Tolak peluru adalah salah satu cabang olahraga atletik nomor lempar. Namun, berbeda dengan lempar cakram atau lempar lembing, dalam tolak peluru, atlet tidak "melempar" benda melainkan "menolak" atau mendorong peluru sejauh mungkin dengan menggunakan satu tangan. Tujuan utamanya adalah mencapai jarak tolakan yang paling jauh dari lingkaran tolakan yang telah ditentukan.
Olahraga ini berakar dari tradisi kompetisi melempar batu di kalangan masyarakat kuno, khususnya di Skotlandia dan Irlandia pada abad ke-19. Awalnya, kompetisi menggunakan batu sebagai alat, namun seiring berkembangnya waktu, standar alat berubah menjadi bola logam atau besi. Tolak peluru resmi dipertandingkan sejak Olimpiade modern pertama pada tahun 1896 untuk kategori putra, sedangkan untuk kategori putri baru mulai dipertandingkan pada tahun 1948.
Peluru yang digunakan terbuat dari bahan besi atau kuningan yang dibentuk bulat sempurna. Berat peluru berbeda-beda tergantung kategori atlet:
Untuk mencapai tolakan yang maksimal, atlet harus menguasai beberapa teknik dasar:
Peluru diletakkan di telapak tangan, bukan di jari. Gunakan jari-jari untuk menahan peluru agar tidak jatuh, dan pastikan peluru menempel pada leher di bawah dagu sebelum didorong.
Ada dua gaya utama yang sering digunakan dalam kompetisi profesional:
Agar tolakan dianggap sah, atlet harus mematuhi beberapa aturan berikut:
Tolak peluru bukan sekadar adu kekuatan otot, melainkan kombinasi harmonis antara koordinasi tubuh, keseimbangan, dan teknik yang presisi. Dengan latihan yang disiplin, setiap atlet dapat mengoptimalkan eksplosifitas tenaga untuk mencapai jarak terjauh yang memungkinkan.
