Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia, termasuk di wilayah Mojokerto dan sekitarnya. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini menyerang terutama paru-paru, namun dapat pula mengenai bagian tubuh lainnya. Salah satu pilar utama dalam penegakan diagnosis TB adalah pemeriksaan mikroskopis Basil Tahan Asam (BTA) pada sampel dahak/sputum pasien. Di RSI Sakinah Mojokerto, pemeriksaan ini berperan vital dalam kontrol dan penanggulangan penyakit TB.
Apa itu Basil Tahan Asam (BTA)?
Basil Tahan Asam (BTA) menyebut pada bakteri yang memiliki dinding sel yang unik, mengandung asam mikolat tinggi dan lipid kompleks. Ciri khusus ini membuat bakteri tersebut resisten terhadap pewarnaan biasa oleh asam dan alkohol (atau asam alkohol). Sifat "tahan asam" inilah yang dimanfaatkan dalam teknik pewarnaan Ziehl-Neelsen (ZN) untuk mengidentifikasi keberadaan kuman TB di bawah mikroskop.
Pada dasarnya, ketika sampel sputum diwarnai dengan pewarna merah (karbol fuchsin) dan kemudian didekolorisasi dengan asam alkohol, bakteri TB akan tetap mempertahankan warna merahnya, sementara sel-sel bakteri atau sel lain di sekitarnya akan berwarna biru setelah diwarnai dengan metilen biru. Di bawah mikroskop, BTA tampak seperti batang tipis, melengkung, agak kemerahan, dan berkilau.
Sensitivitas
Pemeriksaan BTA memiliki sensitivitas 5.000 - 10.000 kuman/ml, artinya butuh jumlah kuman tertentu agar terdeteksi.
Kecepatan
Hasil dapat diketahui relatif cepat (dalam hitungan jam dibandingkan budidaya kuman yang berminggu-minggu).
Aksesibilitas
Metode ini murah dan mudah dilakukan di fasilitas kesehatan dasar hingga rumah sakit seperti RSI Sakinah.
Prosedur Pemeriksaan di RSI Sakinah Mojokerto
Pemeriksaan TB di RSI Sakinah Mojokerto mengikuti standar operasional prosedur (SOP) nasional yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Proses ini dimulai dari tahap pengambilan sampel hingga pelaporan hasil.
1. Pengambilan Sampel Sputum
Untuk memastikan akurasi diagnosis, pasien biasanya diminta untuk memberikan sampel dahak dengan kriteria yang ketat. RSI Sakinah menerapkan kebijakan 2 sampel (spot dan pagi) atau sesuai protokol terbaru yang berlaku:
- Sampel Pertama (Sesaat/Spot): Diambil saat pasien pertama kali datang ke fasilitas kesehatan, dibimbing oleh petugas untuk memastikan dahak berasal dari paru-paru (bukan ludah ataulendir).
- Sampel Kedua (Pagi): Diambil di rumah pada pagi hari berikutnya, sebelum pasien makan atau minum. Dahak pagi biasanya mengandung konsentrasi kuman yang lebih tinggi karena kuman berkembang biak dan terakumulasi malam hari.
2. Pewarnaan dan Pemeriksaan
Di laboratorium mikrobiologi RSI Sakinah, petugas melakukan teknik pewarnaan Ziehl-Neelsen (ZN). Alurnya adalah sebagai berikut:
- Smear (olesan) dahak dibuat di atas kaca objek dan dibiarkan kering udara.
- Smear dipanaskan sambil ditetesi pewarna Karbol Fuchsin (heat fixation) agar warna merah meresap ke dinding sel bakteri yang tebal.
- Dilakukan dekolorisasi menggunakan asam alkohol (asam sulfat 3% atau 5% + alkohol 95%). Pada tahap ini, BTA tetap berwarna merah, sedangkan bakteri atau sel lain akan menjadi bening.
- Penanggapan kontras menggunakan pewarna Metilen Biru.
