Uterine Atony dan Link Download File Referensi

https://eu2.contabostorage.com/00f3241116844f24b628f46d81abb929:st1/folder9/9988/1656561481_postpartum___Ilmu_Kesehatan.ppt

2026-06-02 08:03:03 - Admin

<style> body{ font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 1.6; margin:0; padding:0; background:#f9f9f9; color:#333; } header{ background:#4CAF50; color:#fff; padding:20px 10px; text-align:center; } main{ max-width:800px; margin:20px auto; padding:0 15px; background:#fff; box-shadow:0 0 5px rgba(0,0,0,0.1); } h1,h2{ color:#4CAF50; } ul{ margin-left:20px; } .section{ padding:15px 0; border-bottom:1px solid #e0e0e0; } .section:last-child{ border:none; } a{ color:#4CAF50; } </style><header> <h1>Uterine Atony (Atoni Rahim)</h1></header><main> <section class="section"> <h2>Apa Itu Uterine Atony?</h2> <p>Uterine atony atau atoni rahim adalah kondisi dimana otot rahim tidak dapat berkontraksi secara efektif setelah melahirkan atau setelah prosedur obstetri lainnya. Kontraksi yang lemah atau tidak ada menyebabkan perdarahan postpartum yang berlebihan, yang dapat menjadi penyebab utama kematian ibu di seluruh dunia.</p> </section> <section class="section"> <h2>Penyebab Utama</h2> <ul> <li><strong>Overdistensi rahim</strong>: kehamilan ganda, volume cairan amniotik berlebih, atau makrosomia.</li> <li><strong>Stimulasi uterin yang berlebihan</strong>: penggunaan oksitosin atau prostaglandin secara tidak tepat.</li> <li><strong>Trauma atau operasi rahim</strong>: seksi caesar, uterine curettage, atau ruptur rahim.</li> <li><strong>Hipotensi dan hipoksia</strong> pada ibu selama persalinan.</li> <li><strong>Faktor medis lain</strong>: infeksi berat, koagulopati, atau penggunaan anestesi umum yang lama.</li> </ul> </section> <section class="section"> <h2>Gejala dan Tanda Klinis</h2> <p>Gejala utama atoni rahim adalah pendarahan vagina yang terus-menerus setelah bayi lahir. Tanda-tanda lain meliputi:</p> <ul> <li>Uterus terasa floppy atau tidak keras saat diraba.</li> <li>Tekanan darah menurun, nadi cepat, atau sesak napas pada ibu.</li> <li>Penurunan jumlah sel darah merah (anemia) jika perdarahan berlangsung lama.</li> </ul> </section> <section class="section"> <h2>Diagnosa</h2> <p>Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan fisik dan evaluasi cepat terhadap volume perdarahan. Alat bantu seperti USG dapat membantu menilai ukuran serta tonus rahim, namun tindakan utama tetap pemeriksaan manual oleh tim obstetri.</p> </section> <section class="section"> <h2>Penanganan Darurat</h2> <p>Penanganan atoni rahim harus dilakukan dalam beberapa menit pertama untuk mencegah shock hemorrhagic.</p> <ol> <li><strong>Uterotonik</strong>: Berikan oksitosin IV 1020 IU atau methergin 0,2 mg IM, kemudian dilanjutkan dengan uterotonik lain seperti misoprostol, carboprost, atau tranexamic acid bila diperlukan.</li> <li><strong>Masukkan kateter ujung rahim</strong> (uterine tamponade) dengan balon Foley atau Bakri jika kontraksi tidak cukup.</li> <li><strong>Manuver uterine massage</strong> dengan tangan steril untuk merangsang kontraksi.</li> <li><strong>Penggantian cairan dan darah</strong> secara cepat (crystalloid, darah PRC, atau plasma) untuk mengatasi perdarahan.</li> <li><strong>Operasi</strong> bila langkah konservatif gagal: uterine artery ligation, B-Lynch suture, atau histerektomi sebagai upaya terakhir.</li> </ol> </section> <section class="section"> <h2>Pencegahan</h2> <p>Strategi pencegahan meliputi:</p> <ul> <li>Identifikasi faktor risiko (kehamilan ganda, riwayat atoni, dll.) sejak antenatal.</li> <li>Penggunaan oksitosin secara terkontrol selama dan setelah persalinan.</li> <li>Monitor aktifitas kontraksi rahim setelah kelahiran dengan palpasi atau alat elektronik.</li> <li>Persiapan obat uterotonik dan peralatan tamponade di ruang bersalin.</li> </ul> </section> <section class="section"> <h2>Prognosis</h2> <p>Jika ditangani cepat, mayoritas ibu dapat pulih tanpa komplikasi jangka panjang. Namun, atoni rahim yang tidak terkendali dapat menyebabkan kehilangan darah >1500ml, shock, kegagalan organ, atau kematian. Pada kasus yang memerlukan histerektomi, risiko infertilitas permanen menjadi pertimbangan penting.</p> </section> <section class="section"> <h2>Referensi Utama</h2> <ul> <li>WHO. WHO recommendations for the prevention and treatment of postpartum haemorrhage. 2022.</li> <li>American College of Obstetricians and Gynecologists. Management of Postpartum Hemorrhage. 2021.</li> <li>RCOG. Guideline: Postpartum haemorrhage. 2020.</li> </ul> <p>Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi situs <a href="https://www.who.int" target="_blank">WHO</a> atau <a href="https://www.acog.org" target="_blank">ACOG</a>.</p> </section></main>```

Lebih banyak