Admin 06 Jun 2026 22:00

 

ASUHAN KEPERAWATAN

Pada Tn. B dengan HIV Stadium IV, Wasting Syndrome dan Infeksi Oportunisitik

Identitas Pasien

Nama
Tn. B
Umur
42 Tahun
Jenis Kelamin
Laki-laki
Diagnosis Medis
HIV Stadium IV, Wasting Syndrome, TB Paru
Ruang Rawat
Mawar / Isolasi

1. Pengkajian

Pengkajian dilakukan untuk mendapatkan data dasar mengenai kondisi pasien secara holistik. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik.

A. Anamnesis (Subjektif)

Keluhan Utama: Pasien mengeluh lemas secara keseluruhan, berat badan turun drastis dalam 3 bulan terakhir, serta batuk produktif disertai sesak nafas ringan.

Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien didiagnosis HIV positif sejak 5 tahun lalu. Terapi ARV tidak teratur karena keterbatasan akses dan efek samping yang dirasakan. Sejak 2 bulan lalu, nafsu makan menurun tajam. Pasien sering mengalami demam malam dan berkeringat di malam hari (night sweat). Terdapat riwayat kontak dengan penderita TB.

Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien menyangkal memiliki penyakit kronis lain seperti diabetes atau hipertensi sebelum terinfeksi HIV.

B. Pemeriksaan Fisik (Objektif)

1. Tanda Vital

Parameter Hasil Keterangan
Kesadaran Compos Mentis Sadar penuh
Tekanan Darah 90/60 mmHg Hipotensi
Nadi 102 x/menit Takikardia
Suhu 38,2C Demam
Pernafasan 24 x/menit Takipnea

2. Pemeriksaan Fisik Regional

  • Keadaan Umum: Tampak lemah, penurunan berat badan yang signifikan (wasting syndrome), bising usus (+), ekstremitas atrofi tonus menurun.
  • Sistem Pernafasan: Tidak menggunakan ases tambahan. Batuk ada sputum. Inspeksi: retraksi dinding dada saat napas. Auskultasi: suara nafas vesikuler menurun di bagian bawah, terdapat ronkhi di lapang paru kanan atas.
  • Sistem Pencernaan: Mulut kering (sariawan), turgor kulit menurun (dehidrasi ringan). Perut datar, palpasi nyeri tekan hipogastrium.
  • Integumen: Turgor kulit jelek (elastisitas menurun), keringat dingin. Terdapat lesi Herpes Zoster di region dermatom serviks kanan.

3. Pemeriksaan Penunjang

  • CD4: 50 sel/L (Rendah)
  • Hemoglobin: 9,5 g/dL (Anemia)
  • Rontgen Thorax: Infiltrat di lobus atas kanan (konsisten dengan TB Paru).

2. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan data pengkajian di atas, berikut adalah prioritas diagnosa keperawatan yang muncul pada Tn. B:

  1. Imbalance Nutrition: less than body requirements berhubungan dengan peningkatan metabolisme (infeksi), anoreksia, malabsorpsi.
  2. Risk for Infection berhubungan dengan penurunan sistem imun (penurunan CD4), infiltrasi bakteri/virus.
  3. Activity Intolerance berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan O2 suplai (sesak), anemia.
  4. Acute Pain berhubungan dengan lesi herpes zoster dan inflamasi paru.

3. Rencana Intervensi Keperawatan

Tujuan utama adalah meningkatkan status nutrisi, mencegah penyebaran infeksi, serta meningkatkan kenyamanan dan toleransi aktivitas pasien.

Diagnosa 1: Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh

  • Kaji tipe diet yang disukai pasien dan toleransi makanan. R: Identifikasi preferensi dan masalah potensial (mual, muntah).
  • Anjurkan pasien makan porsi kecil namun sering (small frequent feeding) sekitar 5-6 kali sehari. R: Mengurangi beban pencernaan dan menjaga asupan kalori stabil.
  • Sediakan makanan yang kaya protein dan kalori (telur, susu, kacang-kacangan). R: Protein diperlukan untuk memperbaiki jaringan yang rusak dan meningkatkan sistem imun.
  • Pantau tanda vital dan berat badan setiap hari (jika memungkinkan). R: Evaluasi efektivitas intervensi nutrisi dan status hidrasi.
  • Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menu diet tinggi kalori. R: Penentuan kebutuhan kalori akurat berdasarkan stadium penyakit.

