ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.S DENGAN LUKA BAKAR SENGATAN LISTRIK DI RUANG RAWAT INAP RSUD CIBABAT CIMAHI
Satu Kasus Asuhan Keperawatan Lengkap pada Pasien Luka Bakar
Abstrak: Luka bakar sengatan listrik merupakan salah satu jenis luka bakar yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan dengan luka bakar termal atau kimia. Sengatan listrik dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang dalam serta komplikasi sistemik yang serius. Makalah ini akan membahas asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien TN.S dengan luka bakar sengatan listrik di Ruang Rawat Inap RSUD Cibabat Cimahi. Asuhan keperawatan dilakukan dengan pendekatan proses keperawatan yang mencakup pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
PENDAHULUAN
Luka bakar sengatan listrik merupakan luka bakar yang disebabkan oleh kontak langsung dengan sumber listrik. Menurut data dari Departemen Kesehatan Indonesia, kejadian luka bakar akibat sengatan listrik meningkat seiring dengan perkembangan industri dan penggunaan peralatan listrik yang semakin luas. Sekitar 3-5% dari semua kasus luka bakar yang masuk ke rumah sakit merupakan luka bakar sengatan listrik.
Sengatan listrik dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih berat daripada yang tampak secara visual. Arus listrik dapat mengikuti jalur melalui jaringan dengan resistensi terkecil seperti pembuluh darah, saraf, dan otot, menyebabkan kerusakan internal yang luas meskipun luka eksternal tampak minimal. Pasien dengan luka bakar listrik berisiko mengalami berbagai komplikasi termasuk aritmia jantung, kerusakan otot (rabdomiolisis), gagal ginjal akut, dan kerusakan neurologis.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat Cimahi merupakan salah satu rumah sakit rujukan di wilayah Cimahi dan sekitarnya yang menangani kasus-kasus luka bakar termasuk luka bakar sengatan listrik. Asuhan keperawatan yang komprehensif sangat penting untuk mempercepat proses penyembuhan, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien pasca cidera.
TINJAUAN TEORITIS
Definisi Luka Bakar Sengatan Listrik
Luka bakar sengatan listrik adalah kerusakan jaringan yang disebabkan oleh kontak langsung dengan arus listrik, baik pada tegangan rendah maupun tinggi. Menurut Smeltzer dan Bare (2014), luka bakar listrik diklasifikasikan menjadi tiga kategori berdasarkan mekanisme terjadinya: kontak langsung, flash, dan ark (busur listrik).
Patofisiologi Luka Bakar Listrik
Kerusakan jaringan pada luka bakar listrik terjadi melalui beberapa mekanisme:
- Efek termal: Panas yang dihasilkan oleh arus listrik saat melewati jaringan dapat menyebabkan koagulasi protein dan nekrosis jaringan.
- Elektrolisis: Perubahan kimiawi pada jaringan karena arus searah yang dapat menghancurkan sel-sel jaringan.
- Kontraksi otot: Arus listrik dapat menyebabkan kontraksi otot yang kuat yang dapat mengakibatkan fraktur atau dislokasi sendi.
- Arus jantung: Arus listrik yang melewati jantung dapat mengganggu sistem konduksi jantung dan menyebabkan fibrilasi ventrikel.
Klasifikasi Luka Bakar Listrik
Berdasarkan tegangan listrik, luka bakar listrik dibagi menjadi:
- Luka bakar tegangan rendah: Kontak dengan arus listrik kurang dari 1000 volt, biasanya terjadi di rumah tangga.
- Luka bakar tegangan tinggi: Kontak dengan arus listrik lebih dari 1000 volt, biasanya terjadi pada lingkungan industri atau jaringan distribusi listrik.
