Asma adalah kondisi kronis jangka panjang yang mempengaruhi saluran pernapasan (bronkus) di paru-paru. Saluran pernapasan ini bertugas membawa udara masuk dan keluar dari paru-paru. Pada penderita asma, saluran udara tersebut mengalami peradangan dan menyempit secara berkala, sehingga menyulitkan udara untuk lewat. Kondisi ini sering disebut sebagai "bengek" oleh masyarakat umum di Indonesia.
Ketika seseorang terkena serangan asma, lapisan dalam dinding saluran pernapasannya membengkak. Ini menyebabkan otot-otot di sekitar saluran udara menegang dan menyempit, serta produksi lendir meningkat. Kombinasi dari pembengkakan, penegangan otot, dan lendir berlebih ini mengurangi ruang untuk udara mengalir, yang mengarah kesulitan bernapas, batuk, dan suara mengi (ngik-ngik).
Gejala asma bervariasi dari orang ke orang. Beberapa penderita mungkin jarang mengalami gejala (asma intermiten), sementara yang lain mungkin mengalaminya setiap hari (asma persisten). Gejala umum meliputi:
Penting untuk diingat bahwa gejala ini bisa menjadi lebih parah saat melakukan aktivitas fisik, saat tidur, atau saat terpapar pemicu asma.
Penyebab pasti asma belum sepenuhnya dipahami, namun diyakini sebagai kombinasi faktor genetik (keturunan) dan faktor lingkungan. Ada beberapa hal yang dapat memicu atau memperburuk gejala asma, yang dikenal sebagai "penderita asma". Pemicu ini berbeda bagi setiap orang, namun yang paling umum meliputi:
Dokter akan mendiagnosa asma berdasarkan riwayat medis pasien, pemeriksaan fisik, serta tes fungsi paru-paru. Tes yang paling umum dilakukan adalah Spirometri (tes fungsi paru-paru). Tes ini mengukur seberapa banyak udara yang bisa Anda hembuskan setelah napas dalam-dalam dan seberapa cepat Anda bisa menghembuskannya. Selain itu, dokter mungkin juga melakukan tes pelebaran obat bronkodilator untuk melihat apakah fungsi paru-paru membaik setelah penggunaan obat.
Asma adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara total, tetapi dapat dikontrol dengan baik. Dengan pengobatan yang tepat, penderita asma dapat menjalani hidup yang normal dan aktif. Pengobatan utama melibatkan penggunaan obat-obatan, biasanya melalui inhaler atau nebulizer, yang terbagi menjadi dua kategori utama:
Obat ini digunakan secara harian jangka panjang untuk mencegah munculnya gejala, terutama peradangan pada saluran napas. Contoh yang paling sering digunakan adalah kortikosteroid inhalasi. Obat ini bekerja perlahan dan tidak efektif untuk menghentikan serangan yang sedang terjadi.
Obat ini digunakan saat serangan asma terjadi untuk mengendurkan otot-otot di sekitar saluran udara dengan cepat sehingga pernapasan kembali lancar. Contohnya adalah bronkodilator bertindak cepat (seperti salbutamol). Efeknya biasanya terasa dalam hitungan menit.
Selain pengobatan medis, penderita asma sangat disarankan membuat "rencana tindak asma" bersama dokter. Rencana ini membantu pasien mengenali serangan yang sedang datang dan tindakan apa yang harus dilakukan.
Serangan asma bisa mengancam jiwa jika tidak ditangani segera. Segera cari pertolongan medis darurat jika Anda mengalami:
Mengatur gaya hidup, menghindari pemicu, dan mengonsumsi obat secara teratur adalah kunci utama untuk hidup sehat meski menderita asma. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter paru (pulmonologi) agar pengobatan dapat disesuaikan dengan kondisi Anda.
