Dalam dunia medis, khususnya dalam manajemen cairan dan resusitasi, pemahaman mengenai jenis-jenis cairan infus sangat penting. Cairan infus umumnya diklasifikasikan menjadi dua golongan besar berdasarkan komposisinya, yaitu kristaloid dan koloid. Cairan koloid sendiri dibagi lagi menjadi dua kategori: koloid protein (contohnya albumin) dan koloid non-protein (koloid sintetis atau semisintetik).
Cairan koloid non-protein adalah larutan yang mengandung molekul-molekul besar (makromolekul) yang terlarut dalam air, namun molekul tersebut bukan terdiri dari protein asli manusia. Molekul ini umumnya berupa gelatin atau pati (starch) yang dimodifikasi secara kimia. Karena ukuran molekulnya yang besar, cairan ini tidak dapat dengan mudah menembus dinding pembuluh darah kapiler yang normal, sehingga bertahan lebih lama di dalam pembuluh darah dibandingkan dengan cairan kristaloid. Hal ini membuat cairan koloid non-protein sangat efektif untuk meningkatkan volume darah sirkulasi (volume ekspander) dan mempertahankan tekanan onkotik koloid-osmotik.
Seperti halnya koloid protein, cairan koloid non-protein bekerja berdasarkan prinsip tekanan onkotik. Tekanan onkotik adalah tekanan yang diperlukan untuk mencegah air keluar dari pembuluh darah ke jaringan interstisial. Dengan memberikan larutan yang memiliki tekanan onkotik tinggi, cairan ini "menarik" cairan dari ruang interstisial kembali ke dalam pembuluh darah sekaligus menahan cairan yang sudah ada di dalam vaskular untuk tetap berada di sana.
Dibandingkan dengan cairan kristaloid (seperti NaCl 0,9% atau Ringer Laktat) yang cepat tersebar ke seluruh ruang ekstraseluler, koloid non-protein memiliki waktu tinggal (half-life) yang lebih panjang di dalam sirkulasi darah. Artinya, volume ekspansi yang dicapai lebih sedikit secara kuantitas dibandingkan kristaloid dengan berat yang sama, namun efek peningkatan volume yang dihasilkan bertahan lebih lama.
Secara klinis, terdapat beberapa jenis cairan koloid non-protein yang sering digunakan. Masing-masing memiliki karakteristik, durasi kerja, dan efek samping yang berbeda. Jenis-jenis tersebut meliputi:
HES adalah salah satu cairan koloid non-protein yang paling sering digunakan secara global. Cairan ini terbuat dari amilum jagung atau kentang yang telah dimodifikasi secara kimia melalui hidroksietilasi. Modifikasi ini dilakukan untuk memperlambat pemecahan pati oleh enzim amilase dalam tubuh, sehingga dapat bertahan lebih lama di dalam pembuluh darah.
HES memiliki kemampuan ekspansi volume plasma yang baik. Namun, penggunaannya sangat kontroversial dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan HES dosis tinggi pada pasien kritis, seperti pasien dengan sepsis atau cedera ginjal akut, dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal, pruritus (gatal-gatal yang berkepanjangan), serta gangguan pembekuan darah. Oleh karena itu, penggunaan HES saat ini dibatasi dan harus sangat berhati-hati pada pasien dengan fungsi ginjal yang kompromi.
Gelatin adalah koloid non-protein yang berasal dari hidrolisis protein jaringan ikat hewan, biasanya kulit sapi atau tulang. Meskipun berasal dari protein, gelatin dikelompokkan sebagai koloid non-protein dalam konteks infus karena struktur kimianya telah diubah menjadi polipeptida dengan berat molekul lebih rendah dibandingkan albumin murni.
Kelebihan utama gelatin adalah efek samping yang relatif sedikit pada fungsi ginjal dibandingkan dengan HES. Namun, gelatin memiliki waktu tinggal dalam pembuluh darah yang cukup pendek dibandingkan HES, karena molekulnya lebih cepat diekskresikan melalui ginjal. Risiko utama penggunaan gelatin adalah reaksi anafilaktik (reaksi alergi berat) yang mungkin terjadi, meskipun insidensinya rendah. Selain itu, gelatin dapat mempengaruhi hasil perlintasan silang (cross-matching) darah karena dapat menyebabkan aglutinasi sel darah merah palsu.
Dekstran adalah polisakarida sintetik yang diproduksi oleh bakteri *Leuconostoc mesenteroides* tumbuh pada media sukrosa. Deksran tersedia dalam berbagai berat molekul, seperti Dextran 40 dan Dextran 70. Angka tersebut menunjukkan berat molekul rata-rata dalam kilodalton.
Dextran 40 memiliki viskositas yang lebih rendah sering digunakan untuk memperbaiki mikrosirkulasi dengan menurunkan viskositas darah dan mencegah sludge eritrosit (penggumpalan sel darah merah). Dextran 70 digunakan terutama sebagai pengganti plasma untuk mempertahankan volume sirkulasi. Namun, efek samping dekstran berupa gangguan pembekuan darah (karena mencegah agregasi trombosit) dan potensi reaksi hipersensitivitas membuat penggunaannya menurun dan digantikan oleh alternatif lain seperti HES atau gelatin.
Mengapa petugas kesehatan memilih koloid non-protein meskipun harganya jauh lebih mahal dibandingkan kristaloid? Berikut adalah beberapa alasan utamanya:
Walaupun memiliki banyak kelebihan, cairan koloid non-protein bukan tanpa kekurangan. Profil keamanan cairan ini harus dipertimbangkan dengan matang:
Cairan koloid non-protein umumnya digunakan dalam situasi-situasi gawat darurat seperti:
Cairan koloid non-protein merupakan modalitas penting dalam terapi cairan modern. Terdiri dari berbagai jenis seperti HES, Gelatin, dan Deksran, cairan ini menawarkan keunggulan dalam hal efisiensi volume dan durasi kerja dibandingkan kristaloid. Namun, risiko nephrotoxicity dan efek pada hemostasis memaksa klinisi untuk selektif. Saat ini, trend klinis cenderung mengarah pada penggunaan kristaloid sebagai pilihan pertama (first-line) dan koloid non-protein sebagai terapi tambahan (second-line) pada pasien yang spesifik dan terpilih, serta selalu memperhatikan protolo kesehatan terkini terkait penggunaannya.