Komplikasi Luka Bakar Listrik
Berbagai komplikasi yang mungkin terjadi pada pasien luka bakar listrik antara lain:
- Gangguan jantung (aritmia, henti jantung)
- Damage neurologis (neuropati perifer, kerusakan otak)
- Damage otot dan jaringan lunak yang menyebabkan sindrom kompartemen
- Gagal ginjal akut akibat rabdomiolisis
- Infeksi luka bakar
- Deformitas dan kontraktur
- Gangguan psikologis (gangguan stres pascatrauma, depresi)
LAPORAN KASUS
Identitas Klien
| Nama | Tn.S |
| Umur | 32 tahun |
| Jenis Kelamin | Laki-laki |
| Agama | Islam |
| Pendidikan | SMA |
| Pekerjaan | Teknisi Listrik |
| Status Perkawinan | Menikah |
| Tanggal Masuk | 15 Oktober 2023 |
| No. RM | 12-45-67 |
Riwayat Kesehatan
Riwayat Penyakit Sekarang: Klien masuk ke IGD RSUD Cibabat Cimahi dengan keluhan nyeri pada tangan kanan dan lengan kanan akibat sengatan listrik saat bekerja. Menurut klien, kejadian berlangsung sekitar 2 jam sebelum masuk rumah sakit saat ia sedang memperbaiki instalasi listrik di gedung bertingkat. Tegangan listrik tidak diketahui secara pasti namun diperkirakan sekitar 220-380 volt. Klien mengalami kesadaran menurun sebentar setelah kejadian namun kemudian sadar kembali. Di tempat kejadian, rekan kerja memberikan pertolongan pertama dengan mematikan sumber listrik dan membawa klien ke rumah sakit.
Riwayat Penyakit Dahulu: Klien mengaku tidak memiliki riwayat penyakit kronis sebelumnya seperti hipertensi, diabetes melitus, atau penyakit jantung. Klien belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya dan tidak memiliki alergi terhadap obat-obatan maupun makanan.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum: Klien tampak lemas, kesadaran composmentis, tanda-tanda vital stabil: TD 120/80 mmHg, N 88x/menit, R 20x/menit, S 36.5C.
Pemeriksaan Fisik Regional:
- Kepala: Bentuk normocephaly, rambut distribusi baik, sclera ikterik negatif, conjunctiva anemis negatif.
- Mata: Palpebra simetris, pupil isokor, refleks cahaya langsung dan tidak langsung baik.
- Telinga: Telinga kiri dan kanan simetris, tidak tampak sekret.
- Hidung: Tidak ada deviasi septum, tidak ada sekret.
- Mulut: Mukosa bibir lembab, tidak ada aphthae.
- Leher: Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid atau kelenjar getah bening, trakea di tengah.
- Dada: Bentuk dada simetris, pernapasan cuping hidung negatif, penggunaan otot bantu pernapasan negatif. Suara napas vesikuler di kedua sisi lapangan paru, tidak ada ronkhi atau wheezing.
- Jantung: Batas jantung tidak membesar, I dan S teratur, nada jantung tambahan negatif, tidak ada murmur.
- Abdomen: Bentuk abdomen datar, auskultasi bising usus normal, palpasi lunak, nyeri tekan negatif, hepar dan limen tidak teraba membesar.
- Ekstremitas: Terdapat luka bakar derajat II-III di tangan kanan (telapak dan punggung tangan) dan lengan kanan sepanjang 20 cm dengan luas sekitar 6% Total Body Surface Area (TBSA). Tampak area nekrosis warna hitam di several area, terdapat edema, dan nyeri tekan. Gerak pasif dan aktif jari tangan kanan terbatas karena nyeri. Ekstremitas kiri dalam batas normal.
- Sistem Saraf: Fungsi sensori dan motorik terganggu pada tangan kanan, refleks fisiologis menurun.
Pemeriksaan Penunjang
- Elektrokardiogram (EKG):strong> Sinus ritme, frekuensi 88x/menit, tidak ada perubahan segmen ST atau gelombang T.
- Laboratorium: Hb 14,2 g/dL, Leukosit 12.500/mm, Trombosit 250.000/mm, Ureum 28 mg/dL, Kreatinin 0,9 mg/dL, CK-MB normal, Troponin I negatif, Elektrolit dalam batas normal.
- Rontgen Ekstremitas kanan: Tidak tampak fraktur atau dislokasi.
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
Pengkajian dilakukan secara menyeluruh dengan fokus pada kondisi luka bakar dan kemungkinan komplikasi sistemik. Berdasarkan pengkajian yang dilakukan, ditemukan masalah utama berikut:
- Nyeri akut pada ekstremitas kanan akibat kerusakan jaringan.
- Risiko terjadinya infeksi pada luka bakar.
- Gangguan perfusi jaringan pada ekstremitas kanan akibat edema dan kerusakan pembuluh darah.
- Gangguan integritas kulit.
- Kurang pengetahuan mengenai perawatan luka bakar dan rehabilitasi.
Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan hasil pengkajian, diagnosa keperawatan yang didapatkan antara lain:
- Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit dan saraf akibat sengatan listrik.
- Risiko infeksi berhubungan dengan terputusnya integritas kulit (luka bakar).
- Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kompresi vasokuler dan edema.
- Gangguan integritas jaringan kulit berhubungan dengan luka bakar akibat sengatan listrik.
- Defisit pengetahuan mengenai perawatan luka dan rehabilitasi berhubungan dengan kurangnya informasi.
Intervensi dan Implementasi
1. Diagnosa: Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit dan saraf akibat sengatan listrik
Tujuan: Nyeri berkurang/terkontrol, klien menyatakan skala nyeri 0-3, ekspresi wajah tenang, tidur terganggu minimal.
Intervensi:
- Lakukan pengkajian nyeri secara berkala (setiap 2-4 jam) menggunakan skala nyeri 0-10.
- Berikan analgetik sesuai order dokter (Paracetamol 500 mg/8 jam atau Tramadol 50 mg/8 jam jika nyeri berat).
- Lakukan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri: distraksi, teknik relaksasi pernapasan, dan positioning yang nyaman.
- Berikan pemahaman pada klien bahwa nyeri yang dialami adalah wajar setelah kejadian sengatan listrik.
- Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik untuk mengurangi stimulus nyeri.
- Elevasi ekstremitas yang terluka untuk mengurangi edema dan nyeri.
- Kolaborasi pemberian terapi fisik ringan setelah fase akut untuk meningkatkan sirkulasi dan mengurangi nyeri kronis.
2. Diagnosa: Risiko infeksi berhubungan dengan terputusnya integritas kulit (luka bakar)
Tujuan: Tidak ada tanda-tanda infeksi (klien afebris, leukosit normal, luka tampak bersih, tidak ada sekret purulen).
Intervensi:
- Lakukan pengkajian tanda-tanda infeksi secara rutin (suhu tubuh, karakteristik luka, leukosit).
- Terapkan teknik aseptik saat melakukan perawatan luka dan tindakan invasif.
- Ganti balutan luka sesuai protokol (setiap 1-2 hari atau jika basah/kotor).
- Berikan terapi antibiotik sesuai order dokter (Ceftriaxone 2 gram/24 hari).
- Edukasi klien dan keluarga pentingnya menjaga kebersihan luka dan area sekitarnya.
- Pertahankan nutrisi yang baik dengan diet tinggi protein untuk mempercepat penyembuhan luka.
- Kolaborasi dengan dokter jika terdapat tanda-tanda infeksi.
3. Diagnosa: Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kompresi vasokuler dan edema
Tujuan: Perfusi jaringan adekuat, tidak ada tanda iskemia (warna kulit normal, kapiler refill < 2 detik, sensasi tetap baik).
Intervensi:
- Pantau tanda-tanda perfusi jaringan perifer secara berkala (warna, suhu, sensasi, dan gerakan).
- Elevasi ekstremitas kanan dengan posisi sedikit lebih tinggi dari jantung untuk mengurangi edema.
- Lakukan latihan gerak aktif dan pasif sesuai toleransi nyeri untuk meningkatkan sirkulasi.
- Hindari pemakaian pembalut yang terlalu ketat yang dapat mengganggu perfusi.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi vasodilator jika diperlukan.
- Pantau status cairan dan elektrolit klien secara teratur.
4. Diagnosa: Gangguan integritas jaringan kulit berhubungan dengan luka bakar akibat sengatan listrik
Tujuan: Luka menunjukkan tanda penyembuhan (granulasi baik, epitelisasi, mengecilnya luas luka).
Intervensi:
- Lakukan pengkajian karakteristik luka secara rutin (luas, kedalaman, tanda penyembuhan).
- Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik menggunakan larutan NaCl 0.9% atau povidone iodine.
- Terapkan pengobatan modern (Modern Dressing) sesuai kondisi luka (hidrokolloid, foam dressing, atau silver dressing).
- Edukasi klien mengenai pentingnya nutrisi yang baik untuk penyembuhan luka (diet tinggi protein dan vitamin C).
- Kolaborasi dengan dokter ahli bedah plastik jika diperlukan untuk debridemen atau grafting kulit.
- Lakukan pemantauan terhadap pembentukan jaringan parut.
5. Diagnosa: Defisit pengetahuan mengenai perawatan luka dan rehabilitasi berhubungan dengan kurangnya informasi
Tujuan: Klien dan keluarga memahami proses penyembuhan luka, perawatan yang diperlukan, dan rehabilitasi yang akan dijalani.
Intervensi:
- Assess tingkat pengetahuan klien mengenai luka bakar dan perawatannya.
