ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER III YANG MENGALAMI HIPERTENSI
Pendahuluan
Hipertensi dalam kehamilan merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu dan janin, baik di negara berkembang maupun negara maju. Kondisi ini didefinisikan sebagai timbulnya hipertensi setelah 20 minggu usia kehamilan. Pada trimester III, tubuh ibu mengalami perubahan fisiologis yang drastis untuk mempersiapkan persalinan, dan hipertensi dapat mengganggu adaptasi ini, menyebabkan komplikasi serius seperti preeklampsia, eklampsia, sindrom HELLP, dan solusio plasenta.
Asuhan keperawatan yang komprehensif pada ibu hamil dengan hipertensi di trimester III sangat krusial. Tujuan utama dari asuhan ini adalah untuk mengontrol tekanan darah, mencegah terjadinya kejang (eklampsia), menjaga perfusi plasenta agar janin tetap sehat, serta mempersiapkan ibu dan keluarga menghadapi persalinan yang mungkin terjadi secara prematur atau melalui operasi sesar.
Review Singkat Fisiologi dan Patofisiologi
Pada kehamilan normal, terjadi penurunan resistensi vaskular sistemik akibat vasodilatasi yang diproduksi oleh hormon kehamilan seperti progesteron dan prostasiklin. Namun, pada ibu hamil dengan hipertensi (terutama preeklampsia), terjadi abnormalitas pada implantasi trofoblast yang menyebabkan Ischemia plasenta. Ischemia ini memicu pelepasan faktor anti-angiogenik ke dalam sirkulasi materna, yang kemudian menyebabkan disfungsi endothelial vaskular sistemik.
Disfungsi endothelial ini menyebabkan vasokonstriksi generalized, peningkatan aktivitas trombosit, dan peningkatan permeabilitas kapiler. Akibat klinisnya adalah hipertensi, proteinuria (kebocoran protein melalui ginjal), dan edema. Pada trimester III, beban hemodinamik meningkat, sehingga jika kondisi hipertensi tidak dikontrol, risiko cedera organ target seperti otak (kejang, stroke), hati (sindrom HELLP), dan ginjal akan meningkat tajam.
Pengkajian Keperawatan
Pengkajian adalah langkah awal dan paling dasar dalam proses keperawatan. Perawat harus melakukan pengkajian menyeluruh untuk mendeteksi tanda-tanda deteriorasi sedini mungkin. Pengkajian dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu biopsikososial dan fisik.
1. Pengkajian Subjektif
- Keluhan Utama: Ibu sering mengeluh sakit kepala (cephalgia) yang biasanya di daerah oksipital atau frontal dan tidak hilang dengan istirahat biasa.
- Gangguan Penglihatan: Laporan adanya penglihatan kabur (blurred vision), melihat kilatan cahaya (scotoma), atau sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia).
- Nyeri Epigastrium: Nyeri di ulu hati (epigastrium) yang sering disalahartikan sebagai maag, namun pada preeklampsia ini menandakan adanya iritasi hati dan edema kaput medusae.
- Mual dan Muntah: Mual dan muntah yang berlebihan terutama menjelang usia kehamilan lanjut.
- Perasaan Tidak Nyaman: Ibu merasa cemas berat mengenai keselamatan janinnya, mengalami gangguan tidur, dan merasa sesak nafas (dispnea) akibat edema paru atau pengangkatan diafragma.
2. Pengkajian Objektif
- Tanda Vital:
- Tekanan Darah: ≥140/90 mmHg dalam dua kali pengukuran dengan interval 4 jam. Hipertensi berat bila ≥160/110 mmHg.
- Nadi: Takikardia (>100 x/menit) dapat terjadi sebagai kompensasi atau akibat efek obat (misal: hidralazin).
- Pernafasan: Pola napas bisa cepat jika terdapat edema paru atau asidosis metabolik.
- Suhu: Dapat meningkat jika terjadi infeksi atau proses iskemik pada organ hati.
- Inspeksi Umum: Penampilan tampak gelisah, wajah pucat atau sianosis. Didapatkan edema pada wajah, tangan, dan tungkai bawah (pitting edema). Namun, perlu diingat bahwa edema bukan indikator patognomonik karena bisa terjadi pada kehamilan normal.
