Pengantar Asuhan Persalinan Normal (APN)
Asuhan Persalinan Normal (APN) adalah pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan pendekatan Holistik, yaitu memperhatikan aspek bio-psycho-sosio-spiritual bagi ibu dan bayi. Persalinan normal didefinisikan sebagai proses pengeluaran janin yang terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan pervaginam dengan kepala di bawah, dalam waktu kurang dari 24 jam, tanpa komplikasi yang membahayakan ibu maupun bayi.
Tujuan utama APN adalah mencapai persalinan yang bersih dan aman untuk meminimalkan infeksi, meminimalkan trauma (baik fisik maupun psikologis), serta memaksimalkan kenyamanan ibu selama proses persalinan berlangsung.
Kala I: Fase Pembukaan
Kala I adalah fase dari kontraksi teratur hingga pembukaan serviks lengkap (10 cm). Fase ini dibagi menjadi.latent, aktif, dan transisi.
Apa yang Diamati (Pemantauan)
- Kondisi Umum Ibu: Tanda-tanda vital (Tekanan Darah, Nadi, Suhu, Respirasi) setiap sekali setiap jam pada fase laten, dan 30 menit sekali pada fase aktif.
- DJJ (Detak Jantung Janin): Dipantau setiap 30 menit pada fase laten, dan 15 menit sekali pada fase aktif/transisi.
- Kontraksi Uterus: Frekuensi, durasi, dan kekuatan kontraksi. Dilakukan pemeriksaan dengan palpasi Leopold.
- Pembukaan Serviks: Dilakukan pemeriksaan dalam (vaginal touch) sesuai indikasi untuk menilai kemajuan persalinan.
- Kontraksi Uterus: Menguat sering dan lama seiring berjalannya fase.
Apa yang Dilakukan (Tindakan)
- Pendampingan Emosional: Berikan dukungan psikologis, kata-kata penyemangat, dan ciptakan lingkungan yang tenang.
- Motivasi Mobilitas: Dorong ibu untuk berjalan, mengubah posisi (miring, jongkok, duduk) untuk memperlancar turunnya presentasi janin dan mengurangi rasa nyeri.
- Pemberian Cairan: Anjurkan ibu minum air yang cukup (oralit atau jus) untuk mencegah dehidrasi.
- Manajemen Nyeri: Teknik napas dalam (inspirasi panjang, ekspirasi perlahan), pijat punggung (lower back massage), dan relaksasi otot.
- Pemecahan Ketuban: Hanya lakukan amniotomi jika ada indikasi medis yang kuat.
Kala II: Fase Pengeluaran Janin
Kala II dimulai saat pembukaan serviks lengkap (10 cm) dan berakhir saat bayi lahir lengkap.
Prinsip Utama Kala II
Menunggu dengan Sabar
Biarkan kepala janin melakukan putaran paksi internal secara spontan. Jangan memaksa episiotomi kecuali ada bahaya (distosia bahu, varises, atau tanda-tanda janin mengalami gawat janin).
Peralihan Nafas
Bimbing ibu menggunakan teknik "Hirup Nafas Panjang dan Dorong" saat kepala tampak diintroitus. Mintakan ibu untuk menahan dorongan (panting) saat kepala mahkota menonjol untuk mencegah robekan (LKS).
Asuhan Selama Kala II
Pemantauan DJJ
Dilakukan setiap 5 menit sekali atau setelah tiap kontraksi untuk memastikan kesejahteraan janin saat mengejan.
Posisi Ibu
Berikan kebebasan pada ibu untuk memilih posisi yang paling nyaman. Posisi litotomi (telentang) bukan satu-satunya pilihan. Posisi duduk, jongkok, atau miring kiri disarankan karena memanfaatkan gravitasi.
Perineal Care
Lakuan kompres hangat pada perineum untuk membantu relaksasi jaringan dan mengurangi nyeri. Lakukan proteksi perineum (teknik Ritgen atau tangan penahan) saat kepala mahkota menonjol.
Penanganan Bayi Baru Lahir
- Letakkan bayi di dada ibu (skin to skin) segera setelah lahir untuk menjaga suhu tubuh dan memfasilitasi bonding.
- Jangan memegang tali pusat dengan tangan kotor.
- Bersihkan jalan napas bayi dengan lembut jika perlu.
- Lakukan penilaian APGAR skor pada menit pertama dan menit kelima.
- Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dilakukan dalam waktu 30 menit - 1 jam pertama kelahiran.
Kala III: Fase Lahirnya Plasenta
Fase ini berlangsung dari kelahiran bayi hingga kelahiran plasenta. Kala III adalah masa kritis untuk mencegah perdarahan postpartum.
Tabel: Manajemen Aktif Kala III
Pemerintah Indonesia dan WHO merekomendasikan Manajemen Aktif Kala III (MAKK) untuk mengurangi risiko perdarahan pasca salin.
| Langkah | Tindakan |
|---|---|
| 1. Injeksi Oksitosin | Memberikan 10 Unit Oksitosin Intramuskuler (IM) segera setelah bahu anterior lahir (atau sesaat setelah bayi lahir). |
| 2. Penegangan Tali Pusat Terkontrol | Menahan tali pusat dengan satu tangan dan melakukan tarikan perlahan ke arah bawah saat uterus berkontraksi, dan tangan satu lagi (kiri) melakukan masase fundus uteri untuk membantu desenden plasenta. |
| 3. Pengecekan Plasenta | Periksa apakah plasenta dan selaput janin lahir lengkap. Periksa apakah ada bagian kepingan yang tertinggal. |
Tanda Plasenta Lahir
- Tali pusat memanjang keluar.
- Uterus mengeras dan sedikit naik ke atas (upward movement).
- Semburan darah mendadak (gush of blood).
Kala IV: Fase Observasi Awal
Kala IV adalah periode 2 jam pertama setelah plasenta lahir. Ini adalah masa pencegahan komplikasi lanjutan.
Tujuan Asuhan Kala IV
Memantau kondisi ibu secara ketat untuk mendeteksi dini tanda-tanda perdarahan postpartum, eklampsia, atau komplikasi lainnya, serta memastikan bayi tetap hangat dan memperoleh ASI.
Intervensi Utama:
- Pantau Tanda Vital: Tekanan darah, nadi, dan suhu setiap 15 menit untuk jam pertama, dan 30 menit untuk jam kedua.
- Palpasi Fundus Uteri: Pastikan uterus tetap keras (kontraksi baik). Jika uterus terasa lunak, lakukan masase fundus dan berikan oksitosin tambahan jika perlu.
- Pantau Perdarahan: Hitung jumlah darah yang keluar. Perdarahan >500 cc dikategorikan sebagai perdarahan postpartum.
- Pantau Kandung Kemih: Pastikan ibu berkemih (BAK) karena kandung kemih penuh dapat menghambat kontraksi uterus.
- Perbaikan Perineum: Lakukan jahitan luka episiotomi atau robekan jika ada, dengan teknik aseptik dan antisepsis yang ketat.
- Injeksi TT: Berikan tetanus toksoid (TT) jika status imunisasi ibu belum lengkap.
Penutup
Asuhan persalinan normal yang baik memerlukan kompetensi tenaga kesehatan serta kerjasama yang baik antara ibu, keluarga, dan tenaga medis. Pendekatan manusiawi dan berbasis hak pasien Patient Centered Care menjadi kunci utama keberhasilan persalinan.