- Berikan edukasi tentang proses penyembuhan luka bakar, faktor yang mempengaruhi, dan tanda-tanda komplikasi.
- Demonstrasikan cara melakukan perawatan luka di rumah jika diperlukan setelah pulang.
- Edukasi tentang pentingnya latihan fisik untuk mencegah kontraktur dan memulihkan fungsi ekstremitas.
- Berikan informasi tentang follow-up kunjungan dan kapan harus segera kembali ke fasilitas kesehatan.
- Berikan brosur atau leaflet informasi mengenai perawatan luka bakar.
- Identifikasi sumber-sumber dukungan untuk klien dalam proses rehabilitasi (kelompok dukungan, layanan sosial).
Evaluasi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 7 hari perawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Cibabat Cimahi, dilakukan evaluasi sebagai berikut:
Diagnosa 1 (Nyeri akut): Skala nyeri berkurang dari 7-8 saat masuk menjadi 2-3. Klien dapat tidur lebih nyenyak dan ekspresi wajah lebih tenang. Analgetik yang diberikan efektif mengurangi nyeri.
Diagnosa 2 (Risiko infeksi): Klien tetap afebris (36.5-37.0C), leukosit 10.200/mm. Luka menunjukkan tanda granulasi yang baik, tidak ada sekret purulen. Terapi antibiotik tetap dilanjutkan sesuai rencana.
Diagnosa 3 (Gangguan perfusi jaringan): Warna kulit ekstremitas kanan lebih baik (pink), kapiler refill <2 detik, edema berkurang signifikan. Sensasi dan gerakan jari-jari tangan kanan mulai membaik.
Diagnosa 4 (Gangguan integritas jaringan): Luka menunjukkan tanda proses penyembuhan dengan baik, terjadi granulasi dan epitelisasi sekitar 30-40% dari luas luka. Beberapa area nekrosis yang cukup luas memerlukan pertimbangan untuk prosedur debridemen lebih lanjut.
Diagnosa 5 (Defisit pengetahuan): Klien mampu mengulang kembali informasi yang diberikan mengenai perawatan luka dan rehabilitasi. Klien memahami pentingnya kontrol berkala dan latihan fisik untuk memulihkan fungsi ekstremitas.
KESIMPULAN
Luka bakar sengatan listrik merupakan kondisi medis yang serius dengan berbagai komplikasi potensial yang memerlukan penanganan komprehensif. Asuhan keperawatan yang diberikan pada Tn.S di RSUD Cibabat Cimahi mencakup pengkajian menyeluruh, formulasi diagnosa keperawatan akurat, perencanaan intervensi yang tepat sasaran, implementasi yang konsisten, dan evaluasi berkala.
Implementasi asuhan keperawatan yang terstruktur berdasarkan proses keperawatan telah terbukti efektif dalam mempercepat proses penyembuhan luka, mengontrol nyeri, mencegah infeksi, menjaga perfusi jaringan, serta meningkatkan pemahaman pasien mengenai kondisinya. Pendekatan holistik yang memperhatikan aspek fisik, psikologis, dan edukatif sangat penting dalam memberikan perawatan optimal bagi pasien luka bakar sengatan listrik.
Perawat memegang peranan penting dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas, mengedukasi pasien dan keluarga, serta memfasilitasi proses rehabilitasi yang optimal. Kerja sama multidisiplin dengan dokter, ahli gizi, fisioterapis, dan tim lainnya juga merupakan faktor kunci keberhasilan penanganan pasien luka bakar.
Kasus Tn.S dengan luka bakar sengatan listrik menggambarkan pentingnya asuhan keperawatan yang komprehensif dalam menghadapi kondisi medis yang kompleks. Dokumentasi yang baik dan komunikasi yang efektif antara tim perawat juga memainkan peranan penting dalam keberlanjutan asuhan keperawatan yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
- Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2014). Brunner & Suddarth's Textbook of Medical-Surgical Nursing (13th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
- Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Geissler-Murr, A. C. (2016). Nursing Care Plans: Diagnoses, Interventions, and Outcomes (9th ed.). St. Louis: Elsevier.
- Potter, P. A., & Perry, A. G. (2017). Fundamentals of Nursing (9th ed.). St. Louis: Elsevier.
- Carrougher, G. J. (2017). Burn Care and Therapy (3rd ed.). New York: Springer Publishing Company.
- Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan Luka Bakar. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
- Nanda International. (2018). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2018-2020 (11th ed.). Oxford: Wiley-Blackwell.