DI WILAYAH ADYAKSA IX KOTA MAKASSAR
Diabetes Melitus (DM) adalah salah satu penyakit kronis yang menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia maupun dunia. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) tahun 2021, Indonesia menempati urutan kelima negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia, yaitu sekitar 19,5 juta orang. Diabetes Melitus tipe I, meskipun hanya menyumbang sekitar 5-10% dari seluruh kasus diabetes, merupakan kondisi yang menuntut manajemen yang komprehensif, terutama pada pasien gerontik.
Perawatan gerontik pada pasien diabetes mellitus memerlukan pendekatan khusus karena adanya perubahan fisiologis yang menyertai penuaan, komorbiditas yang seringkali menyertainya, serta perubahan sistem sosial dan psikologis pada lansia. Wilayah Adyaksa IX Kota Makassar memiliki karakteristik demografis dengan proporsi penduduk lansia yang terus meningkat, sehingga asuhan keperawatan gerontik pada pasien diabetes menjadi sangat relevan.
Dokumentasi ini menyajikan asuhan keperawatan gerontik pada Ny. J, seorang pasien usia lanjut dengan diagnosis Diabetes Melitus tipe I yang tinggal di wilayah Adyaksa IX Kota Makassar. Studi kasus ini bertujuan memberikan gambaran komprehensif mengenai pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi asuhan keperawatan yang diberikan.
| Nama | Ny. J (inisial untuk menjaga kerahasiaan) |
|---|---|
| Usia | 67 tahun |
| Jenis Kelamin | Perempuan |
| Agama | Islam |
| Suku | Bugis |
| Pendidikan Terakhir | SMA |
| Pekerjaan | Ibu Rumah Tangga (Purna Bakti) |
| Alamat | Wilayah Adyaksa IX, Kota Makassar |
| Status Perkawinan | Janda |
| Tanggal Masuk | 10 Oktober 2023 |
| No. Rekam Medis | RM-2023-34567 |
Ny. J datang ke fasilitas kesehatan dengan keluhan utama sering merasa haus, sering buang air kecil (poliuria), badan terasa lemah, dan berat badan menurun dalam tiga bulan terakhir. Keluhan ini telah dirasakan sejak enam bulan yang lalu dan semakin meningkat sebulan terakhir. Pasien juga mengeluhkan pandangan mata yang kadang-kadang kabur, terutama saat melihat objek jauh.
Pasien menderita Diabetes Melitus tipe I sejak 20 tahun yang lalu dan rutin mendapat insulin injeksi. Pasien mengakui sering lupa melakukan injeksi insulin karena kesibukan mengurus cucu dan ketiadaan anggota keluarga yang membantu mengingatkan. Pasien juga mengaku sering mengonsumsi makanan manis karena difasilitasi oleh cucu-cucunya yang sering membelikan kue dan makanan manis lain.
Pasien mengatakan pernah menderita penyakit demam berdarah dengue pada umur 45 tahun. Tidak pernah mengalami penyakit jantung, stroke, atau penyakit kronis lain sebelum didiagnosis Diabetes Melitus. Pasien juga tidak memiliki riwayat operasi sebelumnya. Riwayat transfusi darah tidak pernah dilakukan.
Ayah pasien meninggal karena komplikasi diabetes pada usia 65 tahun, sedangkan ibu meninggal karena stroke pada usia 70 tahun. Salah satu adik perempuan juga menderita diabetes tipe II. Tidak ada riwayat penyakit keturunan lain dalam keluarga. Pasien memiliki dua orang anak yang sehat dan tinggal di Jakarta.
| Bagian Tubuh | Hasil Pengkajian |
|---|---|
| Kesadaran | Compos Mentis (CM) |
| Tanda Vital | Tekanan Darah: 130/80 mmHg Nadi: 88x/menit (teratur) Suhu: 36.7C Pernapasan: 20x/menit SpO2: 97% |
| BB/TB | 52 kg (berat badan turun 3 kg dalam 2 bulan) / 155 cm BMI: 21.6 (Normal) |
| Kepala | Tidak ada kelainan, rambut menipis berwarna putih |
| Mata | Sclera ikterik (-), konjungtiva anemis (-), pupil Isokor, refleks cahaya baik |
| Telinga | Serumen (-), pendengaran berkurang sedikit |
| Hidung | Tidak ada kelainan, sekret tidak ada |
| Mulut | Mukosa bibir kering, mukosa mulut kering, gigi berkurang (sisa 10 gigi) |
| Leher | JVP tidak meningkat, kelenjar tiroid tidak membesar |
| Thoraks/Paru | Vesikuler di kedua lapangan paru, tidak ada ronkhi atau wheezing |
| Jantung | Bunyi jantung I dan II reguler, tidak ada murmur |
| Abdomen | Perut lembut, tidak ada massa, hepato dan splenomegali (-), bising usus normal |
| Ekstremitas Bawah | Tidak ada edema, sirkulasi baik, sensasi menurun pada distal |
| Kulit | Turgor menurun, kering, elastisitas berkurang |
| Laboratorium | GDS: 280 mg/dL HbA1c: 8.9% Urine: Glukosa +2 Lipid Profile: Kolesterol total 240 mg/dL |
Ny. J tampak tenang namun kadang mengeluhkan rasa sedih tinggal sendirinya di rumah. Pasien menyatakan bahwa kedua anaknya sudah menikah dan tinggal di Jakarta sehingga jarang bisa menengoknya. Pasien tinggal bersama dua cucunya yang masih bersekolah. Pasien mengaku merasa beban mengurus cucu-cucunya namun juga merasa senang memiliki kesibukan. Pasien mengaku khawatir tentang kondisi kesehatannya dan takut menjadi beban bagi anak-anaknya.
