit yang sama, dibedakan terutama oleh luasnya permukaan tubuh yang terlibat. Meskipun patofisiologinya melibatkan aktivasi sel T sitotoksik dan pelepasan sitokin pro-inflamasi, penggunaan kortikosteroid tetap menjadi bahan diskusi panjang. Secara teoritis, sifat anti-inflamasi dan imunosupresif dari kortikosteroid seharusnya dapat menghentikan perkembangan penyakit jika diberikan pada tahap awal. Namun, studi observasional selama 10 tahun terakhir menunjukkan hasil yang bervariasi.
Analisis retrospektif yang mencakup periode satu dekade biasanya melibatkan peninjauan rekam medis pasien yang didiagnosis dengan SJS atau TEN di pusat rujukan tersier. Fokus utama dari studi semacam ini adalah untuk membandingkan tingkat mortalitas (berdasarkan skor SCORTEN), durasi rawat inap, waktu epitelisasi, dan insidensi komplikasi infeksius antara pasien yang menerima terapi kortikosteroid dengan mereka yang menerima perawatan suportif standar saja.
Berdasarkan tinjauan data selama sepuluh tahun, ditemukan beberapa poin penting:
Perdebatan utama selama sepuluh tahun terakhir berpusat pada apakah kortikosteroid benar-benar mempercepat penyembuhan atau justru menghambat re-epitelisasi. Beberapa data menunjukkan bahwa penggunaan kortikosteroid yang berkepanjangan dapat memperlambat regenerasi kulit. Namun, konsensus yang muncul dalam beberapa tahun terakhir lebih mendukung penggunaan kortikosteroid dalam jangka pendek (pulse therapy) untuk membatasi kerusakan jaringan di awal fase akut.
Analisis retrospektif selama 10 tahun ini memberikan wawasan bahwa kortikosteroid sistemik tetap menjadi opsi terapeutik yang berharga bagi pasien SJS dan TEN, asalkan diberikan dengan kriteria yang tepat. Faktor kunci kesuksesan terapi bukanlah penggunaan obat itu sendiri secara tunggal, melainkan integrasi antara pemberian kortikosteroid dosis tinggi di tahap awal penyakit dengan perawatan suportif yang intensif, termasuk manajemen cairan, perawatan luka aseptik, dan dukungan nutrisi.
Meskipun studi retrospektif memiliki keterbatasan dalam hal bias pemilihan dan variabel perancu, data ini memberikan landasan penting bagi klinisi dalam menentukan protokol manajemen pasien. Di masa depan, diperlukan uji klinis terkontrol secara acak yang lebih besar untuk memvalidasi temuan ini dan menetapkan panduan dosis yang lebih standar di seluruh dunia.
