Novel Mockingjay karya Suzanne Collins merupakan bagian penutup dari trilogi The Hunger Games yang fenomenal. Sebagai karya sastra yang sarat akan muatan emosional dan kritik sosial, penggunaan gaya bahasa, khususnya majas metafora, memegang peranan krusial dalam membangun atmosfer cerita serta mendalami karakter tokoh utamanya, Katniss Everdeen. Menerjemahkan karya ini ke dalam bahasa Indonesia merupakan tantangan linguistik dan budaya yang signifikan bagi penerjemah.
Metafora berfungsi sebagai alat untuk mengomunikasikan pengalaman subjektif melalui perbandingan implisit. Dalam Mockingjay, metafora sering digunakan untuk menggambarkan trauma perang, ketidakpastian politik, dan perasaan terasing yang dialami oleh Katniss. Ketika metafora ini diterjemahkan, tujuannya bukan hanya memindahkan makna kata demi kata, melainkan mempertahankan dampak emosional dan citra visual yang ingin disampaikan oleh penulis aslinya.
Salah satu hambatan utama dalam menerjemahkan majas metafora adalah perbedaan sistem budaya dan sistem bahasa antara bahasa Inggris (bahasa sumber) dan bahasa Indonesia (bahasa sasaran). Beberapa metafora yang terdengar natural dalam bahasa Inggris mungkin terasa asing atau tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, penerjemah sering kali harus melakukan adaptasi agar pembaca Indonesia dapat menangkap esensi pesan tanpa kehilangan nilai estetika dari gaya bahasa tersebut.
Dalam melakukan analisis terhadap terjemahan majas metafora, terdapat tiga aspek utama yang biasanya dinilai, yaitu:
Dalam beberapa bagian di Mockingjay, Collins menggunakan metafora terkait alam atau kehancuran untuk melambangkan kondisi psikologis Katniss. Penerjemah yang kompeten akan memilih diksi yang tidak hanya literal, tetapi juga memiliki resonansi emosional yang serupa. Misalnya, metafora mengenai "api" yang sering dikaitkan dengan peran Katniss sebagai simbol pemberontakan, harus diterjemahkan dengan pemilihan kata yang tetap mempertahankan gairah dan ketegangan tersebut dalam bahasa Indonesia.
Jika penerjemah memilih untuk mempertahankan bentuk metafora asli, namun hasilnya justru membingungkan pembaca, maka langkah yang diambil biasanya adalah dengan melakukan pergeseran (shift) atau penyesuaian bentuk. Namun, harus dipastikan bahwa inti metaforanya tetap terjaga agar karakterisasi yang dibangun oleh penulis tidak melenceng.
Penilaian terjemahan majas metafora dalam novel Mockingjay tidak bisa hanya dilihat dari sudut pandang gramatikal semata. Karena ini adalah karya sastra, nilai estetika dan kekuatan emosional menjadi indikator keberhasilan yang dominan. Penerjemah dituntut untuk memiliki kepekaan sastra yang tinggi agar metafora yang tertuang dalam teks asli dapat "hidup" kembali di dalam bahasa sasaran, sehingga pembaca Indonesia dapat merasakan intensitas yang sama dengan pembaca bahasa aslinya.
Analisis lebih lanjut mengenai teknik penerjemahanseperti penerjemahan metafora menjadi metafora (metaphor to metaphor), metafora menjadi perumpamaan (metaphor to simile), atau metafora menjadi non-metaforasangat penting untuk dilakukan demi memahami strategi terbaik dalam menjaga kualitas sebuah karya sastra populer di kancah global.