- Pemeriksaan Fisik Sistematik:
- Sistem Saraf: Reflek tendon dalam yang meningkat (hyperreflexia), klonus positif (tanda kegagalan sistem saraf pusat), dan tingkat kesadaran yang menurun.
- Sistem Kardiovaskuler: Auskultasi jantung untuk mendeteksi suara jantung tambahan (S3 atau S4) yang menandakan gagal jantung.
- Sistem Abdomen: Palpasi abdomen untuk menilai kontraksi uterus dan sensitivitas. Ukuran fundus uteri sesuai usia kehamilan atau ketinggalan jika terjadi pertumbuhan terhambat intrauterin (IUGR).
- Inspeki Vulva: Adanya edema vulva yang berat.
- Pemeriksaan Diagnostik Pendukung:
- Proteinuria: ≥ +1 pada dipstik atau ≥ 300 mg dalam urin 24 jam (tanda penting preeklampsia).
- Laboratorium Darah: Trombosit (<100.000/mm3 pada sindrom HELLP), peningkatan enzim hati (SGOT, SGPT, LDH), kreatinin serum, dan asam urat.
- USG: Untuk menilai usia kehamilan, berat janin, volume air ketuban, dan aliran darah umbilikalis (Doppler).
Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data pengkajian di atas, beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada ibu hamil trimester III dengan hipertensi antara lain:
- Risiko Kerusakan Vaskular Cerebral (Serebrovaskuler) berhubungan dengan peningkatan tekanan darah dan vasokonstriksi serebral.
- Risiko Perubahan Perfusi Jaringan Janin berhubungan dengan vasospasme arteri uterina yang mengurangi aliran darah ke plasenta.
- Kurang Pengetahuan mengenai kondisi, prosedur pengobatan, dan perawatan diri berhubungan dengan kurangnya informasi sumber.
- Ansietas berhubungan dengan ancaman kesehatan terhadap diri sendiri dan janin.
- Risiko Volume Cairan Berlebih (Edema) berhubungan dengan retensi natrium dan peningkatan permeabilitas kapiler.
Intervensi dan Implementasi
1. Intervensi untuk Risiko Kerusakan Vaskular Cerebral
Tujuannya adalah mencegah terjadinya kejang (eklampsia) dan stroke.
- Berikan Lingkungan yang Tenang: Kurangi rangsangan cahaya yang terang dan suara bising. Ruangan rawat sebaiknya redup dan tenang untuk mencegah rangsangs saraf yang dapat memicu kejang.
- Observasi Tanda Vital Ketat: Pantau tekanan darah, nadi, dan pernapasan setiap 1-2 jam sekali, atau lebih sering bila kondisi labil.
- Pantau Tanda Premonisi Kejang: Kaji tanda-tanda seperti sakit kepala hebat, penglihatan kabur, nyeri epigastrium, dan hiperrefleksi.
- Terapi Profilaksis Kejang: Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian Magnesium Sulfat (MgSO4) baik sebagai loading maupun maintenance dosis. Pantau tanda-tanda toksisitas MgSO4 (reflek patella menurun, nafas <16x/menit, diuresis <100ml/jam/4jam).
- Persiapan Darurat: Sediakan alat untuk menjaga jalan nafas (airway, suction), perawat siap memberian obat anti-hipertensi (misal Hydralazin atau Nifedipin) injeksi bila TD kritis ≥160/110 mmHg, serta sedasi jika terjadi kejang.
2. Intervensi untuk Risiko Perubahan Perfusi Jaringan Janin
Tujuannya mempertahankan oksigenasi dan nutrisi adekuat menuju janin.
- Posisi Miring Kiri: Ajarkan ibu untuk tidur dalam posisi miring ke kiri. Posisi ini mengurangi tekanan vena cava inferior oleh uterus berat, sehingga mengembalikan curah jantung dan meningkatkan aliran darah ke plasenta.
- Batasi Aktivitas Fisik: Anjurkan bed rest (istirahat total di tempat tidur atau istirahat di rumah tergantung tingkat keparahan) untuk mengurangi metabolisme dan kebutuhan O2 ibu, sehingga lebih banyak oksigen tersedia untuk janin.
- Pantau Kesehatan Janin: Lakukan pemantauan secara rutin dengan memeriksa Detak Jantung Janin (DJF). Hitung Kick Count (pergerakan janin) oleh ibu sebagai indikator kesejahteraan janin.