Pasien berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Biaya pengobatan dan insulin sebagian ditanggung oleh anak-anaknya, namun pasien terkadang mengalami kesulitan keuangan untuk biaya transportasi ke fasilitas kesehatan. Pasien tinggal di rumah sederhana di wilayah Adyaksa IX yang jarang dikunjungi oleh petugas kesehatan. Jarak ke fasilitas kesehatan terdekat sekitar 3 km dengan fasilitas transportasi terbatas.
Berdasarkan hasil pengkajian, didapatkan beberapa diagnosa keperawatan prioritas pada Ny. J, antara lain:
Pasien diberikan edukasi intensif mengenai pengelolaan diabetes melitus tipe I. Pendidikan kesehatan meliputi penjelasan mengenai penyakit, komplikasi, pentingnya keteraturan obat, diet, dan olahraga. Materi disampaikan dengan metode ceramah singkat, demonstrasi, dan leaflet berbahasa Indonesia yang mudah dipahami.
Demonstrasi praktik dilakukan untuk teknik injeksi insulin yang benar, cara mengukur gula darah dengan portable glucometer, serta teknik pemeriksaan dan perawatan kaki. Pasien diminta melakukan praktek ulang untuk memastikan pemahaman.
Dietitian bekerja sama dengan perawat menyusun menu makanan yang sesuai dengan kondisi pasien, budaya lokal Makassar, dan kemampuan ekonomi. Rencana diet mencakup penggantian olahan makanan lokal dengan kandungan gula tinggi dengan alternatif lebih sehat, serta pengaturan porsi yang tepat.
Jadwal injeksi insulin disusun ulang untuk memudahkan pasien mengingatnya, dengan dibuatkan pengingat visual yang ditempatkan di tempat strategis di rumah. Keluarga diminta untuk membantu mengingatkan pasien mengenai jadwal pengobatan.
Pasien diajarkan cara mengukur gula darah mandiri setidaknya dua kali seminggu dan mencatat hasilnya. Buku catatan glukosa darah disediakan untuk monitoring oleh petugas kesehatan. Monitoring tanda-tanda komplikasi juga diperlukan, terutama pada area kaki.
Dihubungi petugas Puskesmas yang bertanggung jawab di wilayah Adyaksa IX untuk memantau pasien secara berkala. Dijadwalkan kunjungan home care oleh perawat komunitas dua minggu sekali dalam bulan pertama, kemudian sebulan sekali sesuai kondisi pasien.
Setelah empat minggu intervensi, berat badan pasien stabil dan meningkat 0,5 kg. Pasien mengaku nafsu makan meningkat dan mengikuti jadwal makan yang ditentukan. Tanda-tanda polyphagia berkurang secara signifikan.
Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi baru selama periode monitoring. Pasien mampu melakukan perawatan kaki yang benar dan mempraktikkan teknik kebersihan diri yang diajarkan.
Mukosa mulut lebih lembab, turgor kulit membaik, dan pasien mengaku frekuensi minum teratur dengan total cairan mencapai target. Tidak ditemukan tanda-tanda dehidrasi.
Kondisi kulit membaik, terutama pada area kaki. Pasien memeriksa kaki setiap hari dan melaporkan tidak ada luka atau iritasi baru. Elastisitas kulit sedikit meningkat.
Pasien mampu menjelaskan kembali informasi penting mengenai pengelolaan diabetes. Pasien lebih teratur dalam melakukan injeksi insulin dan mengukur gula darah secara mandiri. Pasien mengaku lebih paham mengenai tanda-tanda komplikasi dan langkah pencegahannya.
Asuhan keperawatan gerontik pada Ny. J, pasien dengan Diabetes Melitus tipe I di wilayah Adyaksa IX Kota Makassar, memerlukan pendekatan holistik yang mencakup aspek fisik, psikologis, dan sosial. Fokus utama meliputi manajemen nutrisi, pencegahan komplikasi, edukasi kesehatan, dan dukungan sosial.
Pasien lansia dengan diabetes memerlukan perhatian khusus karena perubahan fisik yang menyertainya proses penuaan, penurunan fungsi kognitif ringan, dan potensi isolasi sosial. Intervensi yang diberikan menunjukkan perbaikan pada kondisi fungsional pasien, peningkatan pengetahuan, dan kemampuan pengelolaan mandiri diabetes.
Faktor pendukung keberhasilan adalah sistem dukungan keluarga, kesediaan pasien untuk belajar, dan akses terhadap fasilitas kesehatan. Tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan ekonomi, jarak ke fasilitas kesehatan, dan penurunan kemampuan fisik terkait penuaan.
Kolaborasi antara perawat, petugas kesehatan komunitas, dan keluarga sangat penting untuk memastikan keberlanjutan asuhan keperawatan pada pasien gerontik dengan Diabetes Melitus tipe I di tingkat masyarakat.