Diagnosa 2: Risiko Infeksi

  • Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien. R: Mencegah cross-contamination dari perawat ke pasien atau sebaliknya.
  • Gunakan APD (masker, sarung tangan) sesuai protokol isolasi TB. R: Mengurangi risiko droplet infection.
  • Berikan edukasi kepada pengunjung tentang pentingnya etika batuk dan mencuci tangan. R: Pencegahan penyebaran infeksi di lingkungan rumah sakit.
  • Edukasi pasien untuk tidak bersin/batuk tanpa menutup mulut. R: Melawan penyebaran organisme ke lingkungan.
  • Pantau suhu tubuh secara berkala (3x sehari). R: Deteksi dini tanda-tanda peradangan atau infeksi baru.

Diagnosa 3: Intoleransi Aktivitas

  • Beri istirahat total selama fase akut (demam tinggi). R: Mengurangi konsumsi metabolik dan oksigen.
  • Bantu pasien dalam aktivitas sehari-hari (ADL) seperti mandi dan buang air kecil jika lemas. R: Mencegah kelelahan total dan jatuh.
  • Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi. R: Melatih kembali penyimpanan energi dan fungsi otot.
  • Posisikan pasien dengan Fowler (semi duduk) saat sesak. R: Memfasilitasi ekspansi paru untuk oksigenasi optimal.

Diagnosa 4: Nyeri Akut (Herpes Zoster)

  • Berikan analgesik sesuai program terapi (parasetamol atau NSAIDs). R: Mengurangi nyeri nyeri akut.
  • Hindari iritasi pada area lesi (jangan digaruk). R: Mencegah infeksi sekunder pada vesikel.
  • Kolaborasi obat topikal tifolycerine atau salep antiviral pada lesi herpes. R: Mempercepat penyembuhan dan mengurangi rasa gatal/nyeri.

4. Implementasi

Dokumentasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada Tn. B:

  • Minggu 1 Fase Akut: Pasien diminta bed rest total. Infus RL 20 tpm per hari terpasang untuk koreksi hidrasi. Terapi Arv (Lamivudine, Tenofovir, Efavirenz) dan OAT (Isoniazid, Rifampicin, Pyrazinamide, Ethambutol) diberikan setiap pagi dengan supervisi langsung pasien meminum obat.
  • Minggu 2: Status nutrisi dipantau. Pasien diberikan susu formula tinggi kalori 2x sehari sebagai tambahan. Mengajarkan teknik batuk efektif tanpa menahan nyeri.
  • Minggu 3: Skala nyeri menurun menjadi 3/10 (dari 7/10 sebelumnya) akibat penanganan lesi herpes dan reduksi demam.

5. Evaluasi

Evaluasi dilakukan setelah 3 hari asuhan keperawatan dan evaluasi lanjutan per minggu.

A. Hasil yang Diharapkan

  • Berat badan tetap atau bertambah (tidak turun).
  • Tanda vital dalam batas normal (Suhu 36-37C).
  • Pasien mampu melakukan ADL dengan bantuan minimal.
  • Luka herpes mulai mengering dalam 7 hari.

B. Catatan Lanjutan

Pada evaluasi akhir, Tn. B menunjukkan nafsu makan yang mulai membaik. Suhu tubuh mencapai 37,1C. Batuk masih ada namun frekuensi berkurang. Edukasi mengenai kepatuhan minum obat (ARV & OAT) sangat ditekankan karena keterlambatan konsumsi sangat mempengaruhi resistensi obat.

Dokumen ini dibuat untuk keperluan studi kasus akademik. Informasi medis spesifik harus selalu dikonsultasikan dengan dokter penanggung jawab pasien.

```

File Referensi Untuk ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. B DENGAN HIV STADIUM IV, WASTING SYNDROME DAN INFEKSI OPORTUNISTIK
Screenshoot
Nama File
ta_d3_keperawatan_salwa_agri_nursyamsiah_102018013_tittle.pdf

Ukuran File
1.04 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. B DENGAN HIV STADIUM IV, WASTING SYNDROME DAN INFEKSI OPORTUNISTIK. Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. B DENGAN HIV STADIUM IV, WASTING SYNDROME DAN INFEKSI OPORTUNI...


admin
Admin
2026-06-06 22:00:24

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. D DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN: ISPA (INFEKSI SALURAN PER...


admin
Admin
2026-06-06 08:10:16

Asuhan Keperawatan Pada Ibu Primigravida Dengan Masalah Keperawatan Defisit Pengetahuan Te...


admin
Admin
2026-06-08 18:52:15

Asuhan Keperawatan Pada ODHA (orang Dengan HIV/AIDS) dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-07 07:50:16

Konsep Dasar Dan Asuhan Keperawatan Dengan HIV/AIDS dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-05-23 14:45:07