- Pemeriksaan di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000x (menggunakan minyak imersi).
Interpretasi Hasil Pemeriksaan BTA
hasil pemeriksaan dinyatakan dalam skala numerik (skala WHO) yang menunjukkan jumlah kuman yang ditemukan di setiap lapang pandang (LP). Hasil ini menentukan status positif atau negatif TB seorang pasien.
| Hasil | Jumlah Kuman (per 100 lapang pandang) | Keterangan |
|---|---|---|
| Tidak Ditemukan (Negatif) | 0 / 100 LP | Tidak ada kuman BTA yang terlihat. |
| Raguan (1 - 9) | 1 - 9 / 100 LP | Perlu pemeriksaan ulang sampel lanjutan. |
| +1 (Positif Ringan) | 10 - 99 / 100 LP | Terinfeksi, tingkat penularan rendah. |
| +2 (Positif Sedang) | 1 - 10 / 1 LP (rata-rata) | Terinfeksi, tingkat penularan sedang. |
| +3 (Positif Berat) | > 10 / 1 LP | Terinfeksi berat, sangat menular. |
Laboratorium RSI Sakinah Mojokerto memastikan bahwa pelaporan hasil ini dilakukan secara transparan dan akurat, serta dikomunikasikan langsung kepada dokter penanggung jawab pasien untuk segera memulai terapi obat anti-TB (OAT).
Pentingnya Deteksi Dini di RSI Sakinah
RSI Sakinah Mojokerto, sebagai salah satu rumah sakit rujukan di wilayah Mojokerto, memiliki tanggung jawab besar dalam memutus mata rantai penularan TB. Penularan TB terjadi melalui udara saat penderita TB aktif batuk dan mengeluarkan titik droplet yang mengandung kuman BTA.
1. Mengurangi Beban Penularan
Pasien dengan hasil BTA positif (+3) merupakan sumber penularan paling tinggi. Dengan diagnosis cepat melalui pemeriksaan BTA, pasien dapat segera diisolasi (secara medis atau di rumah) dan menjalani pengobatan. Setelah pasien minum obat rutin selama kurang lebih 2 minggu, tingkat penularannya akan drastis menurun karena jumlah kuman berkurang signifikan.
2. Kepatuhan Pengobatan (DOTS)
RSI Sakinah menerapkan strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course). Bukan hanya mendeteksi keberadaan kuman, hasil pemeriksaan mikroskopis sputum ini juga digunakan sebagai alat pemantauan keberhasilan terapi. Pemeriksaan BTA ulangan dilakukan setelah 2 bulan pengobatan atau pada akhir masa terapi untuk memastikan pasien dinyatakan sembuh (konversi menjadi BTA negatif).
3. Pemeriksaan Kualitas Laboratorium
Untuk menjaga akurasi diagnosis penderita tuberkulosis, laboratorium RSI Sakinah rutin melakukan pemeriksaan kualitas eksternal dan internal. Hal ini meminimalisir kesalahan dalam pembacaan slide, baik false negative (kuman ada tapi tak terbaca) maupun false positive (tersalah baca kuman debu/partikel lain sebagai kuman TB).
Kesimpulan
Pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) pada sputum merupakan metode diagnosing gold standard yang masih sangat relevan dan efektif digunakan di RSI Sakinah Mojokerto. Meskipun teknologi diagnostik cepat seperti GeneXpert MTB/RIF mulai berkembang, pemeriksaan mikroskopis BTA tetap menjadi pondasi karena biayanya yang terjangkau dan aksesibilitasnya yang luas.
Deteksi dini melalui pemeriksaan dahak yang akurat memungkinkan pemberian terapi OAT yang tepat waktu, mencegah resistensi obat, dan menyelamatkan nyawa pasien serta komunitas sekitar dari penyebaran Tuberkulosis. Kesiapan fasilitas laboratorium RSI Sakinah Mojokerto dalam menangani pemeriksaan ini menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan paru di Mojokerto.
