Taman Nasional MeruBetiri terletak di pesisir selatan JawaTimur dan mencakup sekitar 580km hutan tropis hujan lebat, mangrove, serta ekosistem pantai. Hutan ini menyimpan lebih dari 2gigaton karbon dalam biomassa hidup dan tanahnya, menjadikannya salah satu sumber penyerap karbon terbesar di Indonesia. Namun, sejak akhir 1990-an, laju deforestasi dan degradasi hutan di wilayah ini meningkat akibat pembukaan lahan pertanian, penebangan liar, serta penambangan pasir. Kondisi tersebut berkontribusi pada emisi CO yang signifikan, mengancam target Indonesia dalam REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation). Konservasi hutan tropis di MeruBetiri menurunkan emisi melalui dua mekanisme utama: Selain itu, hutan yang terjaga meningkatkan keanekaragaman hayati, melindungi habitat satwa langka seperti komodo dan penyu sisik, serta menyediakan layanan ekosistem penting bagi masyarakat lokal. Patroli bersama antara aparat TNI/Polri, Satgas Kehutanan, dan komunitas adat untuk mencegah penebangan ilegal. Penggunaan teknologi satelit dan drone mempermudah pemantauan perubahan tutupan lahan secara realtime. Implementasi mekanisme pembayaran hasil jasa lingkungan (PES) yang memberikan insentif keuangan kepada masyarakat yang menjaga hutan. Dana REDD+ dialokasikan untuk: Mangrove di pesisir MeruBetiri berperan sebagai penyerap karbon biru. Penanaman kembali 300ha mangrove dengan melibatkan nelayan setempat meningkatkan stok karbon serta melindungi wilayah pantai dari abrasi. Pengembangan sistem peringatan dini berbasis sensor suhu dan komunitas bersertifikat FireWatch. Penyuluhan tentang bahaya pembukaan lahan dengan cara dibakar mengurangi insiden kebakaran yang memicu emisi besar. Keuntungan bagi iklim: Setiap hektar hutan terpelihara dapat menyimpan ratarata 150200ton CO per tahun, membantu Indonesia memenuhi komitmen NDC2023. Keuntungan bagi masyarakat: Pendapatan tambahan dari program PES dan ekowisata meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, mengurangi tekanan untuk membuka lahan. Keuntungan bagi keanekaragaman hayati: Habitat yang terjaga memastikan kelangsungan populasi spesies terancam seperti macan tutul Jawa, elang Jawa, dan penyu hijau. Tantangan utama: Solusi yang diusulkan: Konservasi hutan tropis di Taman Nasional MeruBetiri bukan hanya upaya menjaga satu kawasan berhutan, melainkan bagian integral dari strategi nasional untuk mengurangi emisi dan melindungi keanekaragaman hayati. Dengan menggabungkan penegakan hukum yang kuat, mekanisme REDD+, restorasi mangrove, serta partisipasi aktif masyarakat, potensi penyimpanan karbon hutan dapat dimaksimalkan sekaligus meningkatkan kesejahteraan lokal. Implementasi yang konsisten dan pendanaan berkelanjutan akan menjadikan MeruBetiri contoh sukses dalam upaya mitigasi perubahan iklim Indonesia.Konservasi Hutan Tropis di Taman Nasional MeruBetiri
Latar Belakang
Pentingnya Konservasi untuk Mengurangi Emisi

Strategi Utama Konservasi
1. Penguatan Penegakan Hukum
2. Program REDUksi Emisi Dari Deforestasi (REDD+)
3. Restorasi Ekosistem Mangrove
4. Pengelolaan Kebakaran Hutan
Manfaat Lingkungan & Sosial
Tantangan dan Solusi
Penutup
