Sejarah Singkat
Asal usul suku Banjar berakar pada masa Kerajaan Banjar (abad ke14 hingga ke19). Kerajaan ini didirikan oleh Raja Raden Prabu Jaya di daerah sekitar Sungai Barito. Pada abad ke17, Kerajaan Banjar menjadi salah satu pelabuhan penting yang menghubungkan perdagangan antara Jawa, Sulawesi, dan bahkan Eropa. Pengaruh Islam masuk melalui pedagang Arab dan Persia, menjadikan Islam agama mayoritas Banjar.
Setelah kedatangan Belanda pada akhir abad ke18, Kerajaan Banjar mengalami tekanan politik dan militer. Perang Banjar (18591905) berujung pada penaklukan Belanda dan pendirian pemerintahan kolonial. Meski demikian, identitas budaya Banjar tetap terjaga melalui bahasa, adat, dan kesenian tradisional.
Bahasa Banjar
Bahasa Banjar termasuk dalam kelompok bahasa MelayuPolinesia. Secara linguistik, bahasa ini memiliki tiga dialek utama: Banjar Hulu, Banjar Hilir, dan Banjar Laut. Meskipun ada perbedaan pelafalan, semua dialek dapat saling dipahami. Saat ini, bahasa Banjar tetap dipakai dalam percakapan seharihari, terutama di pasar tradisional, rumah adat, dan upacara keagamaan.
Penggunaan bahasa Banjar dalam media modern juga meningkat, terlihat pada stasiun radio lokal, program televisi, serta media sosial. Beberapa penyair dan penulis Banjar modern berusaha melestarikan sastra lama sekaligus menciptakan karya kontemporer.
Adat Istiadat dan Struktur Sosial
1. Sistem Kekerabatan
Keluarga Banjar biasanya bersifat patrilineal, namun perempuan memiliki peran penting dalam ekonomi rumah tangga. Sistem kekerabatan diatur melalui "griya" (rumah) dan "kawan" (kelompok kerabat), yang menjadi basis bagi bantuan sosial dan pertukaran barang.
2. Upacara Tradisional
Berbagai upacara menandai fase penting dalam kehidupan, antara lain:
- Ruwat upacara pernikahan yang melibatkan prosesi adat, pertunjukan musik tradisional, dan penyajian makanan khas.
- Tabuik perayaan yang berawal dari tradisi mengenang peristiwa Tabut Ashura, dipadukan dengan musik gambus.
- Muang upacara yang memperingati hari lahir atau kematian leluhur, biasanya diadakan di rumah adat.
3. Rumah Adat
Rumah tradisional Banjar disebut Rumah Bubungan Tinggi. Ciri khasnya adalah atap tinggi berbentuk segitiga dengan tiang utama yang menjulang, simbol status sosial pemilik. Pada masa kini, rumah ini masih dipertahankan sebagai museum atau tempat acara budaya.
Kesenian dan Kriya
Musik dan Tarian
Alat musik tradisional Banban meliputi:
- Gambus alat petik berbentuk bulat, menjadi tulang punggung musik sulap Banjar.
- Kompang drum kecil yang dimainkan bersamaan dengan gambus dalam acara adat.
Tarian tradisional yang populer antara lain Tari Dinda (tari perempuan yang menonjolkan gerakan lemah gemulai) dan Tari Topeng yang menggambarkan cerita-cerita rakyat.
Kriya dan Kerajinan Tangan
Banjar terkenal dengan anyaman rotan, kerajinan perak, serta batik Banjar yang memiliki motif air (gurut) dan daun kelapa. Motif batik tersebut biasanya berwarna biruhitam, mencerminkan nuansa hidup di tepi sungai.
Ekonomi dan Mata Pencaharian
Sejak lama, penduduk Banjar menggantungkan mata pencaharian pada pertanian, perikanan, dan perdagangan. Sawah di dataran rendah Barito menghasilkan padi yang menjadi makanan pokok. Perairan sungai menyediakan ikan patin, lele, dan ikan lainnya yang sering dipasarkan ke kotakota besar di Indonesia.
Pada abad ke20, Banjarmasin berkembang menjadi pusat perdagangan beras, hasil hutan, dan hasil tambang. Saat ini, sektor jasa, industri pengolahan makanan, serta pariwisata budaya menjadi kontributor utama PDB wilayah.
Pariwisata Budaya
Berbagai destinasi menarik menampilkan kekayaan budaya Banjar:
- Masjid Syarif Abdulrahman salah satu masjid tertua di Kalimantan dengan arsitektur khas Banjar.
- Kota Lama Banjarmasin area bersejarah dengan rumah-rumah adat, galeri seni, dan museum kereta api.
- Pasar Terapung pasar tradisional di atas sungai yang menawarkan kuliner khas seperti ketupat kandangan dan gudeg versi Banjar.
Festival tahunan seperti Pesta Rantau menarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menyaksikan pertunjukan musik, lomba perahu, dan pameran kuliner.
Kesimpulan
Suku Banjar merupakan bagian penting dari mozaik kebudayaan Indonesia. Dari sejarah kerajaannya yang gagah, bahasa yang khas, tradisi yang berwarna, hingga kontribusi ekonomi yang signifikan, semua membentuk identitas yang kuat. Upaya pelestarian bahasa, rumah adat, serta kesenian tradisional menjadi kunci agar warisan Banjar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Melalui pendidikan, media, dan partisipasi aktif masyarakat, budaya Banjar dapat terus berkembang sekaligus tetap menjaga nilainilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang.
