Udang galah atau giant freshwater prawn merupakan salah satu spesies udang air tawar yang paling diminati untuk budidaya komersial di Indonesia. Pemijahan yang berhasil menjadi kunci utama untuk memperoleh benih yang berkualitas dan produktif. Artikel ini membahas secara lengkap mengenai teknik pemijahan udang galah mulai dari persiapan lingkungan, pemilihan induk, prosedur induksi, hingga penanganan telur dan larva.
Kolam pemijahan umumnya berukuran kecil, antara 0,51m, dengan kedalaman 3050cm. Bentuk persegi atau persegi panjang memudahkan pengawasan dan pencatatan data.
Berikan substrat berupa jerami, serabut kelapa, atau rangka kerang yang dapat menampung telur. Permukaan harus halus agar tidak merusak membran telur.
Induk udang galah harus sehat, berumur 57 bulan, dengan ukuran jantan 150180mm dan betina 130160mm. Pastikan tidak ada tanda-tanda penyakit, luka atau perubahan warna pada ekor.
| Kriteria | Jantan | Betina |
|---|---|---|
| Umur | 57 bulan | 57 bulan |
| Berat | 2030g | 1525g |
| Ukuran | 150180mm | 130160mm |
| Kondisi | Aktif, tidak ada cedera | Perut tidak membesar (ova tidak matang) |
Masukkan induk ke dalam kolam pemijahan selama 2448 jam. Turunkan suhu secara bertahap 12C setiap 6 jam untuk menstimulasi hormon reproduksi.
Berikan pakan live plankton (basilisk, artemia) serta pelet khusus broodstock (3540% protein) 34 kali sehari. Pada 2 hari sebelum induksi, tambahkan pakan kaya asam lemak omega3 (mis. krill) untuk meningkatkan kualitas telur.
Jika pemijahan alami tidak terjadi, gunakan hormon sintetis seperti eyestalk ablation atau injeksi hormon (e.g., 20hydroxyecdysone). Teknik ini harus dilakukan oleh tenaga ahli dan memperhatikan dosis yang tepat (biasanya 0,050,1mg/g berat badan).
Setelah induksi, pasangan akan melakukan tindakan kawin (mating) di dalam kolam. Betina akan menyimpan sperma dalam spermatheca dan melepaskan telur dalam 1224 jam setelah kawin. Eggcarying (penyimpanan telur) berlangsung selama 57 hari.
Gunakan jaring halus (mesh 100m) untuk memanen substrat yang berisi telur. Hindari mengangkat substrat secara kasar agar tidak merusak membran telur.
Periksa perkembangan embrio setiap 6 jam. Telur akan berubah warna menjadi lebih gelap dan menunjukkan pembentukan organ setelah 4872 jam.
Setelah 45 hari, telur menetas menjadi nauplius. Pada fase ini, larva membutuhkan makanan mikro, seperti rotifer Brachionus plicatilis dan Branchiura* spp.
| Usia Larva | Pakan | Frekuensi |
|---|---|---|
| 024 jam | Rotifer (10org/ml) | 6/hari |
| 24 hari | Artemia nauplii (10org/ml) | 4/hari |
| 57 hari | Artemia metanauplii + mikroalga Isochrysis | 3/hari |
Setelah 710 hari, larva akan melewati fase zoea dan menjadi postlarva (PL). Pada tahap ini, mulai beri pakan pelet ukuran mikro (0,20,5mm) serta terus menyediakan artemia.
Teknik pemijahan udang galah memerlukan pengendalian ketat terhadap faktor lingkungan, pemilihan induk yang tepat, serta manajemen pakan dan kesehatan yang baik. Dengan mengikuti prosedur di atas, petani dapat menghasilkan benih berkualitas tinggi, meningkatkan produktivitas tambak, dan memperkuat posisi pasar udang galah Indonesia.
Pengembangan lebih lanjut dapat meliputi penggunaan sistem resirkulasi air (RAS), otomatisasi kontrol suhupHDO, serta penelitian genotypeenvironment interaction untuk meningkatkan keberhasilan pemijahan secara berkelanjutan.
