Congestive Heart Failure (CHF) atau Gagal Jantung Kongestif adalah kondisi ketika jantung tidak dapat memompa darah secara efektif untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Dokumen ini merangkum asuhan keperawatan yang diberikan kepada Ny. L, fokus pada pemantauan gejala, manajemen cairan, dan perbaikan perfusi jaringan.
1. Pengkajian (Assessment)
Data Subjektif (Ny. L)
- Klien mengeluh sesak napas (dispneu) saat beraktivitas maupun istirahat.
- Mengeluh lemas dan cepat lelah (fatigue).
- Merasa berat atau nyeri pada daerah dada kadang-kadang.
- Mengeluh kaki terasa bengkak dan berat.
- Sering terbangun malam hari karena sesak (paroksismal nokturnal).
- Riwayat hipertensi sudah lama diderita.
Data Objektif (Pemeriksaan Fisik)
- Tanda Vital: TD: 160/90 mmHg, N: 96 x/menit (tachycardia), RR: 28 x/menit (tachypnea), S: 36,8C.
- Pemeriksaan Jantung: Terdapatkan bunyi jantung S3 gallop ritme.
- Pemeriksaan Paru: Terdapat bunyi ronkhi basah pada kedua lapang paru bawah.
- Ekstremitas: Edema pitting (+2) pada tungkai.
- JVP (Jugular Vein Distention): Cukup menonjol saat posisi berbaring (45 derajat).
- BB: Terjadi kenaikan berat badan mendadak (retensi cairan).
- Diagnostik: EKG menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri; Foto thorax menggambarkan kardiomegali.
2. Analisa Data
Problem: Dispneu, Ronkhi, S3 Gallop, Edema, JVD.
Etiologi (Penyebab): Mekanisme pompa jantung menurun (gagal pompa) menyebabkan penumpukan darah di ventrikel kiri lanjut ke atrium kiri dan pembuluh paru, sehingga terjadi hipertensi vena pulmonalis. Ini menyebabkan transudasi cairan ke jaringan interstitial paru (edema paru) dan menyebabkan sesak. Gagal jantung kiri yang berat akan menyebabkan gagal jantung kanan, yang menandai kongestif sistemik (edema ekstremitas, asites, JVD).
Tanda & Gejala: Sesak nafas, nafas cepat, nadi cepat, bising jantung abnormal, bising napas tambahan, edema.
3. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data tersebut, prioritas diagnosa keperawatan pada Ny. L adalah:
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer 2. Intoleransi aktivitas 3. Kelebihan volume cairan
4. Rencana dan Implementasi Intervensi
I. Diagnosa: Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b/d penurunan curah jantung.
| Tujuan | Intervensi | Rasional |
|---|---|---|
| Kriteria Hasil: - TTV stabil (TD, N, RR, S normal). - Tidak ada pusing/kabur penglihatan. - Gas darah normal. - Kulit hangat dan kering. | 1. Kolaborasi pemberian oksigen. 2. Monitor tanda vital (TD, N, RR, S) secara berkala. 3. Monitor suara jantung (S1, S2, dan adanya murmur atau gallop S3). 4. Monitor edema perifer dan pitting. 5. Observasi adanya perubahan status mental (pingsan, kebingungan). | 1: Meningkatkan saturasi oksigen darah dan mengurangi beban kerja jantung. 2: Mengetahui kemajuan atau kemunduran hemodinamik klien. 3: Gallop S3 menunjukkan gagal ventrikel. 4: Edema adalah tanda gagal jantung kanan dan retensi cairan. 5: Penurunan curah jantung menyebabkan penurunan serebral perfusi. |
II. Diagnosa: Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan suplai oksigen dan kebutuhan metabolik.
| Tujuan | Intervensi | Rasional |
|---|---|---|
| Kriteria Hasil: - Klien dapat melakukan aktivitas bertahap tanpa dispneu berat atau kelelahan extrim. - Denyut nadi dan tekanan darah tetap stabil saat aktivitas. - Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas. | 1. Kaji respons klien terhadap aktivitas (frekuensi jantung dan dyspnea). 2. Berikan istirahat di tempat tidur, disarankan posisi High Fowler. 3. Bantu aktivitas perawatan diri (ADL) sampai klien mampu mandiri. 4. Latih nafas dalam. 5. Kolaborasi pemberian obat jantung dan diuretik. | 1: Data dasar untuk memberikan batasan aktivitas. 2: Mengurangi beban kerja jantung dan meningkatkan ekspansi paru. 3: Menjamin kebutuhan dasar terpenuhi tanpa melelahkan klien. 4: Meningkatkan oksigenasi dan relaksasi. 5: Mengurangi beban preload/afterload jantung sehingga toleransi aktivitas meningkat. |
III. Diagnosa: Kelebihan volume cairan b/d retensi natrium dan air.
| Tujuan | Intervensi | Rasional |
|---|---|---|
| Kriteria Hasil: - Edema berkurang atau hilang. - Berat badan stabil atau turun. - Nafsu makan meningkat (tidak mual, tidak distensi abdomen). - Nafas kembali normal (tidak ada ronkhi). | 1. Monitor pemasukan dan pengeluaran cairan (I/O cairan) secara ketat. 2. Kaji edema (distensi jugularis, pitting edema, asites). 3. Timbang berat badan setiap hari dengan waktu yang sama. 4. Berikan diet rendah natrium (garam). 5. Kolaborasi pemberian obat diuretik (misal: Furosemide). 6. Beritahu klien untuk menghindari konsumsi air berlebih. | 1: Mengetahui keseimbangan cairan yang digunakan tubuh. 2: Indikator penumpukan cairan. 3: Kenaikan BB tiba-tiba menandakan retensi cairan yang signifikan. 4: Natrium menahan air, sehingga harus dibatasi pada pasien CHF. 5: Diuretik membantu ekskresi cairan berlebih melalui urin. 6: Mencegah beban volume berlebih pada sirkulasi. |
5. Evaluasi
Evaluasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam:
- Aspek Fisik: Sesak nafas (dispneu) berkurang, frekuensi napas dalam batas normal (16-20 x/menit). Bunyi napas ronkhi berkurang.
- Perfusi: Tekanan darah menurun menjadi 140/80 mmHg, Nadi 86 x/menit. Akral hangat.
- Volume Cairan: Edema pitting pada tungkai berkurang menjadi +1. Output urine lebih meningkat dari input cairan. Berat badan turun 0,5-1 kg.
- Aspek Psikologis: Ekspresi wajah klien tampak lebih tenang dan tidak gelisah.
- Aspek Pengetahuan: Klien dapat mengulang kembali tentang pentingnya makanan rendah garam dan pembatasan cairan.