- Evaluasi Tanda-tanda Distres Janin: Perhatikan berkurangnya gerakan janin atau adanya ketidakteraturan pola denyut jantung janin pada pemantauan (CTG). Laporkan segera bila ditemukan tanda gawat janin.
3. Intervensi untuk Kurang Pengetahuan
- Kesehatan Edukasi: Jelaskan tentang penyebab hipertensi dalam kehamilan gejala yang harus diwaspadai (sakit kepala berat, pandangan kabur, sakit perut bagian atas).
- Pantauan Mandiri: Ajarkan cara memantau tekanan darah mandiri di rumah bila memungkinkan. Edukasikan tentang pentingnya kepatuhan minum obat anti-hipertensi (bila diresepkan sebagai rawat jalan).
- Diet: Berikan edukasi makanan seimbang. Diet rendah garam (low sodium diet) mungkin dianjurkan, namun pembatasan garam yang ketat sebaiknya dihindari pada ibu hamil karena berisiko mengganggu volume darah. Tekankan pada konsumsi protein tinggi untuk mengatasi proteinuria.
- Jadwal Kontrol: Tekankan pentingnya kontrol antenatal setiap minggu atau sesuai anjuran dokter untuk pemantauan kondisi berkelanjutan.
4. Intervensi untuk Ansietas
- Therapeutic Communication: Gunakan komunikasi terapeutik yang efektif. Dengarkan keluhan dan ketakutan ibu dengan empati. Beri kesempatan pada keluarga untuk mengungkapkan perasaannya.
- Informasi yang Realistis: Berikan informasi yang jujur namun menenangkan mengenai proses persalinan, mungkin diperlukan induksi atau operasi sesar electif untuk menyelamatkan ibu dan janin.
- Dukungan Sosial: Libatkan suami atau keluarga terdekat dalam proses perawatan untuk memberikan dukungan psikologis.
Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk menilah keberhasilan tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Kriteria evaluasi yang diharapkan meliputi:
- Tekanan Darah Stabil: Tekanan darah terkontrol dalam batas aman (<140/90 mmHg atau target yang ditetapkan dokter), tanpa tanda-tanda kerusakan vaskular (kejang tidak terjadi).
- Vitalitas Janin Terjaga: Detak jantung janin dalam rentang normal (120-160 bpm), pergerakan janin aktif, dan tidak terdapat tanda-tanda gawat janin.
- Gejala Subjektif Berkurang: Laporan sakit kepala, penglihatan kabur, dan nyeri epigastrium mengalami penurunan atau hilang.
- Pengetahuan Meningkat: Ibu dapat menyebutkan kembali tanda bahaya hipertensi dalam kehamilan dan mengutarakan rencana tindakan jika gejola tersebut muncul. Ibu mematuhi jadwal konsumsi obat dan kontrol.
- Ansietas Teratasi: Ibu tampak lebih tenang, ekspresi wajah rileks, dan mampu menjalankan istirahat secara adekuat.
- Tanda-Tanda Komplikasi: Tidak terdapat tanda edema paru, tidak ada tanda solusio plasenta, dan fungsi ginjal serta hati dalam batas normal.
Kesimpulan
Asuhan keperawatan pada ibu hamil trimester III dengan gangguan hipertensi membutuhkan pendekatan yang cermat, ketat, dan profesional. Hipertensi pada fase kehamilan ini bukan hanya masalah peningkatan angka tekanan darah, tetapi merupakan kondisi yang mengancam keselamatan nyawa ibu dan janin (life-threatening condition). Peran perawat menjadi sangat sentral dalam deteksi dini, observasi ketat terhadap tanda keburukan (deteriorasi), serta pelaksanaan intervensi medis kolaboratif seperti pemberian MgSO4 dan anti-hipertensi.
Selain aspek fisik, pendampingan psikologis dan edukasi kepada ibu serta keluarga merupakan kunci keberhasilan untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan dan percepatan penanganan bila terjadi keadaan darurat. Melalui implementasi standar prosedur keperawatan yang benar, diharapkan angka morbiditas dan mortalitas akibat hipertensi dalam kehamilan dapatditekan, dan ibu dapat menjalani persalinan dengan aman serta melahirkan bayi yang sehat.
We use cookies to enhance your browsing experience and analyze site traffic. By clicking 'Accept all cookies', you agree to the use of these cookies. You can manage your preferences or learn more in our [Privacy Policy/Cookie Policy.